*Disampaikan Dalam Diskusi Buku “Mencari Maxisme” Karya Martin Suryajana Di Fakultas Filsafat UGM

Oleh: Ragil Nugroho

Marxisme merupakan filsafat gerakan. Logika Marx adalah logika gerakan. Dari pemahaman saya, sebagai filsafat dan logika gerakan, marxisme bersandar dari apa yang ada, bukan apa yang kita inginkan. Sebetulnya logika Marxis hanya sederhana, terdiri dari tiga hukum: kontradiksi, negasi dari negasi, dan perubahan kuantitas menjadi kualitas. Tapi ditangan Martin yang jenius ini, saya tak mengenali logika Marxis yang sederhana itu karena kepandaiannya mengolah tema dengan sangat canggih. Ulasannya begitu penuh dengan metafor-metafor yang elok sehingga membutuhkan suasana yang tenang dengan diiringi musik jazz atau blus, diselingi menyruput wine untuk bisa memasukkan inti sari pemikiran Marin ke relung sanubari yang paling dalam; jangan dibaca sambil mendengarkan dangdut koplo dan menenggak minuman oplosan karena akan menambah puyeng. Bagi saya yang dulu sempat belajar sekilas logika Marxis lewat contoh sepele seperti 1 kg gula, atau kayu yang dibakar menjadi abu, umpamanya, sangat tertatih-tatih untuk memahami uraian Martin dalam bukunya ini.

Tulisan pertama dalam buku ini, “Marxisme dan Kebaharuan”, sepenangkapan saya semacam maklumat bahwa tulisan-tulisan yang ada di dalamya bertujuan menjawab problem kelas menengah dan intelektual Kiri sekolahan yang mencoba/ingin menjadi Marxis. Jalan mana yang hendak ditempuh? Menghafal semua karya Marx atau menjadi aktivis dahulu agar bisa menjadi seorang Marxis? Kalau Stalin memulai debutnya menjadi Marxis dengan merampok bank, Martin menawarkan dua jalan menjadi Marxis: pertama, lewat rekontruksi besar-besaran terhadap Marxisme; kedua, menjalankan analis logis terhadap Marxisme. Dan, menurut Martin, jalan kedua yang lebih mudah untuk sampai ke inti ajaran Bapa Marx.

Seandainya saya ingin belajar Marxis, maka akan memilih berangkat dari pertanyaan: mengapa PKS bisa menjadi partai yang solid, mampu menempatkan kader-kadernya di legislatif maupun eksekutif? Sementara mengapa partai Kiri dari era Orba sampai sekarang hanya begitu-begitu saja? Dengan kata lain, kalau saya ingin belajar menjadi Marxis, saya akan belajar pada kader-kader PKS, bukan pada aktivis/intelektual Kiri. Dalam umur yang pendek ini, untuk apa membuang-buang waktu belajar pada pihak yang gagal membumikan Marxisme? Oleh sebab itu, saya memilih belajar kepada PKS untuk mencari Marxisme yang wangun.

Tulisan kedua “Kritik dan Emansipasi” dalam buku ini seperti kisah Ibrahim ketika hendak merobohkan berhala. Nah, berhala kelas menengah dan intelektual Kiri sekolahan bernama Goenawan Mohamad. Bagi Martin, Goenawan telah menyebabkan umat kelas menengah dan intelektual Kiri sekolahan menjadi tersesat. Oleh sebab itu, perlu dirobohkan. Untuk merobohkan, Martin memanggil kembali filsuf-filsuf mulai dari Kant, Adarno sampai Derrida dan yang lain. Mahasiswa filsafat semester satu akan senang dengan tulisan ini karena penuh dengan parade pemikiran-pemikiran filsuf. Istilah-istilah semacam “kedaifan”, “luddite”, tentu akan memakau laiknya pancaran batu permata; yang menggunakannya akan memperlihatkan posisi kejeniusan tertentu. Dan, kesenangan itu akan bertambah karena diajak menghajar Goenawan yang akhir-akhir dianggap sinis terhadap gerakan kelas menengah dan intelektual Kiri sekolahan yang sedang belajar mencintai orang miskin yang digusur di Kampung Pulo dan Pasar Ikan. Di sinilah lagi-lagi kepiawaian Martin mengubah logika Marxis yang sederhana tentang “kontradiksi” menjadi sebuah tulisan yang luar biasa. Sebuah pertanyaan sederhana, ketika kakimu diinjak kau mau ngapain? Di tangan Martin, jawabannya menjadi narasi yang dahsyat tentang bahaya laten Goenawanisme. Luar biasa. Dalam bahasa saya: wangun.

Tulisan “Marxisme dan Kebenaran” merupakan upaya pembuktian Martin bahwa Marxisme memang benar adanya. Sepenangkapan saya, pokok bahasan ini mengupas tiga akar Marxisme: materialisme historis (filsafat sejarah Marxis), ekonomi politik Marxis, dan sifat revolusioner dari Marxisme. Sekali lagi, ditangan Martin tema ini menjadi sangat menarik. Kita akan diajak pergi ke pegadaian/ bank untuk memberikan jaminan guna menguji bahwa Marxisme itu benar. Jaminannya ada dua: ilmu sosial Marxis dan filsafat Marxis. Dengan kedua jaminan itu petugas pengadian/bank tak akan berkutik sehingga mau tidak mau memberikan pinjaman berupa Marxisme yang kita inginkan.

Itu tadi contoh tulisan yang luar biasa dari Martin dalam Bab I. Sebetulnya saya ingin membahas semua, tetapi kerena waktu untuk membacanya sempit, tentu saya tak mampu melakukan. Tetapi percayalah, semua tulisan di Bab I luar biasa. Selepas membacanya, insyaallah akan bisa membuat sodara sodari menjadi Marxis yang kafah.

Tulisan berjudul “Marxisme dan Kritik Ekonomi Politik Suara” ini menarik dibaca bagi kelas menengah dan intelektual Kiri sekolahan yang sedang gandrung mengorganisir massa. Dulu prinsip mengorganisir massa cukup sederhana: lakukan penaklukan sosial. Senior saya di Pijar bernama Andi Munajat, misalnya, ketika melakukan kerja pengorganisiran cukup mengajak bermain catur. Orang yang akan diorganisir tak pernah diajak bicara politik, apalagi ekonomi politik Marxis. Sementara senior saya di Pijar lainnya yang bernama Antun Joko Susnono ketika melakukan penaklukan sosial di lingkungan preman di Klebengan, cukup diajak mabuk-mabukan. Karena setelah berbotol-botol hanya Antun yang tak roboh, maka preman-preman yang sebelumnya ganas itu, akhirnya tunduk. Saya sendiri juga tak paham, dengan cara pengorganisiran massa yang sederhana itu, mereka bisa membentuk organisasi-organisasi revolusioner; jenderal Syarwan Hamid kala itu menyatakan bahwa dari lagunya saja sudah dikenali kalau organisasi tersebut beridiologi komunis.

Tentu saja Martin tak memakai cara-cara sederhana tersebut untuk melakukan kerja-kerja pengorganisian massa. Kelas Martin bukan menjabarkan petunjuk teknis dalam mengorganisir seperti investigasi, memetakan persoalan, sampai kemudian melakukan aksi massa. Kelas Martin sebagai konseptor adalah memberikan landasan teoritis yang keren. Maka dihubungkanlah kerja pengorganisasian massa dengan prinsp ekokomi politik Marxis. Dari sinilah muncul istilah subtansi komoditas politik (massa), ukuran nilai komoditas politik (jumlah massa) dan lain sebagainya. Bila bisa mengolah massa dengan baik, maka bisa diubah menjadi suara. Sehingga tulisan ini pada akhirnya juga bisa dibaca oleh tim sukses dalam Pilkada/Pilpres agar bisa memenangkan suara massa untuk mendukung calon mereka. Sepengetahuan saya, hanya Martin yang bisa menghubungkan kerja-kerja pengorganisasian massa dengan ekonomi-politik. Sebuah terobosan yang jenius.

Itu salah satu contoh tulisan dari Bab II. Tentu tulisan-tulisan yang lain tak kalah kerennya. Insyaallah, bila membaca semua tulisan yang ada di Bab II, sodara sodori akan bisa menjadi haji ekonomi politik yang mabrur.

Tulisan “Membangun Rantai Intelektual Kiri” sepenangkapan saya adalah ulasan bagaimana intelektual-intelektual Kiri sekolahan diwadahi. Ya, semacam intelektual-intelektual sekolahan Kiri diwadahani dalam Indoprogress, misalnya. Mereka inilah para pandita yang berperan sebagai idiolog, yang dalam pembahasan Martin mempunyai dua fungsi, yaitu internal dan eksternal sekaligus. Ini merupakan terobosan baru dari Martin karena sepanjang pengetahuan saya, dalam konsep Marxisme lama tak dikenal adanya pewadahan bagi intelektual Kiri secara khusus karena setiap kader Kiri adalah intelektual dan organiser sekaligus [dan penjual koran partai tentunya]. Mungkin terobosan Martin ini untuk mengatasi kondisi intelektual-intelektual Kiri sekolahan yang mempunyai pengetahuan tentang Marxisme, tetapi karena kesibukannya, tak sempat kalau harus turun ke basis-basis buruh dan tani, misalnya. Mereka punya banyak waktu untuk diskusi dan menulis di cafĂ©-cafe, tetapi tak ada waktu untuk turba ke pabrik-pabrik. Usulan Martin ini memang berbeda dengan Mao. Bila Mao lewat revolusi kebudayaannya menyeret intelektual-intelektual dari kampus untuk terjun ke pertanian kolektif, industri baja, atau menjadi buruh pabrik manufaktur, misalnya, agar mereka menjadi bagian dari rakyat. Sementara Martin tentu tidak akan mengusulkan upaya sekeji dan sebiadab Mao itu. Masak intelektual Kiri sekolahan disuruh mencangkul di sawah atau menjadi buruh linting rokok. Maka jalan keluarnya diwadahi saja agar ilmu mereka menjadi amal jariyah.

Tulisan “Marxisme dan Propaganda” merupakan panduan untuk menjadi seorang propagandis yang jempolan. Martin memberikan 5 prinsip (di buku prinsip ke 4 nya dobel). Dalam penangkapan saya, seorang propagandis yang baik bagi Martin laiknya pengunjung perpustakaan yang tekun. Dia tahu dimana letak-letak berbagai macam buku sehingga ketika membutuhkan tinggal mengambilnya saja. Seorang propagandis mesti mempunyai pengetahuan tentang resep masakan sampai bagaimana cara mengatasi kesulitan membayar uang kost-kostan. Setelah menerapkan 5 prinsip itu dengan konsisten, insyaallah sodari sodari akan bisa membuat dedengkot FPI semacam Habib Rizieq akan berubah menjadi seorang Marxis.

Tulisan “Marxisme dan Artikulasi Politik” masih sebenang dengan persoalan propaganda, yakni bagaimana memberikan argumentasi yang tidak membosankan kepada kalayak luas. Sederhanya, pakailah bermacam variasi dalam bercinta agar tidak membosankan. Silakan pakai gaya apa saja yang jelas tujuannya satu: mencapai orgame Marxisme. Ditangan Martin tentu penjelasan jauh lebih menarik dibandingkan apa yang saya sampaikan itu. Lagi-lagi di sinilah kelebihan Martin dalam mengartikulasikan gagasanya sehingga bisa memuaskan kelas menengah dan intelektual Kiri sekolahan.

Itu tadi beberapa tulisan Martin dalam Bab III. Insyaallah, setelah membaca tulisan Martin di Bab III, sodara sodari akan menjadi seorang Marxis yang berada di jalan shirotholmustaqim, yaitu jalan yang diridhoi oleh Marxisme.

Tulisan “Wafat dan Kebangkitan Tan Malaka: Sebuah Kesaksian” dan “Goenawan Mohamad dan Politik Kebudayaan Liberal Pasca 1965″, lagi-lagi merupakan tulisan Martin tentang Goenawan Mohamad. Mungkin bagi Martin, Goenawan merupakan figur yang penting sehingga dalam buku ini ada tiga tulisan tentang bos Tempo itu. Tulisan pertama membahas manipulasi terhadap sosok Tan Malaka, tulisan kedua mengulas tentang peranan Goenawan dalam politik kebudayaan pasca 1965. Sebagai sumber kemaksiatan (sebagaimana miras bagi FPI), bagi Martin pemikiran Goenawan perlu dicabut dari lapangan kebudayaan. Menurutnya, lewat Goenawan ini nadi kebudayaan imperlialis berwujud humanisme universal terus menerus disebarkan. Kita patut berterima kasih kepada Martin karena konsisten melawan sang durjana kebudayaan bernama Goenawan Mohamad. Dengan begitu kita bisa berharap kebudayaan Marxis tak akan menemukan rintangannya lagi.

Itu tadi beberapa tulisan dari Bab IV. Bila sodara sodari bisa memahami dan mengalamalkan tulisan-tulisan di bab tersebut, insyaallah sodara sodari bisa menjadi budayawan Marxis sekaliber Pramoedya Ananta Toer.

Tulisan “Penemuan Kembali Marxisme Kita” merupakan tulisan penutup dari buku Martin yang luar biasa ini. Martin menganjurkan agar kelas menengah dan intelektual Kiri sekolahan melupakan segala pengetahuan tentang Marxisme yang selama telah dikenal. Sarannya, mulailah dari nol untuk membahas Marxisme agar bisa menemukan Marxisme yang baru. Dari situlah laku Mencari Marxisme itu akan bisa menemukan Marxisme yang selama ini hilang.

Itulah yang bisa saya ulas dari buku Mencari Marxisme. Dari pembacaan saya, Marxisme tidak perlu dicari dalam persoalan perempuan, sehingga tak ada pembahasan, misalnya, Marxisme dan Perempuan, atau Menjadi Perempuan Marxis Yang Paripurna.

Bila dalam tradisi Islam patokan bagi umat adalah Al Qur’an dan Hadist, bisa dikatakan bahwa buku Martin ini merupakan kumpulan hadist shahih Buchari yang kevalidannya sudah diverifikasi. Maka saya menganjurkan untuk membaca buku ini agar sodara sodari bisa menemukan Marxisme dan keluar dalam wujud baru sebagai seorang Marxis yang wangun. Semoga Marxisme yang hilang itu lekas ditemukan setelah buku Martin terbit sehingga tak disibukkan lagi oleh persoalan mencari-cari Marxisme.

Akhirnya, bila ada salah kata datangnya dari saya, semua kebenaran hanya bersumber dari Tuhan semata. Terimakasih.***

Lereng Merapi. 11.04.2016


Akhir-akhir ini menyeruak lagi istilah “komunis gaya baru”. Istilah ini pernah tren di era Orde Baru yang dilekatkan pada gerakan politik dan massa yang menyerang rezim kapitalis militeristik Suharto. Kalau ingat wajah Syarwan Hamid, maka akan mudah mengingat istilah “komunis gaya baru”. Tapi istilah “komunis gaya baru” yang muncul akhir-akhir ini tentu beda makna dengan istilah yang muncul di era Orde Baru itu. Sebelum mengulas makna “komunis gaya baru” yang muncul akhir-akhir ini, tentu perlu dijabarkan dulu seperti apa “komunis gaya lama”, sebagai pembanding.

“Komunis gaya lama” tentu merujuk pada PKI [Partai Komunis Indonesia]. Partai ini memang revolusioner, baik dalam ideologi maupun tindakan. Sebagai kekuatan revolusioner, partai inilah yang pertamakali memperkenalkan metode radikal dalam melawan penjajah, yakni lewat pemberontakan. Maka meletuslah pemberontakan tahun 1926/27. PKI pula yang dengan tekun melakukan pengorganisiran terhadap kaum buruh dan kaum kromo. PKI pula yang memperkenalkan koran sebagai alat propaganda dan pengorganisiran. PKI pula yang kader-kadernya tekun berada di tengah rakyat. Tak mengherankan kalau mereka paham problem rakyat mulai wabah tikus sampai persoalan politik kekuasaan.

Setelah kemerdekaan, PKI semakin berkembang. Dibabat oleh Hatta dan Amerika Serikat pada tahun 1948, PKI mampu bangkit dan menjadi empat besar dalam Pemilu 1955. Semua itu tentu bukan karena kerja semalam, tapi proses yang panjang. Diantara partai-partai politik, kader-kader PKI sudah terbukti militansinya. Tak mengherankan kalau PKI mempunyai ormas-ormas dalam gerakan buruh, tani, mahasiswa, perempuan sampai kebudayaan. Mereka juga mampu menempatkan kader-kadernya di eksekutif maupun legislatif. Karena kuatnya, tak mengherankan kalau hanya aliansi antara tentara dan kekuatan Barat yang bisa menghancurkan PKI. Perlu kekuatan blok imperialis yang terlibat dalam Perang Dunia II untuk melawan kekuatan PKI. Ini memang luar biasa.

Sekarang kita bahas “komunis gaya baru”. Jangan membayangkan “komunis gaya baru” yang sering disebut-sebut akhir-akhir ini sebuah partai/organisasi revolusioner semacam PKI. Yang dimaksudkan “komunis gaya baru” oleh kekuatan konservatif dan reaksioner sebetulnya hanyalah sekumpulan orang-orang yang dulunya Kiri kemudian mengalami demoralisasi dan kemudian mengabdi pada LSM-LSM dengan dana dari Barat. Jangan membayangkan senjata mereka aksi massa dalam sekala besar dan koran partai, tapi selembar dua lembar proposal kegiatan untuk “mengkomoditaskan” Kiri. Jangan membayangkan mereka ada di tengah-tengah kaum buruh, tani, kaum miskin kota hingga kalangan seniman. Jangan membayangkan mereka ada di tengah-tengah aksi buruh dan tani yang membesar akhir-akhir ini. Kalau ingin mengetahui keberadaan mereka silakan sisir kafe-kafe yang ada di seputaran Ibu Kota. Jangan mencari mereka di kawasan buruh di Priok, Cakung, Bekasi, tapi carilah di Starbucks. Oleh sebab itu, untuk menggertak mereka cukup polisi dari polsek, tak perlu tentara yang beraliansi dengan Barat seperti untuk mengalahkan PKI. Jangan heran kalau “komunis gaya baru” sudah lari tunggang langgang menghadapi polisi dari polsek dan demo tandingan yang masanya hanya sebiji itu. Memang tak perlu diherankan karena “komunis gaya baru” ini tak mempunyai kekuatan selain surat pernyataan sikap dan lolongan di media sosial, toh mereka tak pernah melakukan kerja-kerja pengorganiran massa rakyat.

Dengan kenyataan seperti di atas, sebetulnya isitilah “komunis gaya baru” yang disematkan oleh kelempok konservatif nan reaksioner itu melecehkan istilah “komunis” yang agung itu. Mereka telah memberi nama pada boneka Berbie dengan nama Raja Hutan. Lebih tepat disebut pseudo Kiri atau “Kiri proposal” atau “kiri menjual Kiri” atau “Kiri kafe”. Slogan mereka bukan “Kaum buruh seluruh dunia bersatulah”, tapi “Para funding seluruh dunia bersatulah”.

Harus kita akui, Syarwan Hamid lebih tepat memberikan istilah “Komunis gaya baru” pada gerakan perlawanan era Orba dibandingkan kelompok konservatif reaksioner itu.***


*) Aktivis Anti Istilah “Komunis gaya baru”


Dalam catatan kaki untuk tulisan The Gost of Stalin, Sartre menulis begini: “Propaganda borjuis dengan sangat cerdik menekankan kenyataan bahwa tokoh tokoh masyarakat yang prestesius dalam kegiatan kemasyarakatan mereka, mimiliki kehidupan kehidupan pribadi yang sangat biasa, persis seperti orang kebanyakan lainnya.” Kata-kata Sastre tersebut akan menerang jelaskan kenapa foto Jokowi memakai sarung yang sedang bersantai di Raja Ampat disebar luaskan media borjuis secara luas. Jokowi sebagai kepala suku rezim borjuasi yang sedang berkuasa saat ini terus menerus berusaha digambarkan media media borjusi seperti yang dikatakan Sartre: “[Jokowi] persis seperti orang kebanyakan lainnya.” Makna kata “kebanyakan lainnya” adalah rakyat biasa.


“Sarung” dalam kajian Barthes adalah bagian dari sintagma berpakaian. Sama dengan “celana panjang”, yakni sebagai penutup tubuh bagian bawah. Secara fungsional seperti itu, tapi secara ideologis bermakna lebih luas. “Sarung” dalam masyarakat Indonesia biasa dipakai oleh masyarakat dalam kehidupan sehari hari. Maka dengan memakai “sarung”, secara ideologis Jokowi ingin diperlihatkan bahwa dirinya tak beda dengan warga Indonesia yang lain. Dengan begitu diharapkan muncul gambaran Jokowi sama dengan si Suto petani di Kulonprogo, tak berbeda dengan si Panjul buruh di Bekasi, atau tak ada bedanya dengan si Tigor sopir metromini di terminal Kampung Melayu. Sederhanya, Jokowi ditampilkan merakyat.


Sementara dalam keagamaan, “sarung” merupakan petanda umat Muslim. Sebagian besar umat Muslim di Indonesia memakai sarung ketika menjalankan ibadah. Dengan memakai “sarung” berlatar fajar yang merekah di Raja Ampat, Jokowi ingin ditampilkan sebagai Muslim yang taat beribadah. Orang-orang yang melihat foto itu diarahkan untuk memiliki gambaran bahwa setelah menjalankan salat Subuh [dengan memakai "sarung"], Jokowi langsung jalan-jalan ke tepi pantai di Raja Ampat. Kesan ini akan berbeda ketika Jokowi memakai celana sport, misalnya. Bila itu yang dipakai, Jokowi akan terkesan sehabis olah raga langsung pergi ke pantai. Lantas orang akan bertanya: apakah Jokowi tak subuhan karena sepagi itu sudah nongkrong di tepi pantai? Dengan memakai “sarung” pertanyaan itu tak akan muncul.


Tapi pencitraan dengan memakai “sarung” dirasa belumlah cukup untuk mencitrakan bahwa Jokowi “persis seperti orang kebanyakan lainnya.” Maka Sastre melanjutkan catatan kakinya dalam The Gost of Stalin. Ia menulis sebagai berikut: “Mereka [pimpinan borjuis] diperlihatkan pada saat berada di rumah, ketika menunggu detik-detik pergantian Tahun Baru bersama istri mereka (dengan sebuah pesta kecil yang sangat sederhana) atau saat sedang bermain dengan anak-anak mereka.”


Maka Papua dipilih sebagai tempat pesta Tahun Baru keluarga Jokowi. Pilihan ini untuk memperlihatkan Jokowi merayakan Tahun Baru dengan masyarakat Papua yang masih sederhana hidupnya. Akan beda kesan yang muncul bila Jokowi menikmati pesta Tahun Baru di Istana di Jakarta. Dengan memilih tempat di Papua, orang akan menilai bahwa Jokowi orang yang sederhana, merayakan penghujung tahun bersama keluarga di tempat sederhana, justru menjauh dari kemewahan Istana.


Dengan memakai “sarung” dan pesta Tahun Baru yang sederhana, samakah Jokowi dengan kehidupan si Suto, si Panjul dan si Tigor? Tentu saja beda. Sederhana saja. Jokowi tak perlu puyeng memikirkan cara membeli sarung. Semua sudah disediakan. Tinggal pakai [mungkin suatu saat Jokowi akan menampilkan dirinya sedang membeli "sarung" di pasar Klewer agar terkesan seperti orang kebanyakan]. Beda dengan si Suto, si Panjul dan si Tigor. Mereka harus berpikir sebelum membeli sarung. Apakah uangnya akan digunakan untuk membeli sarung, atau digunakan untuk makan sehari hari, atau untuk biaya sekolah anak anak mereka, misalnya. Sebelum membeli mereka harus mempertimbangkan ini itu karena keuangan yang terbatas. Bedanya lagi, untuk bisa duduk santai sembari memakai “sarung” di tepi pantai Raja Ampat, Jokowi tak perlu berpikir macam macam. Semuanya sudah disiapkan oleh pegawai keprisidenan. Jokowi tak perlu memikirkan berapa biaya perjalanan Jakarta-Papua, naik apa ke sana, tidur di mana, dan lain sebagainya. Sementara untuk si Suto, si Panjul, si Tigor, untuk bisa menikmati fajar di Raja Ampat tentu harus banyak yang dipikirkan. Mereka orang orang biasa yang tak memiliki fasilitas apapun.


Tentu saja ada 1001 satu perbedaan Jokowi dengan rakyat kebanyakan walaupun dirinya sudah berusaha tampil seolah olah seperti rakyat kebanyakan. “Sarung” yang dipakai Jokowi hanya tipuan semata. Mau memakai “sarung” dan bersandal jepit, Jokowi tetap seorang borjuasi yang bertugas memimpin penghisapan terhadap rakyat Indonesia. Seekor srigala akan tetap menjadi srigala walaupun ia berbaju bulu domba.***


Lereng Merapi. 03.01.2016sarung


 Saya punya teman, namanya Ignas Kleruk Mao. Asalnya dari Flores. Dulu masih kurus kerempeng, sekarang sudah seperti Mike Tyson. Tapi tentu bukan tentang tubuhnya yang ingin saya tuliskan, melainkan tentang pengalamannya di krangkeng karena dianggap menghina presiden.


Sebagai anggota LMND [Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi] DIY, Ignas mendapat tugas membantu pengorganisiran buruh dan mahasiswa di Surabaya. Berangkatlah dia ke Surabaya bersama aktivis mahasiswa Yogya lainnya. Saat itu bertepatan dengan kebijakan Rezim Mega menaikkan BBM/TDL. Sikap LMND dan PRD dengan tegas menolak. Maka digelar demonstrasi diberbagai kota.


Tentu saja di Surabaya aksi digelar. Ignas yang berada di Kota Pahlawan itu ikut aksi. Sebagai bentuk protes, para demonstran membakar foto Mega dan Hamzah Haz. Karena aksi ini semakin memanas dan terjadi di berbagai kota, rezim Mega panas juga. Apalagi fotonya diinjak injak dan dibakar. Aparat kepolisian kemudian diperintahkan untuk melakukan tindakan represif terhadap demonstran. Ignas salah satu yang ditangkap.


Sebetulnya Ignas tidak membakar foto presiden maupun wakilnya. Tapi Ignas membawa wayang-wayangnya berbentuk Mega. Tentu saja yang membuat wayang-wayangan ini bukan profesional sehingga hasilnya tak mirip aslinya. Mega yang dalam kenyataannya gemuk, dalam wayang-wayangan yang dibawa Ignas langsing seperti J-Lo. Mungkin inilah yang dianggap menghina presiden: Mega yang gemuk gombyor-gombyor digambarkan langsing seperti J-Lo. Bukankah itu penghinaan? Makanya Ignas ditangkap pada tanggal 21 Mei 2002.


Sebelum Ignas ditangkap, pada 13 Mei 2002, digelar aksi serupa. Pada saat ini patung Mega sebesar gajah dibakar sebagai protes terhadap rencana kenaikan BBM/TDL. Sebetulnya bukan pembakaran itu yang membuat rezim Mega marah. Sebabnya lagi-lagi patung Mega tersebut dikerjakan secara serampangan. Gemuknya sudah pas, tapi bagian payudara dan pantatnya dibuat kekecilan. Tentu saja membuat orang yang dipatungkan marah: masak payudara sebesar semangka cuma digambarkan sebesar jeruk keprok. Bukankah itu penghinaan? Maka sejak itu PRD/LMND diincar. Dan, puncaknya penangkapan Ignas.


Setelah proses di polisi selesai, Ignas diajukan ke pengadilan. Akhirnya divonis satu tahun penjara. Selama waktu itu ia mendiami penjara Medaeng.


Pelajaran dari kasus Ignas tersebut, kalau menggambarkan sosok presiden harus tepat. Jangan misalnya membuat wayang-wayangan Jokowi tapi bentuknya seperti Van Dam. Itu bisa dianggap menghina presiden.


Tentu saja bukan hanya Ignas yang ditangkap karena dianggap menghina presiden. Di Yogya ada Mahendra, aktivis LMND dan Yoyok, aktivis SPI [Serikat Pengamen Indonesia]. Mereka ditangkap setelah aksi di Bunderan UGM. Dalam aksi tersebut foto Mega dan Hamzah Haz si Peci Miring dibakar. Kedua aktivis tersebut kemudian di bawa ke Polres Sleman. Sebetulnya Mahendra tidak membakar, tapi karena yang memimpin aksi, ikut ditangkap juga.


Prosesnya sudah klise. Setelah proses di polisi selesai kemudian diajukan ke pengadilan. Nah, di pengadilan ini yang seru. Kedua aktivis tersebut kena pasal menghina kepala negara, tapi lagi lagi lewat pledoi, mereka kembali melakukan penghinaan. Kebetulan pledoi tersebut saya yang tulis. Isinya yang 70 halaman memang menghina rezim Mega. Maka hakim pun tak kuat ketika pledoi dibacakan. Baru halaman 10, hakim mengetok palu, memerintahkan agar pembacaan pledoi dihentikan. Akhirnya, setelah berbulan-bulan diadili, keduanya dijatuhi hukuman 3 tahun penjara. Inilah hukuman terlama pasca reformasi dikenakan pada aktivis dianggap menghina presiden.


Rezim Mega tak hanya menggunakan pasal penghinaan untuk menghentikan demonstrasi mahasiswa. Tapi juga dengan teror. Kejadian yang akan saya ceritakan ini terjadi di jembatan Sayegan. Sepulang aksi di perempatan kantor pos Yogyakarta, Paulus Suryata Ginting, aktivis LMND, membonceng saya. Pelan pelan saja sepeda motor melaju. Santai sembari menikmati udara Yogya. Tiba-tiba, sampai di jembatan Sayegan, sekelebat saya lihat sepeda motor memepet kami. Tanpa bilang apa-apa, yang dibelakang mengayunkan benda (ternyata golak) ke kepala saya. “Prok”, helm yang saya gunakan pecah dua. Kontan saja, melihat diserang, saya lompat dari sepeda motor. Setelah itu pembacok tadi mengayunkan goloknya ke Paulus. Helmnya juga pecah. Ternyata kepala berdarah-darah. Saya sendiri merasa beruntung, walaupun ditebas pakai golok, tidak luka seincipun. Sebetulnya, sebelum peristiwa ini, saya sudah pernah dibacok preman bayaran. Kejadiannya pada tahun 1999 di sekre PRD Yogyakarta. Malam hari kejadiannya. Tiba-tiba segerombolan orang menyerang. Saya yang dekat dengan pintu sehingga melihat penyerang datang, teriak kalau ada penyerangan, sehingga yang di dalam rumah berhamburan menyelamatkan diri lewat pintu belakang. Saya yang berada paling belakang tak sempat menyelamatkan diri. Pada akhirnya punggung saya kena tebasan golok. Mau tidak mau saya berbalik. Ketika golok dianyunkan lagi, saya tangkis. Dua bacokan mengenai tangan. Entah kenapa si pembacok tiba tiba kabur. Maka selamatlah saya. Kalau pembacok tidak kabur, mungkin diri saya tinggal nama.


Akhirnya Paulus yang terluka parah kepalanya di bawa ke rumah sakit Panti Rapih. Dokter harus menjahit 30 jahitan untuk menghentikan pendarahan. Paulus pun akhirnya bisa diselamatkan.


Teror-teror seperti itu tak berhenti. Setelah Paulus kepalanya ditebas golok, beberapa waktu berselang sekretariat PRD/LMND Yogya dilembari bom molotov. Kejadiannya malam hari. Saat penghuni sedang bersantai, segerombolan orang melempar bom molotov. Tentu saja para penghuni rumah panik. Berhamburan menyelamatkan diri. Setelah penyerang pergi, baru diketahui sepeda motor yang di parkir di halaman depan dihancurkan dengan golok. Sebab musabab penyerangan itu tentu saja berkaitan dengan demonstrasi melawan kebijakan rezim Mega.


Tentu saja yang ditangkap dan diteror tidak hanya di Yogya. Di kota-kota lain seperti Semarang, Jakarta, Palu, dll. Rata rata yang diajukan ke pengadilan dihukum 6 bulan sampai 1 tahun. Tentu saja yang dikenakan pada mereka karena menghina kepala negara.


Kisah ini saya angkat kembali untuk mengingat masa ketika rezim Mega/PDIP berkuasa. Dan sekarang mereka berkuasa kembali. Maka tak mengherankan kalau pasal penghinaan akan dihidupkan lagi. Semua itu tak mengejutkan karena iman demokrasi yang dimiliki PDI P setipis rambut dibelah seribu. Ya: Menitipkan kekuasaan pada PDIP seperti menitipkan dendeng pada anjing.


Dan, untuk menghadapi situasi ini pilihannya hanya dua: diam takluk, atau bangkit melawan.***


Lereng Merapi. 10.08.2015




Cerita tentang kebaikan Stalin tak selalu mengenakan. Kalau Puan dan Tuan mengehendaki kisah kisah kekejaman Stalin atau semacamnya–seperti propaganda buku buku sejarah zaman Orba–silakan tak melanjutkan membaca tulisan ini: tak akan menggembirakan.


Pembaca yang Budiman, kalau kita membuka lembaran awal Faust karya Johann Wolfgang von Goethe (sering disebut Goethe saja), akan segera bersitatap dengan Mephistopheles. Ia sosok Iblis dalam karya tersebut.


Pada dasarnya setiap Iblis selalu kurang ajar dan urakan. Pun, dengan Mephistopheles. Bagaimana tak urakan, ia menatang Tuhan taruhan. Nah, sosok Mephistopheles inilah yang dilekatkan pada diri Stalin. Siapa yang melekatkan?


Pertama, tentu saja sejarawan Barat yang anti Stalin dan Sosialisme. Buku buku semacam ini sudah banyak beredar. Silakan pilih sendiri. Kedua, tentu saja Trotski. Rasa tak senang Trotski kepada Stalin memang tak terobati. Gagal menggantikan Lenin, sampai malaikat kematian menjemputnya, Troski terus menerus menyerang Stalin. Tentu saja dengan mengiba iba ia menulis beberapa pamlet murahan guna membasuh lukanya tersingkir dari Partai Komunis Uni Soviet [pamlet murahan Trotski banyak ditejemahkan oleh salah satu penerbit gurem di Yogyakarta; yang karena mungkin tak laku sering diobral murahan juga diberbagai pameran].


Tapi bagaimana sikap Stalin sendiri terhadap segala fitnah Trotski? Stalin tidak pernah membenci Trotski. Paling tidak dua kali Stalin membela Trotski. Begini ceritanya sebagaimana dibabarkan oleh Robert Gellately dalam bukunya “Lenin, Stalin and Hitler: The Age of Social Catastrophe” [sebetulnya buku ini ditujukan untuk menampilkan kebengisan Lenin dan Stalin, tapi ada fakta menarik yang justru memperlihatkan kematangan kedua orang tersebut dalam berpolitik]:


Setelah tujuh tahun perang sebelum Revolusi Oktober 1917, Lenin memperkenalkan program baru yang dikenal dengan sebutan New Economic Policy [NEP]. Program ini disampaikan pada pidato di Kongres Partai Kesepuluh pada bulan Maret 1921. Dalam pidatonya Lenin mengatakan: “Di negara terbelakang ini, para pekerja, yang telah melakukan pengorbanan sangat besar, dan para petani sedang kehabisan tenaga. Yang saat ini dibutuhkan adalah kesempatan pemulihan ekonomi.”


Program Lenin dianggap kemunduran bagi kaum dogmatis dengan bengolannya Trotski. Bagi Trotski, program Lenin dianggap melemahkan karena mengerem revolusi yang sedang pasang. Menurut Trotski dan para bigotnya, seharusnya revolusi dilanjutkan dengan membabat musuh musuh revolusi dan segera menciptakan masyarakat komunis.


Tapi Lenin sebagai ahli taktik jempolan yang selalu bersandar pada kondisi objektif, tetap berdiri pada program NEP yang kemudian disahkan sebagai program PKUS. Tak terima dengan itu, Trotski membentuk faksi dalam Partai. Langkah ini mendaptakan reaksi keras dari PKUS. Sebuah pertemuan Komite Sentral pada tanggal 23 Oktober 1923 [Lenin masih hidup] untuk menanggapi sikap Trotski. Dari 102 anggota yang hadir setuju memberikan teguran keras kepada Trotski, 2 anggota tak setuju, dan 10 orang abstain. Bahkan Kamenev dan Zinoview mengusulkan agar Trotski dipecat, dan beberapa anggota lain mengusulkan penangkapan kepada Trotski. Tapi ada yang membela Trostki. Siapa dia? Tak lain Stalin.


Stalin meminta agar Trotski tak dikeluarkan dari partai. Usul Stalin diterima oleh anggota Komite Sentral. Trotski tetap berada dalam PKUS. Tapi Trotski termakan egonya sendiri. Seperti dalam surat wasiat Lenin yang didektekan kepada sekretarisnya, Lydia Fotieva, Lenin menyebut Trotski sebagai anggota Partai yang memperlihatkan “rasa percaya diri yang berlebihan.” Sikap congkak itulah yang menjungkalkan Trotski. Ia justru mempublikasikan ketidaksetuannya terhadap NEP untuk mendapatkan kepopuleran pribadi. Inilah yang menjadi palu godam bagi Trotski.


Pada kongres PKUS kesebelas pada bulan Januari 1924 [Lenin masih hidup], secara nyaris bulat hasil voting memutuskan Troskisme merupakan penyimpangan borjuis kecil terhadap ideologi komunisme PKUS. Lebih parahnya lagi, ketika posisinya sudah sedemikian terpojok, lagi lagi karena kecongkokannya, merasa dirinya banyak mempunyai pengikut, Trotski tak menghadiri pemakaman Lenin yang meninggal pada 24 Januari 1924. Ketikdakhadiran Trotski dalam pemakaman Lenin pada tanggal 27 Januari dengan alasan anak sekolah yang malas: sakit; telah menebalkan anggapan Trotski memusuhi Lenin. Dan, itulah patok terlemparnya Trotski dari PKUS.


Selama ini kaum Troskis selalu melemparkan fitnah bahwa Stalinlah yang menyingkirkan Trotski. Fakta yang diungkap oleh Robert Gallately [secara tak sengaja] telah membongkar dusta kaum Trotskis; Trotski mulai tersingkir dari PKUS ketika partai itu masih dipimpin oleh Lenin, bukan pada masa Stalin [yang bahkan membela Trotski ketika hendak didepak dari Partai].


Stalin memang selalu dituduh otoriter dan tak demokratis oleh bigot-bigot Trotski. Tapi contoh berikut ini meluluhlantakkan tuduhan itu.


Cerita ini disampaikan oleh Ignazio Silone [salah satu pendiri Partai Komunis Italia, juga seorang sastrawan] dalam buku “The God that Failed”. Pada Mei 1927 ia menghadiri sidang luar biasa Eksekutif Internasionale. Salah satu agenda pertemuan adalah pembahasan resolusi berisi kutukan terhadap Trotski karena dianggap kontra revolusi. Saat itu Trotski membuat buklet berjudul “Problem of the Chinese Revolution”, berisi kritik kebocah bocahan terhadap anjuran Stalin agar Mao berkerjasama dengan Chiang Kai Shek. Layaknya aktivis Kiri baru yang masih dangkal pemikirannya, Trotski menganggap tak dibenarkan elemen Kiri bekerjasama dengan borjuasi semacam Chiang Kai Shek.


Resolusi mengutuk Trotskis ditawarkan untuk disetujui oleh peserta sidang Eksekutif Internasionale. Terjadi perdebatan alot. Ketika hendak diputuskan Stalin berkata: “Jika ada satu delegasi saja yang mentang usulan resolusi, maka resolusi tak akan disampaikan [dalam sidang pleno Internationale].” Delegasi Italia [di dalamnya terdapat Ignazio Silone] masih ragu ragu. Rapat ditunda sampai esok hari.


Esok paginya rapat Eksekutif dimulai. Stalin mengulangi kata katanya: “…Sebuah resolusi menentang Trotski hanya bisa ditetapkan dengan suara bulat. Apakah kamerad kamerad dari Italia kita mendukung usulan resolusi ini?” Perwakilan dari Italia, Prancis dan Swiss masih ragu ragu. Karena tak ada suara bulat, Stalin berujar: “Usulan resolusi ditarik.”


Lantas di manakah letak ketidakdemokratisan Stalin seperti yang selalu diteriakkan bigot bigot Trotskis? Kalau Stalin otoriter, sebagai pimpinan Soviet saat itu, tentu ia tak peduli dengan keragu raguan perwakilan Italia, Prancis dan Swiss. Fakta memperlihatkan: Stalin memilih menarik usulan resolusi tersebut karena tak ada suara bulat. Seandainya dilakukan voting, tentu Stalin akan menang. Tapi ia memilih suara mufakat daripada voting.


Begitulah cara Stalin menghadapi perbedaan pendapat. Masih percaya pada bigot bigot Trotskis tentang Stalin? Semoga Tuhan menghindarkan kita dari kebodohan dan kedunguan para bigot Trotskis. Amin. ***


Lereng Merapi. 03.06.2015


 


Saya mengikuti pepatah Latin: “Verba volant, scripta manent” [yang terucap akan lenyap, yang tertulis akan abadi]. Kisah ini sederhana, tapi saya tulis biar terkenang.


Kisah kali masih carangan dari “Noktah Merah PRD”. Kalau dalam serial sebelumnya tentang Pak Kenthu, kali ini Panjal muncul lagi. Kisahnya terjadi sekitar tahun 1999. Lokasinya di sebuah wisma di Kaliurang, Jogja.


Saat itu berlangsung kongres PRD [Partai Rakyat Demokratik]. Entah yang keberapa. Biar sejarawan yang mencarinya. Yang jelas, kongres ini dilakukan setelah PRD babak belur dalam Pemilu 1999. Begini kisahnya:


Saat kongres tersebut Panjul mendapatkan tugas sebagai keamanan dalam. Dia di bawah arahan langsung Kolonel Hanafi, koleganya di Jabotabek dan sekaligus teman nyimeng. Tugas yang berwibaya tentunya. Sebagai anak Betawi yang bercita-cita sebagai tukang insiyur, Panjul beralih jadi tukang keamanan.


Satu hari menjelang kongres, dalam perjalanan dari Jakarta-Jogja dengan mobil, Panjul tak sempat tidur sekejap. Pasalnya oleh Kolonel Hanafi dia diprasahi menjaga Pak Kenthu, tokoh penting dalam PRD. Inilah mengapa ketika sampai di arena kongres, dia langsung terlelap seperti bangkai. Mungkin dalam tidurnya ia mimpi ngencuk dengan Caturwangi.


Saat Panjul terlelap, kongres dimulai. Tentu saja pembahasan pertama tentang tata tertib. Terjadi perdebatan yang seru antara Pieter Segawoncun dengan Tikus Botak [TeBe] sebagai kepala sidang. Perlu diketahui TeBe baru lepas dari penjara Cipinang. Lepas dari penjara, ia mendapati dunia telah berganti rupa menjadi liberal. Inilah yang membuatnya puyeng. Maka ketika memimpin sidang, TeBe berlaku seperti Hitler yang pulang kampung: otoriter udik.


Karena Pieter Segawoncun terus saja berkicau, TeBe naik pitam. Ia perintahkan almarhum Iqbal [semoga Tuhan menerima di sisiNya] menangkap Segawoncun. Tubuh Igbal yang berotot membuat Segawoncun tak berkutik. Seperti pesakitan, Segawoncun dimasukkan ke ruang isolasi.


Tentu saja peserta kongres yang lain sempat kaget. Baru kali dalam kongres PRD peserta kongres ditangkap keamanan. Memang ada kata “demokratik” dalam nama PRD. Tapi sejarah mencatat, satu kali kongres PRD seperti kongres Pemuda Pancasila, bar-bar dan jauh dari aroma kongres partai kiri.


Merasa bingung dengan situasi kongres, Caturwangi mencari-cari Panjul, kekasihnya yang sekaligus ketua keamanan dalam. Setelah mencari sana sini, akhirnya Caturwangi menemukan Panjul sedang ngorok. Digoyang-goyang, Panjul tak bangun. Baru setelah anunya dikilik-kilik dengan lidah Caturwangi yang ada tindiknya, Panjul tergeragap bangun.


Panjul yang masih linglung mendengarkan cerita Caturwangi bahwa Segawoncun ditangkap oleh anak buah Panjul. Panjul hanya melem melek karena batangnya dielus-elus oleh tangan Caturwangi. Setelah Caturwangi pergi, ia tertidur lagi.


Belum sempat seperempat jam tidur, ruangan tempat Panjul tidur kembali digedor-gedor oleh Orson. Kali ini giliran Orson yang melapor bahwa Andi Ambon ditangkap keamanan. Masalahnya, saat registrasi kepersertaan, Andi Ambon tak jelas mewakili sektor apa. Selama ini dia berada di sektor Kaum Miskin Kota, tapi saat kongres sektornya sudah diwakili oleh Antun. Keamanan kongres, atas intruksi Kolonel Hanafi dan TeBe, akhirnya menangkap Andi Ambon karena tidak bisa menunjukkan surat tugas. Ia pun digelandang ke ruang isolasi, satu sel dengan Segawoncun.


Setelah menerima pengaduan Orson, Panjul tidur lagi. Ternyata belum sempat lima menit lelap, ruangannya digedor-gedor lagi. Setelah dibuka ternyata di luar sudah ada wajah Orson dan Caturwangi. Keduanya protes lagi. Ada 3 peserta kongres ditangkap lagi oleh keamanan. Sebab musabnya, mereka belum membayar uang registrasi. Ketiganya di jebloskan ke ruang isolasi. Sekarang ada 5 orang yang dikrangkeng atas intruksi Kolonel Hanafi dan TeBe. Bisa dikatakan, keduanya seperti pasangan Musolini dan Hitler, menjebloskan orang ke sel isolasi.


Setelah Orson dan Caturwangi pergi, Panjul molor lagi. Baru sore hari dia bangun. Setelah mandi dan gosok gigi, Panjul mendatangi ruang isolasi. Betapa terkejutnya Panjul, 5 orang yang diisolasi pucat pasi. Ternyata seperti tahanan Yahudi, dari pagi mereka tak diberi makan dan minum.


Panjul segera menemui Kolonel Hanafi dan TeBe. Ia protes terhadap aksi penangkapan itu dan tak diberi makan. Dengan sinis TeBe berkata,”Ah, lu. Setelah dikasih meki oleh Caturwangi jadi takut dengan disiplin partai.” Akhirnya, setelah Panjul bersedia menjadi jaminan, 5 orang yang diisolasi dibebaskan.


Begitulah kongres yang paling fasis dalam sejarah PRD. Hanafi-TeBe telah menjalankan perannya sebagai raja fasis di dalam PRD. Kongres ini yang kemudian menjadi awal perpecahan di PRD. Apa gerangan masalahnya?


Begini. Sebelum kongres, Pak Kenthu dan Hanafi sudah keliling di Jabotabek. Pada kader PRD yang ikut kongres, ia wanti-wanti agar memilih pasangan Aples dan Dog sebagai ketua dan sekretaris PRD. Pasangan ini telah disetting untuk mengalahkan pasangan Gusol dan Nasim. Di beberapa daerah juga serupa. Beberapa orang bertanya-tanya, siapa si Dog ini? Tahu mereka, Dog adalah anak mami yang baru puber politik. Tapi yang jarang diketahui, Dog ditempatkan sebagai sekretaris karena gampang dikendalikan oleh Pak Kenthu dan Hanafi.


Nah, pada akhirnya pasangan Aples dan Dog berhasil menyingkirkan Gusol dan Nasim. Ketika PRD dikuasai kelompok Pak Kenthu, kelompok Gusol tak terima. Apalagi Kolonel Hanafi berlaku persis seperti sipir penjara zaman perbudakan. Kasak kusuk pun terjadi. Akhirnya PRD pecah. Satu bagian kecil menjadi PDS.


Itulah kisah tentang kongres PRD rasa Pemuda Pancasila. Mungkin ada yang ingat kisah ini. Mungkin juga sudah lupa. Saya jadikan tulisan agar kisah tersebut bisa tercatat. Yang remeh temeh sering penting. Seringkali orang terjatuh oleh batu kerikil, bukan karena batu gunung.***


Bungurasih. 06.04.2015


 


Ini kisah carangan dari “Noktah Merah PRD”. Carangan artinya percabangan. Kalau sebelumnya Panjul menjadi tokoh, sementara dimasukkan ke dalam kotak dulu. Sekarang tokohnya Pak Kenthu.


Saya mendapatkan kisah Pak Kenthu ini dari Mat Gombloh dan Boing Wanandi. Setelah dioplos sana sini, jadilah kisah ini. Begini ceritanya:


Sodari sodari tahu arti “kenthu”? Ya, betul. “Kenthu” berasal dari baha Jawa. Artinya, bersetubuh. Di PRD [Partai Rakyat Demokratik] ada dua yang nama yang memakai kata “kenthu”: Pak Kenthu dan Wan Kenthu. Saya ceritakan yang pertama dulu. Yang kedua lain waktu.


Sebagaimana namanya, Pak Kenthu memang suka “kenthu” alias bersetubuh. Jelas bukan hanya dengan istrinya saja, tapi juga dengan perempuan lain. Biasanya dengan anggota PRD yang muda. Nah, kisah ini tentang perkenthuan Pak Kenthu dengan Upik.


Kejadiannya antara tahun 2001-2. Sebelumnya Upik merupakan kekasih Tikus Botak [TeBe]. Tapi kemudian berhasil diserobot Pak Kenthu dengan iming-iming akan dikirim ke Australia. Tentu saja TeBe puyeng tujuh keliling. Dijedot-jedotin kepalanya ke tembok, saking frustasinya. Bagaimana enggak puyeng? Kekasih hatinya diserobot Pak Kenthu, sahabatnya sendiri. TeBe pun tak bisa “kenthu” lagi dengan si Upik.


Di tengah situasi gundah gulana, ada secercah cahaya bagi TeBe. Ia melihat sosok Vivin, janda beranak satu bisa sebagai pengganti Upik. Ia pun mulai melakukan pendekatan. Suatu siang, ia membeli alat gambar di Gunung Agung Kwitang. Alat itu rencananya mau diberikan kepada anak Vivin. Setelah dibungkus rapi, TeBe bertemu dengan Vivin di Sarinah Thamrin. Sebelumnya keduanya telah janjian. Di tempat itulah TeBe mengungkapkan isi hatinya. Sayang, Vivin menolak cinta TeBe. Belakangan diketahui Vivin lebih memilih Boing Wanandi yang lebih berotot dan berisi dibandingkan TeBe. Itulah nasib TeBe, sudah jatuh, tertimpa tangga, masih dikencingi anjing pas di mukanya.


Nah, sekarang ke Pak Kenthu. Kisah cinta Pak Kenthu dengan Upik seperti pengantin baru. Guna mempratekkan 122 gaya bercinta Kamasutra, Pak Kenthu membeli kasur baru. Satu kasur untuk Putik, istri Pak Kenthu, satu untuk Upik. Penjual kasur kemudian mengantarkan ke alamat yang diberikan Pak Kenthu.


Dua hari berselang, kasur milik Upik rusak. Gara-garanya untuk pratek berbagai adegan “kenthu”. Ambles di bagian tengah ketika memperagakan gaya doggy stele. Karena masih garansi, Pak Kenthu mengembalikan ke toko. Dia tak memberikan alamat lagi. Pihak toko pun mengantarkan kasur itu. Di sinilah prahara terjadi. Kasur tidak di antarkan ke alamat kontrakan Pak Kenthu dan Upik, tapi ke alamat Putik, istri Pak Kenthu. Tentu saja Putik bingung karena dirinya tak merasa menukarkan kasurnya. Kemudian dia meminta pengantar untuk memeriksa alamat, betul atau tidak.


Setelah dibaca dengan teliti, pemesannya memang benar Pak Kenthu, tapi alamatnya beda. Dari situlah perselingkuhan Pak Kenthu dengan Upik terbongkar. Maka Putik ikut pengantar kasur ke alamat yang benar. Benar saja, di alamat itu Putik menemukan Pak Kenthu sedang berdua dengan Upik. Ia meminta pengantar agar tak menurunkan kasur itu, tapi justru meminta menaikkan meja, kursi dan peralatan rumah tangga lain yang ada di rumah Pak Kenthu berselingkuh, ke atas mobil. Barang-barang itu kemudian dibawa Putik ke rumahnya. Pak Kenthu dan Upik diam saja. Seperti maling jemuran celana dalam ketangkap basah.


Begitulah. Kalau sodara sodari hendak beli kasur, berhati-hatilah. Jangan sampai tertukar. Akibatnya bisa fatal seperti yang dialami Pak Kenthu. Lenin pernah menulis artikel pendek, “Dari Mana Kita Mulai?” Jawabannya dari kasur. Perkembangan organisasi, menurut Lenin, bisa dilihat sejauh mana kasur berada. Kalau alamat pengiriman kasur salah atau tertukar, itu tandanya organisasi Kiri kurang bagus pengelolaannya karena kasur berada di tempat yang salah. Semestinya, sebagai sesepuh PRD, Pak Kenthu paham itu. Tapi sayang, ia justru menginjak kotorannya sendiri.


Terkuaknya perselingkuhan Pak Kenthu dan Upik, menurut Mat Gombloh, juga menguak yang lain. Dalam sidaknya, Putik menemukan tiga lembar deposito atas nama Pak Kenthu. Masing-masing sebesar 150 juta. Sampai sekarang deposito itu menurut Mat Gombloh misterius karena orang-orang PRD tak ada yang tahu. Mungkin kalaupun ada yang tahu adalah Ruhut Jogja, yang sudah populer dikalangan PRD sebagai anjing setia Pak Kenthu.


Kisah kasur yang tertukar ini juga berdampak pada kisah asmara Pak Kenthu dan Upik. Setelah kepergok oleh istri Pak Kenthu, Upik merasa bersalah. Pelan-pelan ia menjauh dari Pak Kenthu. Kebetulan pas ke Jogja, ia bertemu Sukendro. Keduanya pun saling jatuh cinta.


Melihat Upik berpaling dari dirinya, Pak Kenthu tak terima. Selama ini ia dikenal jago menyerobot kekasih kawannya, sekarang justru menjadi korban. Terjadilah perang sengit antara Pak Kenthu dengan Sukendro di sms. Zaman dulu belum ada twitter sehingga belum dikenal twitwar. Kalau sudah ada, pasti seru pertempuran mereka.


Nah, dari perang di sms itu, Pak Kenthu menantang Sukendro duel di stasiun Cirebon. Pertimbangannya Cirebon merupakan lokasi di tengah-tengah antara Jogja-Jakarta, jadi dianggap netral. Tanggal dan jam ditentukan. Keduanya sepakat. Tapi pas hari H, ketika Sukendro sampai di lokasi, Pak Kenthu tak pernah muncul. Disitulah rupa-rupanya Pak Kenthu lempar handuk putih.


Rupanya Pak Kenthu stress berat. Terpuruk banget. Tak bisa menerima kenyataan Upik jatuh kepelukan Sukendro. Selama enam bulan, ia hanya berdiam diri di rumah istrinya, seperti orang linglung.


Kisah Pak Kenthu merupakan pelajaran. Bila beli sesuatu, mintalah dikirim ke alamat yang benar. Bila salah, silakan tanggung sendiri akibatnya.


Itulah kisah di PRD. Tidak melulu tentang sejarah besar seperti penggulingan rezim, revolusi, demonstrasi, dll. Tapi juga ada sejarah kecil seperti kisah kasur yang tertukar, yang selama ini tak diungkap, padahal penting bagi perkembangan organisasi.***


Bungurasih. 05.04.2015