[Maaf] sedikit mengganggu pesta kangen-kangenan dan mengenang heroisme.
Waktu itu— kira-kira pertengahan 2001— di salah satu kamar
di sebuah Hotel di Jalan Pramuka, Jakarta Timur, penuh sesak. Seluruh pimpinan
Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik [KPP-PRD] ditambah “Pimpinan
Bawah” menyesaki kamar ukuran paling besar itu. Tentu saja asap rokok ikut
berdesakan. Agar tak menyingung alarm asap kamar hotel, merekok dilakukan
secara bergiliran. Dalam siasat menyiasati, kader PRD memang ahlinya.
Mungkin yang penting agendanya: sidang kasus korupsi dengan
terdakwa Ignatius Putut Ariantoko.
Kalau klipingan koran seputar peristiwa 27 Juli 1996 dibuka,
nama Putut termasuk daftar anggota PRD yang di pejara di LP Cipinang. Vonisnya
paling ringan sehingga ia bebas paling dulu. Sejak keluar penjara tahun 1997,
ia menduduki posisi penting sebagai kurir antara “Pimpinan Atas” dan “Pimpinan
Bawah”; sebuah jabatan penting dalam organisasi Kiri semacam PRD. Tak semua
anggota PRD mengetahui siapa-siapa saja “Pimpinan Bawah” karena dipilih secara
tertutup dan rahasia. Hanya orang-orang tertentu yang mengetahui—termasuk kurir
tentunya. Oleh sebab itu, kedudukan Putut tak bisa dianggap remeh.
Bisa jadi adagium
yang mengatakan “pemegang kekuasaan paling dekat dengan korupsi” adalah benar
adanya. Putut sebagai bagian dari “Pimpinan” partai yang mempunyai kekuasaan
akhirnya terjerumus dalam korupsi.
Sebagai latar ada baiknya mengetahui situasi politik sebelum
kasus korupsi terjadi. Tahun 1999 PRD memutuskan ikut Pemilu. Peristiwa ini
bisa dikatakan sebagai titik balik dalam perjalanan PRD. Lolos dalam Pemilu
terdemokratis paska Orde Baru, membuat PRD memiliki akses ekonomi yang terbuka
secara luas. Dana yang dialirkan pemerintah menjadikan PRD memiliki darah
segar. Partai yang awalnya kere ini sontak naik kelas. Setiap sekretariat
wilayah mempunyai komputer baru, para pimpinannya mulai berkenalan dengan
telepon genggam [sebelumnya hanya pager yang paling mewah], taksi mulai
dikenal sebagai alat transportasi [sebelumnya hanya dalam situasi darurat
dipakai, lebih banyak naik mikrolet atau bus kota dalam situasi biasa],
jasa binatu mulai dikenal sehingga pakaian tak lusuh lagi, dan tentu saja
parfum [minimal minyak wangi]. Dengan kata lain, Pemilu 1999 menciptakan
semacam ‘kebudayaan’ baru di antara pimpinan-pimpinan PRD—dari kebudayaan udik
ke modern. Seperti biasa, setiap transisi kebudayaan pasti ada gegar. Pun,
dalam tubuh pimpinan PRD.
Putut berada dalam pusaran itu. Sebagian dana dari
daerah—konsepnya dana daerah mesti disetor ke pusat, istilah kerennya
disentralisasi; mungkin agar mirip konsep sentralisme demokrasi ala Partai
Kiri—ternyata masuk ke rekening Putut. Tak mengherankan ketika kasus korupsi
itu terkuak nilai nominalnya sudah mencapai 125 juta lebih. Tentu saja banyak
yang terhenyak, terutama kader-kader Partai kelas tiga. Mengapa terhenyak?
Karena selama ini para kader kelas tiga menganggap partai miskin.
Sebagai gambaran kehidupan kader kelas tiga adalah sebagai
berikut: tidur di sekretariat kantor Pimpinan Pusat, yang tentu saja sumpek dan
bau, kerja full time untuk Partai, dan sebagai imbalan mendapat jatah makan dua
kali sehari dengan lauk dua iris tempe/tahu plus sayur asam, lodeh atau sop [tentu
saja lebih banyak kuahnya agar bisa mencukupi untuk banyak orang]. Tak
mengherankan kalau ada orang luar datang ke sekretariat dan membawa makanan,
dalam waktu 5 menit dipastikan makanan itu akan tandas dikerubungi kader kelas
tiga ini [persis suasana penampungan anak jalanan].
Secara kejiawaan kondisi kader kelas tiga ini bisa dikatakan
mengkhawatirkan. Ada seorang kader yang karena saking frustasinya
membentur-benturkan kepalanya ke tembok. Bisa dibayangkan bagaimana rasa kepala
bertemu tembok. Masalah yang menghinggapinya adalah soal saling serobot pacar.
Ada pula seorang kader perempuan karena merasa tersinggung melempar kader lain
dengan sebilih pisau. Untung saja pisaunya meleset dan hanya mengenai tembok [korban
pelemparan pisau sekarang karena mungkin pandai berkelit bisa menjadi caleg
DPRI dapil Jawa Tengah dari Partai Gerindra]. Muncul juga peristiwa seorang
kader dari Solo karena emosi mengejar kader lainnya dengan sapu lantai disertai
dengan umpatan-umpatan rasis [kebetulan yang dikejar-kejar kader beretnis
Tionghoa]. Sempat terjadi baku pukul. Tak kalah mengkhawatirkan seorang
kader setiap malam naik naik ke atap kantor lantas mengisap gelek [ganja]
sambil senyam-senyum sendiri. Pernah pula dua kader saling ancam dengan pisau
gara-gara masalah makanan. Juga beberapa kali terjadi masalah pelecehan sexual.
Karena tertekan masalah sexual [mau ke lokalisasi tak mampu; kalau yang
mampu seminggu sekali akan ke Grogol atau Mangga Besar—yang dikenal dengan
sebutan Mabes] sementara birahi sudah di ubun-ubun akhirnya melakukan
pelecehan sexual [biasanya pada kader perempuan dari daerah yang kebetulan
menginap di kantor].
Tentu yang paling mengenaskan menimpa Yahya Gunawan [semoga
Tuhan menerimamu di surga]. Tekanan demi tekanan [tekanan di sini bukan
sekadar masalah politik, tapi juga masalah pacar, dll] menyebabkan dia
sering menenggak minuman keras. Karena uang cekak, tentu saja yang ditenggak
seringkali minuman oplosan yang murah harganya. Beberapa tahun kemudian
akhirnya ia meninggal karena livernya tak mampu lagi bekerja dengan baik, yang
kemudian berakibat pada komplikasi. Nama seperti Yahya Gunawan ini akan jarang
disebut karena memang bukan selebritis dalam lingkaran PRD.
Artinya tak seperti berita indah selama selama ini:
kader-kader PRD militan, disiplin, tegar, berani dan mempunyai watak heroik
lainnya. Kader-kader kelas tiga ini manusia dengan berbagai problem psikologis
dan perut yang akut. Tentu saja dalam mengenang masa kepahlawanan kondisi ini
tak perlu diungkap karena akan mengikis watak kesatria yang ingin ditampilkan.
Manusia PRD mesti ditampilkan seperti baja, tak retak-retak dan serba sempurna.
Jadi, begitu tahu seorang kader seperti Putut mampu
menyimpan uang di rekeningnya di atas 100 juta, banyak yang merasa tertipu.
Bahwa hidup asketis para kader kelas tiga demi perjuangan menegakkan sosialisme
yang maha mulia itu ternyata dikencingi oleh “Pimpinan” seperti Putut. Dalam
kenyataanya, kader kelas tiga ini yang paling patuh pada intruksi partai tanpa
tanda tanya lagi.
Sedikit gambaran. Para pimpinan kelas atas yang sudah
populer namanya karena menjadi selebritis di media massa [pernah dipenjara,
diculik,dll], tak pernah tinggal di sekretariat partai, rata-rata memiliki
tempat kost sendiri. Dan, seorang Ketua Umum—yang sekarang tentu sudah banyak
dikenal—mendapat pengawalan khusus dan fasilitas yang berbeda dengan kader
kelas tiga, misalnya. Tapi bukan berarti semuanya beres. Ada seorang Pimpinan
senior [kabarnya beliau nanti malam akan menyampaikan pidato politik],
akibat berebut kekasih dengan simpatisan PRD di Jogja, kemudian saling tantang
lewat telepon genggam. Kemudian diputuskan tempat untuk duelnya di Cerebon. Tak
tahu persis kenapa Cirebon yang dipilih. Yang pasti duel itu gagal karena
Pimpinan senior itu kehilangan nyali [versi sang simpatisan]. Sejak saat
itu sang Pimpinan senior frustasi sehingga tak mau memimpin partai hingga
berbulan-bulan [bahkan dalam persidangan kasus Putut tak hadir].
Kondisi seperti yang telah diterangjelaskan di atas itulah
yang menyebabkan sidang kasus Putut sempat diwarnai kericuhan. Oleh kader-kader
kelas tiga yang ada di rungan itu, Putut hampir dihakimi secara fisik. Untung
situasi bisa dikendalikan. Putut tak jadi dihajar seperti maling ayam. Pada
akhirnya Putut divonis melakukan korupsi dan dipecat dari PRD. Pertanyaan yang
belum terjawab sampai saat ini: apakah uang itu ia “makan” sendiri? Ketika
diadakan penyitaan terhadap harta Putut hanya diperoleh kulkas, vcd player,
televisi dan sebuah sepeda motor bekas. Nilainya tentu saja di bawah 100 juta.
Kira-kira dua atau tiga tahun setelah kasus korupsi itu,
Putut sempat curhat kepada mantan kekasihnya [sebut saja Melati, bukan nama
sebenarnya]. Ia mengatakan sebetulnya uang itu tak dimakannya sendiri.
Menurutnya sebagian dipakai oleh pimpinan-pimpinan yang lain. Curhat Putut itu
sebuah kebenaran atau hanya apologia, tentu saja hanya Tuhan yang tahu. Yang
jelas sampai sekarang tak terkuak. PRD bisa dikatakan organisasi setengah
konspirasi sehingga persoalan-persoalan [terutama menyangkut Pimpinan] tak akan
berkuak secara tuntas, mengambang atau dilupakan begitu saja.
Korupsi selanjutnya relatif lebih kecil. Pada kisaran 20
juta. Fauzi Bayu, Ketua Komite Pimpinan Wilayah [KPW] Jawa Timur, yang menjadi
tersangka. Kejadiannya terjadi pada tahun 2002. Kasusnya berawal dari pemilihan
gubernur Jatim. Imam Utomo, mantan Pangdam Brawijaya, maju sebagai calon
gubernur. Seperti sudah diketahui, paska Peristiwa 27 Juli, Imam Utomo ketika
menjadi Pangdam banyak menangkap dan menyiksa aktivis-aktivis PRD. Ketika ia
maju sebagai calon gubernur, PRD Jatim membongkar dosa-dosa Imam Utomo itu.
Akhirnya Imam Utomo berhasil mendekati Fauzi Bayu. Dari kesepakatan, agar PRD
tak menyerang lagi, Imam Utomo memberikan imbalan “uang tutup mulut” sebanyak
20 juta. Nah, uang ini tak dilaporkan Fauzi Bayu pada Pimpinan Pusat. Atas
kejadian itu, ia didakwa melakukan korupsi. Oleh partai akhirnya Fauzi Bayu
didakwa bersalah dan dipecat dari PRD. Seperti dalam kasus Putut, yang belum
terjawab sampai sekarang: apakah uang itu dimakan sendiri oleh Fauzi Bayu, atau
sudah sempat ia bagi-bagikan pada kader/pimpinan yang lain? Biar para malaikat
yang menjawab.
Kasus korupsi yang ketiga dengan terdakwa Ketua Umum PRD,
Yusuf Lakaseng—sekarang caleg nomer 2 dari Partai Hanura untuk daerah pemilihan
Sulteng. Kasus ini terbongkar lebih disebabkan oleh masalah kesenjangan di
atara Pimpinan PRD. Pimpinan yang lain melihat Lakaseng bisa hidup kecukupan
sementara sebagian merasa kekurangan. Karena ada kecurigaan, pada suatu hari,
buku tabungan Lakaseng “dicuri” oleh beberapa Pimpinan KPP PRD.
Sedikit menyempal. Peristiwa “kesenjangan” ekonomi ini
sering menjadi letupan. Pernah dalam sebuah rapat seorang kader perempuan
karena bajunya sering baru dituduh melakukan korupsi oleh seorang kader lain.
Tentu saja si tertuduh nangis-nangis karena merasa tak melakukan korupsi, dan
mengancam akan balik ke Lampung dan mengundurkan diri dari partai.
Kita lanjutkan. Buku tabungan Lakaseng kemudian di print
out. Hasil penelusuran ternyata ada dana yang mengalir ke rekening Lakaseng
yang tidak dilaporkan ke bagian keuangan. Nilainya berkisar 20 juta. Pengusutan
dilakukan. Dari hasil persidangan di partai [Lakaseng tidak hadir dan hanya
menulis sepucuk surat[, diputuskan ia bersalah dan dipecat dari PRD.
Kasus korupsi ternyata tak memupus karier politik Yusuf
Lakaseng. Setelah dipecat dari PRD ia bergabung dengan Partai Bintang Reformasi
[PBR]. Uniknya, dalam Pemilu 2009 PRD melebur dalam PBR, dan tentu saja ketemu
lagi dengan Lakaseng. Mungkin di situlah keunikan politik. Dari PBR kemudian
Lakaseng hijrah ke Nasdem. Ketika Nasdem retak, ia melompat ke Hanura. Sekarang
sebagai caleg DPR RI, ia mempunyai slogan yang keren dalam spanduk dan
balihonya. Bunyinya begini: “Politik Itu Jalan Kehormatan. Jangan
Kotori Dengan Korupsi !!!” [tiga tanda seru sesuai tulisan aslinya].
Begitulah. Tentu kisah korupsi ini tak elok disampaikan
dalam perayaan hari lahir. Tentu saja bila diungkap akan merusak suasana pesta
dan romatisme pada masa-masa revolusioner. Masak, PRD yang sering mendaku
menjadi partai Kiri paling revolusioner, pimpinannya pernah terlibat korupsi.
Jijik banget, kan? Oleh sebab itu, lebih baik dikubur dalam-dalam dalam suasa
suci dan sakral itu.
[Mungkin] kasus-kasus korupsi dalam PRD itu merupakan
sumbangan terbaik bagi Indonesia [semoga nanti ada yang mau membukukannya].
Bisa jadi hanya di PRD kader-kadernya mengkorup duit partainya sendiri. Memang
berbeda dengan partai lain yang angota-anggotanya mengkorup uang negara untuk
kepentingan sendiri dan partainya, di PRD kebalikannya. Memang tak ada duanya
PRD.
Pada akhirnya: Tujuan kita satu, Ibu: menggarong
duit partai.***
Lereng Merapi.
22 Juli 2013.


0 comments:
Posting Komentar