Konon, ketika Maneka—seorang pelacur dengan rajah kuda putih di punggungnya—hendak dikuliti pundaknya, Hanuman—kera putih—tiba-tiba mecungul. Hanuman marah besar melihat Maneka diperlakukan seperti itu oleh suku padang pasir. Ia injak bumi sekuat-kuatnya hingga 200 orang penyiksa si pelacur amblas ke perut bumi. Di atasnya Hanuman lantas membuat totem—tugu peringatan—bagi siapa saja yang akan melakukan angkara. Begitulah yang dituliskan Seno Gumira dalam novel Kitab Omong Kosong.
Angkatan 22 Juli juga punya totem. Dua jumlahnya: [Wiji]
Thukul dan Darah Juang. Keduanya yang selalu disembah dan ditaburi
karangan bunga dalam setiap persembahan setiap tanggal 22 Juli [dalam
kalender matahari].
Dalam edisi khusus Majalah Tempo [Teka-teki
Wiji Thukul], semua kader Angkatan 22 Juli yang ada di majalah itu ingin
ambil peranan. Akibatnya sulit dibedakan apakah itu kisah tentang Thukul atau
tentang keheroikkan Angkatan 22 Juli. Kata-kata untuk memperlihatkan peranan
dan keterlibatan dipilih: “Aku sempat takut kalau ditangkap aparat.” [hal.42]. “Kami
bawa laptop yang saat itu sangat tebal dengan modem yang suaranya berisik.” [hal.43]. “Saya
menerima selebaran-selebaran dan dokumen partai dari kurir partai di Jakarta
yang bekerja untuk beberapa universitas di Jawa Tengah dan Jawa Timur.” [hal.43].
Itu hanya contoh. Secara lengkap silakan baca majalahnya. Yang jelas
kalimat-kalimat itu dipilih untuk menunjukkan aku, saya /kami ambil peranan.
Thukul telah berhasil diperkuda oleh Angkatan 22 Juli guna menunjukkan
kegagah-perwiraan mereka dalam menumbangkan kediktatoran Suharto. Sehingga,
meminjam slogan Chairil Anwar: Yang bukan Angkatan 22 Juli dilarang
ambil peranan!
Pun, ketika lagu Darah Juang dikumandangkan,
seperti dalam reuni para opa dan oma, akan muncul kalimat: “Dulu kita bla
bla”….”dulu kami bli bli”…”masa itu kami gituin buruh.”… “ini aksi kami waktu
10 tahun lalu.”…”waktu itu kami dikejar-kejar”, dll, dsb. Karena seperti oma
dan opa yang sudah memasuki usia jompo, hanya “dulu” dan “kata lampau lainnya”
yang bisa didaur ulang serta dijejerkan untuk memperlihatkan betapa hebatnya
masa itu; masa revolusioner; masa ketika acungan tangan kiri dan teriakan
seolah-olah bisa membelah langit, dan pijakan kaki bisa menenggelamkan segala
angkara. Sekarang dan masa depan tak penting lagi. Sekarang apa yang bisa
dibanggakan? Ketika telah banyak yang menjadi jongos Jendral Penculik, kaki
tangan Jendral Pembantai, dan babu konglomerat. Jadi benar: yang selalu aktual
adalah masa lalu—karena itulah yang bisa diracik lagi untuk menjual hari ini
dan masa depan. Ijazah sebagai pelawan Suharto digunakan untuk membasuh dan
membenarkan langkah-langkah politik yang kini diambil.
Setiap angkatan lahir dan berakhir karena karya. Ia akan
selalu tumbuh ketika masih mampu berkarya, dan akan mati ketika tak mampu
melakukan apapun. Pun, Angkatan 22 Juli. Pertanyaannya: kenapa Angkatan 22 Juli
mati muda? Mungkin Nabi Khidir benar ketika ia membunuh seorang bayi. Ketika
ditanya mengapa bayi tak berdosa itu engkau bunuh, Khidir menjawab: “Kalau
besar ia akan menimbulkan prahara.” Mungkin kalau tak mati muda, Angkatan 22
Juli akan menimbulkan prahara sebagaimana dikhawatirkan oleh Khidir. Misalnya,
bila sekarang masih hidup dan berusia 17 tahun, bisa jadi beradu kasih dengan
Jendral yang dulu menghilangkan saudara sesusuannya.
Atau mungkin sebab kematian yang belia itu lebih cocok versi
Pramoedya Ananta Toer. Pada majalah Play Boy edisi I April
2006, Pram berkata: “Itu pimpinannya. Ketua organisasi itu, mesti
hidup, tumbuh, berkembang bersama partainya. Ini ketuanya [Budiman Sudjatmiko]
lari, masuk ke PDI [P].” Kata “pimpinannya” sebetulnya alegori, tak
menunjuk satu orang walaupun nama disebut di situ. Artinya, Angkatan 22 Juli
tumpas karena rapuh dari dalam, bukan karena dihancurkan oleh kekuasaan.
Sebagai petunjuk, ketika diberi ruang hidup di alam demokrasi yang lebih
terbuka, Angkatan 22 Juli justru tewas, tak mampu tumbuh dan menyesuaikan diri.
Sekarang memang masih ada yang mendaku bahwa Angkatan 22
Juli masih eksis. Tak masalah. Perkumpulan ini dipimpin oleh kepala suku dari
Solo [kenapa tak disebut ketua atau yang lainnya, karena sebagaimana jabatan
kepala suku akan digenggam sampai mati; sejak enam tahun menjabat tak
tergantikan]. Perkumpulan ini menggelontorkan kata-kata arkaik sebagai
jualan:neo-kolonialisme, neo-imperialisme, komprador, pintu baja, menjebol,
gotong royong, dll. Tak tahu persis apakah generasi Fatin atau cowboy junior,
misalnya, mengerti istilah-isitilah seperti itu? Toh itu tak akan penting bagi
mereka.
Terlihat di sana pilihan kata yang dipilih disesuaikan
dengan kehendak sang Tuan Besar: Jendral Penculik. Retorika politik Angkatan 22
Juli dengan kepala suku dari Solo ini sama persis dengan Jendral Penculik.
Membaca pidato politiknya seperti mendengarkan suara Jendral Penculik dengan
tokoh pengganti mirip Thukul Arwana. Maka jangan harap dalam pidatonya ada
gugatan pada Jendral Penculik yang telah menghilangkan empat orang itu. Dalam
perayaan yang dibikin semegah mungkin, empat orang korban penculikan tak akan
disebut-sebut demi menyenangkan sang Tuan Besar di Hambalang sana. Begitu
lihainya—walaupun norak—menaburkan kata-kata heroik dan penuh pekikan sampai
bisa membungkus diri sebagai pejuang rakyat.
Dalam hubungan timbal balik, memang lihai taktik kepala suku
dari Solo itu. Agar tak terlalu ketara kongkalikong dengan Jendral Penculik, ia
bermain ditingkat daerah dengan menempatkan kader-kadernya sebagai caleg Partai
Jendral Penculik, yang tentu saja jauh dari sorotan mata. Dengan begitu ia bisa
mengelak: mana buktinya? Walaupun setiap waktu ia sowan pada
Jendral Penculik di istananya sana.
Tapi apapun, Angkatan 22 Juli versi Tebet ini tak bedanya
dengan Godot. Ia dikesankan ada, seakan berteriak-berteriak, ditunggu
kehadirannya, tapi sebetulnya tak pernah ada. Sebagai sekumpulan veteran yang
tak mampu melakukan apa-apa lagi selain menjongos pada Jendral Penculik, maka
mereka bersandar pada mitologi masa lalu: tentang kemaha hebatan Angkatan 22
Juli.
Pada akhirnya, puisi Yoeda yang berjudul Tentang
Angkatan 66, yang sadurannya seperti di bawah ini [huruf miring berarti
saduran saya] cocok untuk menggambarkan Angkatan 22 Juli:
Tentang
Angkatan 22 Juli
Orang bilang angkatan dua-dua juli pahlawan
penegak keadilan pembela kebenaran
generasi garda revolusi
Tuhan bilang
mereka taik
jongos jendral penculik
kaki tangan jendral pembantai
babu para konglomerat
Aku bilang
mereka onggokan sampah beracun.
Sebagai pengunci. Kalau pun masih ada yang bisa dihormati
dari Angkatan 22 Juli, tinggal empat orang itu saja: Wiji Thukul, Herman
Hendrawan, Suyat dan Bimo Petrus. Yang lain telah menjadi sampah dan ampas.***
Lereng Merapi,
22 Juli 2013


0 comments:
Posting Komentar