Peserta Kongres PRD Ditangkap!

by April 08, 2015 0 comments

 


Saya mengikuti pepatah Latin: “Verba volant, scripta manent” [yang terucap akan lenyap, yang tertulis akan abadi]. Kisah ini sederhana, tapi saya tulis biar terkenang.


Kisah kali masih carangan dari “Noktah Merah PRD”. Kalau dalam serial sebelumnya tentang Pak Kenthu, kali ini Panjal muncul lagi. Kisahnya terjadi sekitar tahun 1999. Lokasinya di sebuah wisma di Kaliurang, Jogja.


Saat itu berlangsung kongres PRD [Partai Rakyat Demokratik]. Entah yang keberapa. Biar sejarawan yang mencarinya. Yang jelas, kongres ini dilakukan setelah PRD babak belur dalam Pemilu 1999. Begini kisahnya:


Saat kongres tersebut Panjul mendapatkan tugas sebagai keamanan dalam. Dia di bawah arahan langsung Kolonel Hanafi, koleganya di Jabotabek dan sekaligus teman nyimeng. Tugas yang berwibaya tentunya. Sebagai anak Betawi yang bercita-cita sebagai tukang insiyur, Panjul beralih jadi tukang keamanan.


Satu hari menjelang kongres, dalam perjalanan dari Jakarta-Jogja dengan mobil, Panjul tak sempat tidur sekejap. Pasalnya oleh Kolonel Hanafi dia diprasahi menjaga Pak Kenthu, tokoh penting dalam PRD. Inilah mengapa ketika sampai di arena kongres, dia langsung terlelap seperti bangkai. Mungkin dalam tidurnya ia mimpi ngencuk dengan Caturwangi.


Saat Panjul terlelap, kongres dimulai. Tentu saja pembahasan pertama tentang tata tertib. Terjadi perdebatan yang seru antara Pieter Segawoncun dengan Tikus Botak [TeBe] sebagai kepala sidang. Perlu diketahui TeBe baru lepas dari penjara Cipinang. Lepas dari penjara, ia mendapati dunia telah berganti rupa menjadi liberal. Inilah yang membuatnya puyeng. Maka ketika memimpin sidang, TeBe berlaku seperti Hitler yang pulang kampung: otoriter udik.


Karena Pieter Segawoncun terus saja berkicau, TeBe naik pitam. Ia perintahkan almarhum Iqbal [semoga Tuhan menerima di sisiNya] menangkap Segawoncun. Tubuh Igbal yang berotot membuat Segawoncun tak berkutik. Seperti pesakitan, Segawoncun dimasukkan ke ruang isolasi.


Tentu saja peserta kongres yang lain sempat kaget. Baru kali dalam kongres PRD peserta kongres ditangkap keamanan. Memang ada kata “demokratik” dalam nama PRD. Tapi sejarah mencatat, satu kali kongres PRD seperti kongres Pemuda Pancasila, bar-bar dan jauh dari aroma kongres partai kiri.


Merasa bingung dengan situasi kongres, Caturwangi mencari-cari Panjul, kekasihnya yang sekaligus ketua keamanan dalam. Setelah mencari sana sini, akhirnya Caturwangi menemukan Panjul sedang ngorok. Digoyang-goyang, Panjul tak bangun. Baru setelah anunya dikilik-kilik dengan lidah Caturwangi yang ada tindiknya, Panjul tergeragap bangun.


Panjul yang masih linglung mendengarkan cerita Caturwangi bahwa Segawoncun ditangkap oleh anak buah Panjul. Panjul hanya melem melek karena batangnya dielus-elus oleh tangan Caturwangi. Setelah Caturwangi pergi, ia tertidur lagi.


Belum sempat seperempat jam tidur, ruangan tempat Panjul tidur kembali digedor-gedor oleh Orson. Kali ini giliran Orson yang melapor bahwa Andi Ambon ditangkap keamanan. Masalahnya, saat registrasi kepersertaan, Andi Ambon tak jelas mewakili sektor apa. Selama ini dia berada di sektor Kaum Miskin Kota, tapi saat kongres sektornya sudah diwakili oleh Antun. Keamanan kongres, atas intruksi Kolonel Hanafi dan TeBe, akhirnya menangkap Andi Ambon karena tidak bisa menunjukkan surat tugas. Ia pun digelandang ke ruang isolasi, satu sel dengan Segawoncun.


Setelah menerima pengaduan Orson, Panjul tidur lagi. Ternyata belum sempat lima menit lelap, ruangannya digedor-gedor lagi. Setelah dibuka ternyata di luar sudah ada wajah Orson dan Caturwangi. Keduanya protes lagi. Ada 3 peserta kongres ditangkap lagi oleh keamanan. Sebab musabnya, mereka belum membayar uang registrasi. Ketiganya di jebloskan ke ruang isolasi. Sekarang ada 5 orang yang dikrangkeng atas intruksi Kolonel Hanafi dan TeBe. Bisa dikatakan, keduanya seperti pasangan Musolini dan Hitler, menjebloskan orang ke sel isolasi.


Setelah Orson dan Caturwangi pergi, Panjul molor lagi. Baru sore hari dia bangun. Setelah mandi dan gosok gigi, Panjul mendatangi ruang isolasi. Betapa terkejutnya Panjul, 5 orang yang diisolasi pucat pasi. Ternyata seperti tahanan Yahudi, dari pagi mereka tak diberi makan dan minum.


Panjul segera menemui Kolonel Hanafi dan TeBe. Ia protes terhadap aksi penangkapan itu dan tak diberi makan. Dengan sinis TeBe berkata,”Ah, lu. Setelah dikasih meki oleh Caturwangi jadi takut dengan disiplin partai.” Akhirnya, setelah Panjul bersedia menjadi jaminan, 5 orang yang diisolasi dibebaskan.


Begitulah kongres yang paling fasis dalam sejarah PRD. Hanafi-TeBe telah menjalankan perannya sebagai raja fasis di dalam PRD. Kongres ini yang kemudian menjadi awal perpecahan di PRD. Apa gerangan masalahnya?


Begini. Sebelum kongres, Pak Kenthu dan Hanafi sudah keliling di Jabotabek. Pada kader PRD yang ikut kongres, ia wanti-wanti agar memilih pasangan Aples dan Dog sebagai ketua dan sekretaris PRD. Pasangan ini telah disetting untuk mengalahkan pasangan Gusol dan Nasim. Di beberapa daerah juga serupa. Beberapa orang bertanya-tanya, siapa si Dog ini? Tahu mereka, Dog adalah anak mami yang baru puber politik. Tapi yang jarang diketahui, Dog ditempatkan sebagai sekretaris karena gampang dikendalikan oleh Pak Kenthu dan Hanafi.


Nah, pada akhirnya pasangan Aples dan Dog berhasil menyingkirkan Gusol dan Nasim. Ketika PRD dikuasai kelompok Pak Kenthu, kelompok Gusol tak terima. Apalagi Kolonel Hanafi berlaku persis seperti sipir penjara zaman perbudakan. Kasak kusuk pun terjadi. Akhirnya PRD pecah. Satu bagian kecil menjadi PDS.


Itulah kisah tentang kongres PRD rasa Pemuda Pancasila. Mungkin ada yang ingat kisah ini. Mungkin juga sudah lupa. Saya jadikan tulisan agar kisah tersebut bisa tercatat. Yang remeh temeh sering penting. Seringkali orang terjatuh oleh batu kerikil, bukan karena batu gunung.***


Bungurasih. 06.04.2015


Ragil Nugroho

Tikus Merah

Pencemooh berhati lembut. Berkebun dan bercocok tanam. Membakar sampah. Makan makanan bergizi.

0 comments:

Posting Komentar