Saya mengikuti pepatah Latin: “Verba volant, scripta manent” [yang terucap akan lenyap, yang tertulis akan abadi]. Kisah ini sederhana, tapi saya tulis biar terkenang.
Kisah kali masih carangan dari “Noktah Merah PRD”. Kalau
dalam serial sebelumnya tentang Pak Kenthu, kali ini Panjal muncul lagi.
Kisahnya terjadi sekitar tahun 1999. Lokasinya di sebuah wisma di Kaliurang,
Jogja.
Saat itu berlangsung kongres PRD [Partai Rakyat Demokratik].
Entah yang keberapa. Biar sejarawan yang mencarinya. Yang jelas, kongres ini
dilakukan setelah PRD babak belur dalam Pemilu 1999. Begini kisahnya:
Saat kongres tersebut Panjul mendapatkan tugas sebagai
keamanan dalam. Dia di bawah arahan langsung Kolonel Hanafi, koleganya di
Jabotabek dan sekaligus teman nyimeng. Tugas yang berwibaya tentunya. Sebagai
anak Betawi yang bercita-cita sebagai tukang insiyur, Panjul beralih jadi
tukang keamanan.
Satu hari menjelang kongres, dalam perjalanan dari
Jakarta-Jogja dengan mobil, Panjul tak sempat tidur sekejap. Pasalnya oleh
Kolonel Hanafi dia diprasahi menjaga Pak Kenthu, tokoh penting dalam PRD.
Inilah mengapa ketika sampai di arena kongres, dia langsung terlelap seperti
bangkai. Mungkin dalam tidurnya ia mimpi ngencuk dengan Caturwangi.
Saat Panjul terlelap, kongres dimulai. Tentu saja pembahasan
pertama tentang tata tertib. Terjadi perdebatan yang seru antara Pieter
Segawoncun dengan Tikus Botak [TeBe] sebagai kepala sidang. Perlu diketahui
TeBe baru lepas dari penjara Cipinang. Lepas dari penjara, ia mendapati dunia
telah berganti rupa menjadi liberal. Inilah yang membuatnya puyeng. Maka ketika
memimpin sidang, TeBe berlaku seperti Hitler yang pulang kampung: otoriter
udik.
Karena Pieter Segawoncun terus saja berkicau, TeBe naik
pitam. Ia perintahkan almarhum Iqbal [semoga Tuhan menerima di sisiNya]
menangkap Segawoncun. Tubuh Igbal yang berotot membuat Segawoncun tak berkutik.
Seperti pesakitan, Segawoncun dimasukkan ke ruang isolasi.
Tentu saja peserta kongres yang lain sempat kaget. Baru kali
dalam kongres PRD peserta kongres ditangkap keamanan. Memang ada kata
“demokratik” dalam nama PRD. Tapi sejarah mencatat, satu kali kongres PRD
seperti kongres Pemuda Pancasila, bar-bar dan jauh dari aroma kongres partai
kiri.
Merasa bingung dengan situasi kongres, Caturwangi
mencari-cari Panjul, kekasihnya yang sekaligus ketua keamanan dalam. Setelah
mencari sana sini, akhirnya Caturwangi menemukan Panjul sedang ngorok.
Digoyang-goyang, Panjul tak bangun. Baru setelah anunya dikilik-kilik dengan
lidah Caturwangi yang ada tindiknya, Panjul tergeragap bangun.
Panjul yang masih linglung mendengarkan cerita Caturwangi
bahwa Segawoncun ditangkap oleh anak buah Panjul. Panjul hanya melem melek
karena batangnya dielus-elus oleh tangan Caturwangi. Setelah Caturwangi pergi,
ia tertidur lagi.
Belum sempat seperempat jam tidur, ruangan tempat Panjul
tidur kembali digedor-gedor oleh Orson. Kali ini giliran Orson yang melapor
bahwa Andi Ambon ditangkap keamanan. Masalahnya, saat registrasi kepersertaan,
Andi Ambon tak jelas mewakili sektor apa. Selama ini dia berada di sektor Kaum
Miskin Kota, tapi saat kongres sektornya sudah diwakili oleh Antun. Keamanan
kongres, atas intruksi Kolonel Hanafi dan TeBe, akhirnya menangkap Andi Ambon
karena tidak bisa menunjukkan surat tugas. Ia pun digelandang ke ruang isolasi,
satu sel dengan Segawoncun.
Setelah menerima pengaduan Orson, Panjul tidur lagi.
Ternyata belum sempat lima menit lelap, ruangannya digedor-gedor lagi. Setelah
dibuka ternyata di luar sudah ada wajah Orson dan Caturwangi. Keduanya protes
lagi. Ada 3 peserta kongres ditangkap lagi oleh keamanan. Sebab musabnya,
mereka belum membayar uang registrasi. Ketiganya di jebloskan ke ruang isolasi.
Sekarang ada 5 orang yang dikrangkeng atas intruksi Kolonel Hanafi dan TeBe.
Bisa dikatakan, keduanya seperti pasangan Musolini dan Hitler, menjebloskan
orang ke sel isolasi.
Setelah Orson dan Caturwangi pergi, Panjul molor lagi. Baru
sore hari dia bangun. Setelah mandi dan gosok gigi, Panjul mendatangi ruang
isolasi. Betapa terkejutnya Panjul, 5 orang yang diisolasi pucat pasi. Ternyata
seperti tahanan Yahudi, dari pagi mereka tak diberi makan dan minum.
Panjul segera menemui Kolonel Hanafi dan TeBe. Ia protes
terhadap aksi penangkapan itu dan tak diberi makan. Dengan sinis TeBe
berkata,”Ah, lu. Setelah dikasih meki oleh Caturwangi jadi takut dengan
disiplin partai.” Akhirnya, setelah Panjul bersedia menjadi jaminan, 5 orang
yang diisolasi dibebaskan.
Begitulah kongres yang paling fasis dalam sejarah PRD.
Hanafi-TeBe telah menjalankan perannya sebagai raja fasis di dalam PRD. Kongres
ini yang kemudian menjadi awal perpecahan di PRD. Apa gerangan masalahnya?
Begini. Sebelum kongres, Pak Kenthu dan Hanafi sudah
keliling di Jabotabek. Pada kader PRD yang ikut kongres, ia wanti-wanti agar
memilih pasangan Aples dan Dog sebagai ketua dan sekretaris PRD. Pasangan ini
telah disetting untuk mengalahkan pasangan Gusol dan Nasim. Di beberapa daerah
juga serupa. Beberapa orang bertanya-tanya, siapa si Dog ini? Tahu mereka, Dog
adalah anak mami yang baru puber politik. Tapi yang jarang diketahui, Dog
ditempatkan sebagai sekretaris karena gampang dikendalikan oleh Pak Kenthu dan
Hanafi.
Nah, pada akhirnya pasangan Aples dan Dog berhasil
menyingkirkan Gusol dan Nasim. Ketika PRD dikuasai kelompok Pak Kenthu,
kelompok Gusol tak terima. Apalagi Kolonel Hanafi berlaku persis seperti sipir
penjara zaman perbudakan. Kasak kusuk pun terjadi. Akhirnya PRD pecah. Satu
bagian kecil menjadi PDS.
Itulah kisah tentang kongres PRD rasa Pemuda Pancasila.
Mungkin ada yang ingat kisah ini. Mungkin juga sudah lupa. Saya jadikan tulisan
agar kisah tersebut bisa tercatat. Yang remeh temeh sering penting. Seringkali
orang terjatuh oleh batu kerikil, bukan karena batu gunung.***
Bungurasih. 06.04.2015


0 comments:
Posting Komentar