Mencari Marxisme Yang Wangun

by April 21, 2016 0 comments

 *Disampaikan Dalam Diskusi Buku “Mencari Maxisme” Karya Martin Suryajana Di Fakultas Filsafat UGM

Oleh: Ragil Nugroho

Marxisme merupakan filsafat gerakan. Logika Marx adalah logika gerakan. Dari pemahaman saya, sebagai filsafat dan logika gerakan, marxisme bersandar dari apa yang ada, bukan apa yang kita inginkan. Sebetulnya logika Marxis hanya sederhana, terdiri dari tiga hukum: kontradiksi, negasi dari negasi, dan perubahan kuantitas menjadi kualitas. Tapi ditangan Martin yang jenius ini, saya tak mengenali logika Marxis yang sederhana itu karena kepandaiannya mengolah tema dengan sangat canggih. Ulasannya begitu penuh dengan metafor-metafor yang elok sehingga membutuhkan suasana yang tenang dengan diiringi musik jazz atau blus, diselingi menyruput wine untuk bisa memasukkan inti sari pemikiran Marin ke relung sanubari yang paling dalam; jangan dibaca sambil mendengarkan dangdut koplo dan menenggak minuman oplosan karena akan menambah puyeng. Bagi saya yang dulu sempat belajar sekilas logika Marxis lewat contoh sepele seperti 1 kg gula, atau kayu yang dibakar menjadi abu, umpamanya, sangat tertatih-tatih untuk memahami uraian Martin dalam bukunya ini.

Tulisan pertama dalam buku ini, “Marxisme dan Kebaharuan”, sepenangkapan saya semacam maklumat bahwa tulisan-tulisan yang ada di dalamya bertujuan menjawab problem kelas menengah dan intelektual Kiri sekolahan yang mencoba/ingin menjadi Marxis. Jalan mana yang hendak ditempuh? Menghafal semua karya Marx atau menjadi aktivis dahulu agar bisa menjadi seorang Marxis? Kalau Stalin memulai debutnya menjadi Marxis dengan merampok bank, Martin menawarkan dua jalan menjadi Marxis: pertama, lewat rekontruksi besar-besaran terhadap Marxisme; kedua, menjalankan analis logis terhadap Marxisme. Dan, menurut Martin, jalan kedua yang lebih mudah untuk sampai ke inti ajaran Bapa Marx.

Seandainya saya ingin belajar Marxis, maka akan memilih berangkat dari pertanyaan: mengapa PKS bisa menjadi partai yang solid, mampu menempatkan kader-kadernya di legislatif maupun eksekutif? Sementara mengapa partai Kiri dari era Orba sampai sekarang hanya begitu-begitu saja? Dengan kata lain, kalau saya ingin belajar menjadi Marxis, saya akan belajar pada kader-kader PKS, bukan pada aktivis/intelektual Kiri. Dalam umur yang pendek ini, untuk apa membuang-buang waktu belajar pada pihak yang gagal membumikan Marxisme? Oleh sebab itu, saya memilih belajar kepada PKS untuk mencari Marxisme yang wangun.

Tulisan kedua “Kritik dan Emansipasi” dalam buku ini seperti kisah Ibrahim ketika hendak merobohkan berhala. Nah, berhala kelas menengah dan intelektual Kiri sekolahan bernama Goenawan Mohamad. Bagi Martin, Goenawan telah menyebabkan umat kelas menengah dan intelektual Kiri sekolahan menjadi tersesat. Oleh sebab itu, perlu dirobohkan. Untuk merobohkan, Martin memanggil kembali filsuf-filsuf mulai dari Kant, Adarno sampai Derrida dan yang lain. Mahasiswa filsafat semester satu akan senang dengan tulisan ini karena penuh dengan parade pemikiran-pemikiran filsuf. Istilah-istilah semacam “kedaifan”, “luddite”, tentu akan memakau laiknya pancaran batu permata; yang menggunakannya akan memperlihatkan posisi kejeniusan tertentu. Dan, kesenangan itu akan bertambah karena diajak menghajar Goenawan yang akhir-akhir dianggap sinis terhadap gerakan kelas menengah dan intelektual Kiri sekolahan yang sedang belajar mencintai orang miskin yang digusur di Kampung Pulo dan Pasar Ikan. Di sinilah lagi-lagi kepiawaian Martin mengubah logika Marxis yang sederhana tentang “kontradiksi” menjadi sebuah tulisan yang luar biasa. Sebuah pertanyaan sederhana, ketika kakimu diinjak kau mau ngapain? Di tangan Martin, jawabannya menjadi narasi yang dahsyat tentang bahaya laten Goenawanisme. Luar biasa. Dalam bahasa saya: wangun.

Tulisan “Marxisme dan Kebenaran” merupakan upaya pembuktian Martin bahwa Marxisme memang benar adanya. Sepenangkapan saya, pokok bahasan ini mengupas tiga akar Marxisme: materialisme historis (filsafat sejarah Marxis), ekonomi politik Marxis, dan sifat revolusioner dari Marxisme. Sekali lagi, ditangan Martin tema ini menjadi sangat menarik. Kita akan diajak pergi ke pegadaian/ bank untuk memberikan jaminan guna menguji bahwa Marxisme itu benar. Jaminannya ada dua: ilmu sosial Marxis dan filsafat Marxis. Dengan kedua jaminan itu petugas pengadian/bank tak akan berkutik sehingga mau tidak mau memberikan pinjaman berupa Marxisme yang kita inginkan.

Itu tadi contoh tulisan yang luar biasa dari Martin dalam Bab I. Sebetulnya saya ingin membahas semua, tetapi kerena waktu untuk membacanya sempit, tentu saya tak mampu melakukan. Tetapi percayalah, semua tulisan di Bab I luar biasa. Selepas membacanya, insyaallah akan bisa membuat sodara sodari menjadi Marxis yang kafah.

Tulisan berjudul “Marxisme dan Kritik Ekonomi Politik Suara” ini menarik dibaca bagi kelas menengah dan intelektual Kiri sekolahan yang sedang gandrung mengorganisir massa. Dulu prinsip mengorganisir massa cukup sederhana: lakukan penaklukan sosial. Senior saya di Pijar bernama Andi Munajat, misalnya, ketika melakukan kerja pengorganisiran cukup mengajak bermain catur. Orang yang akan diorganisir tak pernah diajak bicara politik, apalagi ekonomi politik Marxis. Sementara senior saya di Pijar lainnya yang bernama Antun Joko Susnono ketika melakukan penaklukan sosial di lingkungan preman di Klebengan, cukup diajak mabuk-mabukan. Karena setelah berbotol-botol hanya Antun yang tak roboh, maka preman-preman yang sebelumnya ganas itu, akhirnya tunduk. Saya sendiri juga tak paham, dengan cara pengorganisiran massa yang sederhana itu, mereka bisa membentuk organisasi-organisasi revolusioner; jenderal Syarwan Hamid kala itu menyatakan bahwa dari lagunya saja sudah dikenali kalau organisasi tersebut beridiologi komunis.

Tentu saja Martin tak memakai cara-cara sederhana tersebut untuk melakukan kerja-kerja pengorganisian massa. Kelas Martin bukan menjabarkan petunjuk teknis dalam mengorganisir seperti investigasi, memetakan persoalan, sampai kemudian melakukan aksi massa. Kelas Martin sebagai konseptor adalah memberikan landasan teoritis yang keren. Maka dihubungkanlah kerja pengorganisasian massa dengan prinsp ekokomi politik Marxis. Dari sinilah muncul istilah subtansi komoditas politik (massa), ukuran nilai komoditas politik (jumlah massa) dan lain sebagainya. Bila bisa mengolah massa dengan baik, maka bisa diubah menjadi suara. Sehingga tulisan ini pada akhirnya juga bisa dibaca oleh tim sukses dalam Pilkada/Pilpres agar bisa memenangkan suara massa untuk mendukung calon mereka. Sepengetahuan saya, hanya Martin yang bisa menghubungkan kerja-kerja pengorganisasian massa dengan ekonomi-politik. Sebuah terobosan yang jenius.

Itu salah satu contoh tulisan dari Bab II. Tentu tulisan-tulisan yang lain tak kalah kerennya. Insyaallah, bila membaca semua tulisan yang ada di Bab II, sodara sodori akan bisa menjadi haji ekonomi politik yang mabrur.

Tulisan “Membangun Rantai Intelektual Kiri” sepenangkapan saya adalah ulasan bagaimana intelektual-intelektual Kiri sekolahan diwadahi. Ya, semacam intelektual-intelektual sekolahan Kiri diwadahani dalam Indoprogress, misalnya. Mereka inilah para pandita yang berperan sebagai idiolog, yang dalam pembahasan Martin mempunyai dua fungsi, yaitu internal dan eksternal sekaligus. Ini merupakan terobosan baru dari Martin karena sepanjang pengetahuan saya, dalam konsep Marxisme lama tak dikenal adanya pewadahan bagi intelektual Kiri secara khusus karena setiap kader Kiri adalah intelektual dan organiser sekaligus [dan penjual koran partai tentunya]. Mungkin terobosan Martin ini untuk mengatasi kondisi intelektual-intelektual Kiri sekolahan yang mempunyai pengetahuan tentang Marxisme, tetapi karena kesibukannya, tak sempat kalau harus turun ke basis-basis buruh dan tani, misalnya. Mereka punya banyak waktu untuk diskusi dan menulis di café-cafe, tetapi tak ada waktu untuk turba ke pabrik-pabrik. Usulan Martin ini memang berbeda dengan Mao. Bila Mao lewat revolusi kebudayaannya menyeret intelektual-intelektual dari kampus untuk terjun ke pertanian kolektif, industri baja, atau menjadi buruh pabrik manufaktur, misalnya, agar mereka menjadi bagian dari rakyat. Sementara Martin tentu tidak akan mengusulkan upaya sekeji dan sebiadab Mao itu. Masak intelektual Kiri sekolahan disuruh mencangkul di sawah atau menjadi buruh linting rokok. Maka jalan keluarnya diwadahi saja agar ilmu mereka menjadi amal jariyah.

Tulisan “Marxisme dan Propaganda” merupakan panduan untuk menjadi seorang propagandis yang jempolan. Martin memberikan 5 prinsip (di buku prinsip ke 4 nya dobel). Dalam penangkapan saya, seorang propagandis yang baik bagi Martin laiknya pengunjung perpustakaan yang tekun. Dia tahu dimana letak-letak berbagai macam buku sehingga ketika membutuhkan tinggal mengambilnya saja. Seorang propagandis mesti mempunyai pengetahuan tentang resep masakan sampai bagaimana cara mengatasi kesulitan membayar uang kost-kostan. Setelah menerapkan 5 prinsip itu dengan konsisten, insyaallah sodari sodari akan bisa membuat dedengkot FPI semacam Habib Rizieq akan berubah menjadi seorang Marxis.

Tulisan “Marxisme dan Artikulasi Politik” masih sebenang dengan persoalan propaganda, yakni bagaimana memberikan argumentasi yang tidak membosankan kepada kalayak luas. Sederhanya, pakailah bermacam variasi dalam bercinta agar tidak membosankan. Silakan pakai gaya apa saja yang jelas tujuannya satu: mencapai orgame Marxisme. Ditangan Martin tentu penjelasan jauh lebih menarik dibandingkan apa yang saya sampaikan itu. Lagi-lagi di sinilah kelebihan Martin dalam mengartikulasikan gagasanya sehingga bisa memuaskan kelas menengah dan intelektual Kiri sekolahan.

Itu tadi beberapa tulisan Martin dalam Bab III. Insyaallah, setelah membaca tulisan Martin di Bab III, sodara sodari akan menjadi seorang Marxis yang berada di jalan shirotholmustaqim, yaitu jalan yang diridhoi oleh Marxisme.

Tulisan “Wafat dan Kebangkitan Tan Malaka: Sebuah Kesaksian” dan “Goenawan Mohamad dan Politik Kebudayaan Liberal Pasca 1965″, lagi-lagi merupakan tulisan Martin tentang Goenawan Mohamad. Mungkin bagi Martin, Goenawan merupakan figur yang penting sehingga dalam buku ini ada tiga tulisan tentang bos Tempo itu. Tulisan pertama membahas manipulasi terhadap sosok Tan Malaka, tulisan kedua mengulas tentang peranan Goenawan dalam politik kebudayaan pasca 1965. Sebagai sumber kemaksiatan (sebagaimana miras bagi FPI), bagi Martin pemikiran Goenawan perlu dicabut dari lapangan kebudayaan. Menurutnya, lewat Goenawan ini nadi kebudayaan imperlialis berwujud humanisme universal terus menerus disebarkan. Kita patut berterima kasih kepada Martin karena konsisten melawan sang durjana kebudayaan bernama Goenawan Mohamad. Dengan begitu kita bisa berharap kebudayaan Marxis tak akan menemukan rintangannya lagi.

Itu tadi beberapa tulisan dari Bab IV. Bila sodara sodari bisa memahami dan mengalamalkan tulisan-tulisan di bab tersebut, insyaallah sodara sodari bisa menjadi budayawan Marxis sekaliber Pramoedya Ananta Toer.

Tulisan “Penemuan Kembali Marxisme Kita” merupakan tulisan penutup dari buku Martin yang luar biasa ini. Martin menganjurkan agar kelas menengah dan intelektual Kiri sekolahan melupakan segala pengetahuan tentang Marxisme yang selama telah dikenal. Sarannya, mulailah dari nol untuk membahas Marxisme agar bisa menemukan Marxisme yang baru. Dari situlah laku Mencari Marxisme itu akan bisa menemukan Marxisme yang selama ini hilang.

Itulah yang bisa saya ulas dari buku Mencari Marxisme. Dari pembacaan saya, Marxisme tidak perlu dicari dalam persoalan perempuan, sehingga tak ada pembahasan, misalnya, Marxisme dan Perempuan, atau Menjadi Perempuan Marxis Yang Paripurna.

Bila dalam tradisi Islam patokan bagi umat adalah Al Qur’an dan Hadist, bisa dikatakan bahwa buku Martin ini merupakan kumpulan hadist shahih Buchari yang kevalidannya sudah diverifikasi. Maka saya menganjurkan untuk membaca buku ini agar sodara sodari bisa menemukan Marxisme dan keluar dalam wujud baru sebagai seorang Marxis yang wangun. Semoga Marxisme yang hilang itu lekas ditemukan setelah buku Martin terbit sehingga tak disibukkan lagi oleh persoalan mencari-cari Marxisme.

Akhirnya, bila ada salah kata datangnya dari saya, semua kebenaran hanya bersumber dari Tuhan semata. Terimakasih.***

Lereng Merapi. 11.04.2016


Ragil Nugroho

Tikus Merah

Pencemooh berhati lembut. Berkebun dan bercocok tanam. Membakar sampah. Makan makanan bergizi.

0 comments:

Posting Komentar