Cerita tentang kebaikan Stalin tak selalu mengenakan. Kalau Puan dan Tuan mengehendaki kisah kisah kekejaman Stalin atau semacamnya–seperti propaganda buku buku sejarah zaman Orba–silakan tak melanjutkan membaca tulisan ini: tak akan menggembirakan.
Pembaca yang Budiman, kalau kita membuka lembaran awal Faust karya Johann Wolfgang von Goethe (sering disebut Goethe saja), akan segera bersitatap dengan Mephistopheles. Ia sosok Iblis dalam karya tersebut.
Pada dasarnya setiap Iblis selalu kurang ajar dan urakan. Pun, dengan Mephistopheles. Bagaimana tak urakan, ia menatang Tuhan taruhan. Nah, sosok Mephistopheles inilah yang dilekatkan pada diri Stalin. Siapa yang melekatkan?
Pertama, tentu saja sejarawan Barat yang anti Stalin dan Sosialisme. Buku buku semacam ini sudah banyak beredar. Silakan pilih sendiri. Kedua, tentu saja Trotski. Rasa tak senang Trotski kepada Stalin memang tak terobati. Gagal menggantikan Lenin, sampai malaikat kematian menjemputnya, Troski terus menerus menyerang Stalin. Tentu saja dengan mengiba iba ia menulis beberapa pamlet murahan guna membasuh lukanya tersingkir dari Partai Komunis Uni Soviet [pamlet murahan Trotski banyak ditejemahkan oleh salah satu penerbit gurem di Yogyakarta; yang karena mungkin tak laku sering diobral murahan juga diberbagai pameran].
Tapi bagaimana sikap Stalin sendiri terhadap segala fitnah Trotski? Stalin tidak pernah membenci Trotski. Paling tidak dua kali Stalin membela Trotski. Begini ceritanya sebagaimana dibabarkan oleh Robert Gellately dalam bukunya “Lenin, Stalin and Hitler: The Age of Social Catastrophe” [sebetulnya buku ini ditujukan untuk menampilkan kebengisan Lenin dan Stalin, tapi ada fakta menarik yang justru memperlihatkan kematangan kedua orang tersebut dalam berpolitik]:
Setelah tujuh tahun perang sebelum Revolusi Oktober 1917, Lenin memperkenalkan program baru yang dikenal dengan sebutan New Economic Policy [NEP]. Program ini disampaikan pada pidato di Kongres Partai Kesepuluh pada bulan Maret 1921. Dalam pidatonya Lenin mengatakan: “Di negara terbelakang ini, para pekerja, yang telah melakukan pengorbanan sangat besar, dan para petani sedang kehabisan tenaga. Yang saat ini dibutuhkan adalah kesempatan pemulihan ekonomi.”
Program Lenin dianggap kemunduran bagi kaum dogmatis dengan bengolannya Trotski. Bagi Trotski, program Lenin dianggap melemahkan karena mengerem revolusi yang sedang pasang. Menurut Trotski dan para bigotnya, seharusnya revolusi dilanjutkan dengan membabat musuh musuh revolusi dan segera menciptakan masyarakat komunis.
Tapi Lenin sebagai ahli taktik jempolan yang selalu bersandar pada kondisi objektif, tetap berdiri pada program NEP yang kemudian disahkan sebagai program PKUS. Tak terima dengan itu, Trotski membentuk faksi dalam Partai. Langkah ini mendaptakan reaksi keras dari PKUS. Sebuah pertemuan Komite Sentral pada tanggal 23 Oktober 1923 [Lenin masih hidup] untuk menanggapi sikap Trotski. Dari 102 anggota yang hadir setuju memberikan teguran keras kepada Trotski, 2 anggota tak setuju, dan 10 orang abstain. Bahkan Kamenev dan Zinoview mengusulkan agar Trotski dipecat, dan beberapa anggota lain mengusulkan penangkapan kepada Trotski. Tapi ada yang membela Trostki. Siapa dia? Tak lain Stalin.
Stalin meminta agar Trotski tak dikeluarkan dari partai. Usul Stalin diterima oleh anggota Komite Sentral. Trotski tetap berada dalam PKUS. Tapi Trotski termakan egonya sendiri. Seperti dalam surat wasiat Lenin yang didektekan kepada sekretarisnya, Lydia Fotieva, Lenin menyebut Trotski sebagai anggota Partai yang memperlihatkan “rasa percaya diri yang berlebihan.” Sikap congkak itulah yang menjungkalkan Trotski. Ia justru mempublikasikan ketidaksetuannya terhadap NEP untuk mendapatkan kepopuleran pribadi. Inilah yang menjadi palu godam bagi Trotski.
Pada kongres PKUS kesebelas pada bulan Januari 1924 [Lenin masih hidup], secara nyaris bulat hasil voting memutuskan Troskisme merupakan penyimpangan borjuis kecil terhadap ideologi komunisme PKUS. Lebih parahnya lagi, ketika posisinya sudah sedemikian terpojok, lagi lagi karena kecongkokannya, merasa dirinya banyak mempunyai pengikut, Trotski tak menghadiri pemakaman Lenin yang meninggal pada 24 Januari 1924. Ketikdakhadiran Trotski dalam pemakaman Lenin pada tanggal 27 Januari dengan alasan anak sekolah yang malas: sakit; telah menebalkan anggapan Trotski memusuhi Lenin. Dan, itulah patok terlemparnya Trotski dari PKUS.
Selama ini kaum Troskis selalu melemparkan fitnah bahwa Stalinlah yang menyingkirkan Trotski. Fakta yang diungkap oleh Robert Gallately [secara tak sengaja] telah membongkar dusta kaum Trotskis; Trotski mulai tersingkir dari PKUS ketika partai itu masih dipimpin oleh Lenin, bukan pada masa Stalin [yang bahkan membela Trotski ketika hendak didepak dari Partai].
Stalin memang selalu dituduh otoriter dan tak demokratis oleh bigot-bigot Trotski. Tapi contoh berikut ini meluluhlantakkan tuduhan itu.
Cerita ini disampaikan oleh Ignazio Silone [salah satu pendiri Partai Komunis Italia, juga seorang sastrawan] dalam buku “The God that Failed”. Pada Mei 1927 ia menghadiri sidang luar biasa Eksekutif Internasionale. Salah satu agenda pertemuan adalah pembahasan resolusi berisi kutukan terhadap Trotski karena dianggap kontra revolusi. Saat itu Trotski membuat buklet berjudul “Problem of the Chinese Revolution”, berisi kritik kebocah bocahan terhadap anjuran Stalin agar Mao berkerjasama dengan Chiang Kai Shek. Layaknya aktivis Kiri baru yang masih dangkal pemikirannya, Trotski menganggap tak dibenarkan elemen Kiri bekerjasama dengan borjuasi semacam Chiang Kai Shek.
Resolusi mengutuk Trotskis ditawarkan untuk disetujui oleh peserta sidang Eksekutif Internasionale. Terjadi perdebatan alot. Ketika hendak diputuskan Stalin berkata: “Jika ada satu delegasi saja yang mentang usulan resolusi, maka resolusi tak akan disampaikan [dalam sidang pleno Internationale].” Delegasi Italia [di dalamnya terdapat Ignazio Silone] masih ragu ragu. Rapat ditunda sampai esok hari.
Esok paginya rapat Eksekutif dimulai. Stalin mengulangi kata katanya: “…Sebuah resolusi menentang Trotski hanya bisa ditetapkan dengan suara bulat. Apakah kamerad kamerad dari Italia kita mendukung usulan resolusi ini?” Perwakilan dari Italia, Prancis dan Swiss masih ragu ragu. Karena tak ada suara bulat, Stalin berujar: “Usulan resolusi ditarik.”
Lantas di manakah letak ketidakdemokratisan Stalin seperti yang selalu diteriakkan bigot bigot Trotskis? Kalau Stalin otoriter, sebagai pimpinan Soviet saat itu, tentu ia tak peduli dengan keragu raguan perwakilan Italia, Prancis dan Swiss. Fakta memperlihatkan: Stalin memilih menarik usulan resolusi tersebut karena tak ada suara bulat. Seandainya dilakukan voting, tentu Stalin akan menang. Tapi ia memilih suara mufakat daripada voting.
Begitulah cara Stalin menghadapi perbedaan pendapat. Masih percaya pada bigot bigot Trotskis tentang Stalin? Semoga Tuhan menghindarkan kita dari kebodohan dan kedunguan para bigot Trotskis. Amin. ***
Lereng Merapi. 03.06.2015


0 comments:
Posting Komentar