Ini kisah carangan dari “Noktah Merah PRD”. Carangan artinya percabangan. Kalau sebelumnya Panjul menjadi tokoh, sementara dimasukkan ke dalam kotak dulu. Sekarang tokohnya Pak Kenthu.
Saya mendapatkan kisah Pak Kenthu ini dari Mat Gombloh dan
Boing Wanandi. Setelah dioplos sana sini, jadilah kisah ini. Begini ceritanya:
Sodari sodari tahu arti “kenthu”? Ya, betul. “Kenthu”
berasal dari baha Jawa. Artinya, bersetubuh. Di PRD [Partai Rakyat Demokratik]
ada dua yang nama yang memakai kata “kenthu”: Pak Kenthu dan Wan Kenthu. Saya
ceritakan yang pertama dulu. Yang kedua lain waktu.
Sebagaimana namanya, Pak Kenthu memang suka “kenthu” alias
bersetubuh. Jelas bukan hanya dengan istrinya saja, tapi juga dengan perempuan
lain. Biasanya dengan anggota PRD yang muda. Nah, kisah ini tentang perkenthuan
Pak Kenthu dengan Upik.
Kejadiannya antara tahun 2001-2. Sebelumnya Upik merupakan
kekasih Tikus Botak [TeBe]. Tapi kemudian berhasil diserobot Pak Kenthu dengan
iming-iming akan dikirim ke Australia. Tentu saja TeBe puyeng tujuh keliling.
Dijedot-jedotin kepalanya ke tembok, saking frustasinya. Bagaimana enggak
puyeng? Kekasih hatinya diserobot Pak Kenthu, sahabatnya sendiri. TeBe pun tak
bisa “kenthu” lagi dengan si Upik.
Di tengah situasi gundah gulana, ada secercah cahaya bagi
TeBe. Ia melihat sosok Vivin, janda beranak satu bisa sebagai pengganti Upik.
Ia pun mulai melakukan pendekatan. Suatu siang, ia membeli alat gambar di
Gunung Agung Kwitang. Alat itu rencananya mau diberikan kepada anak Vivin.
Setelah dibungkus rapi, TeBe bertemu dengan Vivin di Sarinah Thamrin.
Sebelumnya keduanya telah janjian. Di tempat itulah TeBe mengungkapkan isi
hatinya. Sayang, Vivin menolak cinta TeBe. Belakangan diketahui Vivin lebih memilih
Boing Wanandi yang lebih berotot dan berisi dibandingkan TeBe. Itulah nasib
TeBe, sudah jatuh, tertimpa tangga, masih dikencingi anjing pas di mukanya.
Nah, sekarang ke Pak Kenthu. Kisah cinta Pak Kenthu dengan
Upik seperti pengantin baru. Guna mempratekkan 122 gaya bercinta Kamasutra, Pak
Kenthu membeli kasur baru. Satu kasur untuk Putik, istri Pak Kenthu, satu untuk
Upik. Penjual kasur kemudian mengantarkan ke alamat yang diberikan Pak Kenthu.
Dua hari berselang, kasur milik Upik rusak. Gara-garanya
untuk pratek berbagai adegan “kenthu”. Ambles di bagian tengah ketika
memperagakan gaya doggy stele. Karena masih garansi, Pak Kenthu mengembalikan
ke toko. Dia tak memberikan alamat lagi. Pihak toko pun mengantarkan kasur itu.
Di sinilah prahara terjadi. Kasur tidak di antarkan ke alamat kontrakan Pak
Kenthu dan Upik, tapi ke alamat Putik, istri Pak Kenthu. Tentu saja Putik
bingung karena dirinya tak merasa menukarkan kasurnya. Kemudian dia meminta pengantar
untuk memeriksa alamat, betul atau tidak.
Setelah dibaca dengan teliti, pemesannya memang benar Pak
Kenthu, tapi alamatnya beda. Dari situlah perselingkuhan Pak Kenthu dengan Upik
terbongkar. Maka Putik ikut pengantar kasur ke alamat yang benar. Benar saja,
di alamat itu Putik menemukan Pak Kenthu sedang berdua dengan Upik. Ia meminta
pengantar agar tak menurunkan kasur itu, tapi justru meminta menaikkan meja,
kursi dan peralatan rumah tangga lain yang ada di rumah Pak Kenthu
berselingkuh, ke atas mobil. Barang-barang itu kemudian dibawa Putik ke rumahnya.
Pak Kenthu dan Upik diam saja. Seperti maling jemuran celana dalam ketangkap
basah.
Begitulah. Kalau sodara sodari hendak beli kasur,
berhati-hatilah. Jangan sampai tertukar. Akibatnya bisa fatal seperti yang
dialami Pak Kenthu. Lenin pernah menulis artikel pendek, “Dari Mana Kita
Mulai?” Jawabannya dari kasur. Perkembangan organisasi, menurut Lenin, bisa
dilihat sejauh mana kasur berada. Kalau alamat pengiriman kasur salah atau
tertukar, itu tandanya organisasi Kiri kurang bagus pengelolaannya karena kasur
berada di tempat yang salah. Semestinya, sebagai sesepuh PRD, Pak Kenthu paham itu.
Tapi sayang, ia justru menginjak kotorannya sendiri.
Terkuaknya perselingkuhan Pak Kenthu dan Upik, menurut Mat
Gombloh, juga menguak yang lain. Dalam sidaknya, Putik menemukan tiga lembar
deposito atas nama Pak Kenthu. Masing-masing sebesar 150 juta. Sampai sekarang
deposito itu menurut Mat Gombloh misterius karena orang-orang PRD tak ada yang
tahu. Mungkin kalaupun ada yang tahu adalah Ruhut Jogja, yang sudah populer
dikalangan PRD sebagai anjing setia Pak Kenthu.
Kisah kasur yang tertukar ini juga berdampak pada kisah
asmara Pak Kenthu dan Upik. Setelah kepergok oleh istri Pak Kenthu, Upik merasa
bersalah. Pelan-pelan ia menjauh dari Pak Kenthu. Kebetulan pas ke Jogja, ia
bertemu Sukendro. Keduanya pun saling jatuh cinta.
Melihat Upik berpaling dari dirinya, Pak Kenthu tak terima.
Selama ini ia dikenal jago menyerobot kekasih kawannya, sekarang justru menjadi
korban. Terjadilah perang sengit antara Pak Kenthu dengan Sukendro di sms.
Zaman dulu belum ada twitter sehingga belum dikenal twitwar. Kalau sudah ada,
pasti seru pertempuran mereka.
Nah, dari perang di sms itu, Pak Kenthu menantang Sukendro
duel di stasiun Cirebon. Pertimbangannya Cirebon merupakan lokasi di
tengah-tengah antara Jogja-Jakarta, jadi dianggap netral. Tanggal dan jam
ditentukan. Keduanya sepakat. Tapi pas hari H, ketika Sukendro sampai di
lokasi, Pak Kenthu tak pernah muncul. Disitulah rupa-rupanya Pak Kenthu lempar
handuk putih.
Rupanya Pak Kenthu stress berat. Terpuruk banget. Tak bisa
menerima kenyataan Upik jatuh kepelukan Sukendro. Selama enam bulan, ia hanya
berdiam diri di rumah istrinya, seperti orang linglung.
Kisah Pak Kenthu merupakan pelajaran. Bila beli sesuatu,
mintalah dikirim ke alamat yang benar. Bila salah, silakan tanggung sendiri
akibatnya.
Itulah kisah di PRD. Tidak melulu tentang sejarah besar
seperti penggulingan rezim, revolusi, demonstrasi, dll. Tapi juga ada sejarah
kecil seperti kisah kasur yang tertukar, yang selama ini tak diungkap, padahal
penting bagi perkembangan organisasi.***
Bungurasih. 05.04.2015


0 comments:
Posting Komentar