Kasur Yang Tertukar

by April 05, 2015 0 comments

 


Ini kisah carangan dari “Noktah Merah PRD”. Carangan artinya percabangan. Kalau sebelumnya Panjul menjadi tokoh, sementara dimasukkan ke dalam kotak dulu. Sekarang tokohnya Pak Kenthu.


Saya mendapatkan kisah Pak Kenthu ini dari Mat Gombloh dan Boing Wanandi. Setelah dioplos sana sini, jadilah kisah ini. Begini ceritanya:


Sodari sodari tahu arti “kenthu”? Ya, betul. “Kenthu” berasal dari baha Jawa. Artinya, bersetubuh. Di PRD [Partai Rakyat Demokratik] ada dua yang nama yang memakai kata “kenthu”: Pak Kenthu dan Wan Kenthu. Saya ceritakan yang pertama dulu. Yang kedua lain waktu.


Sebagaimana namanya, Pak Kenthu memang suka “kenthu” alias bersetubuh. Jelas bukan hanya dengan istrinya saja, tapi juga dengan perempuan lain. Biasanya dengan anggota PRD yang muda. Nah, kisah ini tentang perkenthuan Pak Kenthu dengan Upik.


Kejadiannya antara tahun 2001-2. Sebelumnya Upik merupakan kekasih Tikus Botak [TeBe]. Tapi kemudian berhasil diserobot Pak Kenthu dengan iming-iming akan dikirim ke Australia. Tentu saja TeBe puyeng tujuh keliling. Dijedot-jedotin kepalanya ke tembok, saking frustasinya. Bagaimana enggak puyeng? Kekasih hatinya diserobot Pak Kenthu, sahabatnya sendiri. TeBe pun tak bisa “kenthu” lagi dengan si Upik.


Di tengah situasi gundah gulana, ada secercah cahaya bagi TeBe. Ia melihat sosok Vivin, janda beranak satu bisa sebagai pengganti Upik. Ia pun mulai melakukan pendekatan. Suatu siang, ia membeli alat gambar di Gunung Agung Kwitang. Alat itu rencananya mau diberikan kepada anak Vivin. Setelah dibungkus rapi, TeBe bertemu dengan Vivin di Sarinah Thamrin. Sebelumnya keduanya telah janjian. Di tempat itulah TeBe mengungkapkan isi hatinya. Sayang, Vivin menolak cinta TeBe. Belakangan diketahui Vivin lebih memilih Boing Wanandi yang lebih berotot dan berisi dibandingkan TeBe. Itulah nasib TeBe, sudah jatuh, tertimpa tangga, masih dikencingi anjing pas di mukanya.


Nah, sekarang ke Pak Kenthu. Kisah cinta Pak Kenthu dengan Upik seperti pengantin baru. Guna mempratekkan 122 gaya bercinta Kamasutra, Pak Kenthu membeli kasur baru. Satu kasur untuk Putik, istri Pak Kenthu, satu untuk Upik. Penjual kasur kemudian mengantarkan ke alamat yang diberikan Pak Kenthu.


Dua hari berselang, kasur milik Upik rusak. Gara-garanya untuk pratek berbagai adegan “kenthu”. Ambles di bagian tengah ketika memperagakan gaya doggy stele. Karena masih garansi, Pak Kenthu mengembalikan ke toko. Dia tak memberikan alamat lagi. Pihak toko pun mengantarkan kasur itu. Di sinilah prahara terjadi. Kasur tidak di antarkan ke alamat kontrakan Pak Kenthu dan Upik, tapi ke alamat Putik, istri Pak Kenthu. Tentu saja Putik bingung karena dirinya tak merasa menukarkan kasurnya. Kemudian dia meminta pengantar untuk memeriksa alamat, betul atau tidak.


Setelah dibaca dengan teliti, pemesannya memang benar Pak Kenthu, tapi alamatnya beda. Dari situlah perselingkuhan Pak Kenthu dengan Upik terbongkar. Maka Putik ikut pengantar kasur ke alamat yang benar. Benar saja, di alamat itu Putik menemukan Pak Kenthu sedang berdua dengan Upik. Ia meminta pengantar agar tak menurunkan kasur itu, tapi justru meminta menaikkan meja, kursi dan peralatan rumah tangga lain yang ada di rumah Pak Kenthu berselingkuh, ke atas mobil. Barang-barang itu kemudian dibawa Putik ke rumahnya. Pak Kenthu dan Upik diam saja. Seperti maling jemuran celana dalam ketangkap basah.


Begitulah. Kalau sodara sodari hendak beli kasur, berhati-hatilah. Jangan sampai tertukar. Akibatnya bisa fatal seperti yang dialami Pak Kenthu. Lenin pernah menulis artikel pendek, “Dari Mana Kita Mulai?” Jawabannya dari kasur. Perkembangan organisasi, menurut Lenin, bisa dilihat sejauh mana kasur berada. Kalau alamat pengiriman kasur salah atau tertukar, itu tandanya organisasi Kiri kurang bagus pengelolaannya karena kasur berada di tempat yang salah. Semestinya, sebagai sesepuh PRD, Pak Kenthu paham itu. Tapi sayang, ia justru menginjak kotorannya sendiri.


Terkuaknya perselingkuhan Pak Kenthu dan Upik, menurut Mat Gombloh, juga menguak yang lain. Dalam sidaknya, Putik menemukan tiga lembar deposito atas nama Pak Kenthu. Masing-masing sebesar 150 juta. Sampai sekarang deposito itu menurut Mat Gombloh misterius karena orang-orang PRD tak ada yang tahu. Mungkin kalaupun ada yang tahu adalah Ruhut Jogja, yang sudah populer dikalangan PRD sebagai anjing setia Pak Kenthu.


Kisah kasur yang tertukar ini juga berdampak pada kisah asmara Pak Kenthu dan Upik. Setelah kepergok oleh istri Pak Kenthu, Upik merasa bersalah. Pelan-pelan ia menjauh dari Pak Kenthu. Kebetulan pas ke Jogja, ia bertemu Sukendro. Keduanya pun saling jatuh cinta.


Melihat Upik berpaling dari dirinya, Pak Kenthu tak terima. Selama ini ia dikenal jago menyerobot kekasih kawannya, sekarang justru menjadi korban. Terjadilah perang sengit antara Pak Kenthu dengan Sukendro di sms. Zaman dulu belum ada twitter sehingga belum dikenal twitwar. Kalau sudah ada, pasti seru pertempuran mereka.


Nah, dari perang di sms itu, Pak Kenthu menantang Sukendro duel di stasiun Cirebon. Pertimbangannya Cirebon merupakan lokasi di tengah-tengah antara Jogja-Jakarta, jadi dianggap netral. Tanggal dan jam ditentukan. Keduanya sepakat. Tapi pas hari H, ketika Sukendro sampai di lokasi, Pak Kenthu tak pernah muncul. Disitulah rupa-rupanya Pak Kenthu lempar handuk putih.


Rupanya Pak Kenthu stress berat. Terpuruk banget. Tak bisa menerima kenyataan Upik jatuh kepelukan Sukendro. Selama enam bulan, ia hanya berdiam diri di rumah istrinya, seperti orang linglung.


Kisah Pak Kenthu merupakan pelajaran. Bila beli sesuatu, mintalah dikirim ke alamat yang benar. Bila salah, silakan tanggung sendiri akibatnya.


Itulah kisah di PRD. Tidak melulu tentang sejarah besar seperti penggulingan rezim, revolusi, demonstrasi, dll. Tapi juga ada sejarah kecil seperti kisah kasur yang tertukar, yang selama ini tak diungkap, padahal penting bagi perkembangan organisasi.***


Bungurasih. 05.04.2015


Ragil Nugroho

Tikus Merah

Pencemooh berhati lembut. Berkebun dan bercocok tanam. Membakar sampah. Makan makanan bergizi.

0 comments:

Posting Komentar