“Kamerad Stalin, aku dikurung oleh laut di Isla Negra,
beristirahat dari perjuangan dan perjalanan,
ketika berita kematianmu datang sebagai pukulan ke laut.” (Pablo
Neruda, Oda a Stalin)
Rabu pagi: 26 Juni 1907
Udara menyengat. Jarum jam menunjuk angka 10.30. Alun-alun
Tiflis ramai. Tanpa diketahui banyak orang, beberapa pemuda buruh bersenjata
revolver siaga di sudut-sudut jalan. Di lantai bawah kedai Tilipuchuri para
gengster menunggu tanda. Di atap yang tersembunyi, para pengintai
berusaha tak memincingkan mata. Sebuah peristiwa penting sedang berjalan.
Sebuah operasi rahasia yang disusun oleh Josef Djugasvili selama
berbulan-bulan. Semua dikerjakan dengan kehati-hatian tingkat tinggi. Celah
kegagalan sebesar rambut pun berusaha ditutup, kalau memang ada.
Akhirnya Bachua memberikan tanda: melemparkan koran yang
dibacanya ke samping. Apel—sebutan untuk granat—meledak: empat
jumlahnya. Kekacauan menjalar di alun-alun. Seekor kuda terburai isi perutnya.
Tubuh yang terkena ledakan terpotong kecil-kecil. Sesaat setelah itu suara
tembakan pecah. Polisi tak menduga ada serangan kejutan. Dan dalam waktu kurang
dari 15 menit uang milik bank yang dibawa oleh kasir dan dikawal tentara,
lenyap.
Itu bukan kisah dalam film laga. Kejadian itu nyata. Dicatat
oleh Simon Sebag Montefiore dalam bukunya, Young Stalin. Perompokan
uang bank di alun-alun Tifilis itu telah melambungkan pelaku utamanya: Josep
Djugasvili—yang kelak dikenal dengan nama Stalin.
Orang-orang Trotskis selalu membual tentang peranan Stalin
yang kecil dalam Revolusi Bolshevik. Montefiore sebetulnya tipe penulis anti
komunis, buku yang ditulisnya tujuannya satu: membongkar ke-Iblis-an
Stalin. Tapi, bukunya itu justru membantah omong kosong orang-orang Trotskis
tentang Stalin. Perampokan uang bank itu membuktikan keterlibatan Stalin sedari
awal dalam Bolshevik. Lenin mengetahui rencana itu. Hasil rampokan itu
digunakan untuk mendanai Bolshevik yang uangnya cekak. Sementara Trotski masih
berkutat dengan teori-teorinya yang mandul itu, Stalin sudah berada di titik
didih.
Pablo Neruda—penyair Kiri asal Chili—menulis dengan liris
kedekatan Stalin dan Lenin sejak mula dalam Oda a Stalin. Begini
terjemahan bebasnya:
“Bersama dengan Lenin
Stalin pindah,
dengan kemeja putih,
serta topi pekerja abu-abu
Stalin,
dengan santainya,
membuat sejarah berbarengan
Lenin dan angin.”
Kenyataan itu dengan licik dibelokkan oleh Trotski dan
pengikutnya. “Kita sudah terlalu lama bergantung pada prasangka Trotski,”
tulis Montefiore.” Kenyataannya berbeda. Pandangan Trotski [tentang
Stalin] justru menunjukkan kita mengenai ketikmampuan Trotski dan kekurangan
kemampuan politiknya sendiri daripada kehidupan awal Stalin.” Unik di
sini: bahkan seorang anti komunis seperti Montefiore tak percaya dengan ocehan
Trotski.
Soso—pangilan Stalin masa kecil—hanya anak
seorang tukang sepatu. Bapaknya pemabuk. Suka memukul ibunya. Sejak kecil Soso
memang petarung: suka duel di jalanan. Tapi ia cerdas, bisa masuk sekolah
seminari dan termasuk siswa pandai. Ada kejadian menarik memang: di seminari
yang diampu romo-roma yang konservatif, justru Stalin bertemu dengan Marxisme.
Sembunyi-sembunyi ia mempelajarinya. Perkenalan itu pula yang menyebabkan
Stalin ditendang dari seminari.
Mungkin yang menarik bukan kisah itu. Tapi kisah ini:
Stalin memimpin Soviet pada masa yang tak mudah. Ia
menghadapi dua pertentangan ganda paska revolusi. Kita tahu, dibandingkan
Jerman dan Inggris, Soviet ketinggalan dalam industrialisasi. Selama
bertahun-tahun Tzar mengekang perkembangan kapitalisme. Akibatnya, Soviet
terseok-seok. Meneruskann Lenin, Stalin mulai memacu industrialisasi.
Neruda memberikan kesaksian dengan apik:
“Lenin meninggalkan warisan
negara bebas dan luas.
Stalin ditemani
sekolah dan tepung
alat cetak dan apel.
Stalin dari Volga
sampai salju
Utara tak dapat dilalui
meletakkan tangannya dan seorang pria
mulai membangun.
Kota-kota lahir.”
Usaha ini menimbulkan perubahan demografi. Kota-kota meluas.
Pabrik-pabrik berdiri. Pedesaan menyempit. Daerah pertanian terkena hantaman.
Mungkin di sinilah Stalin dianggap kejam. Stalin mulai menerapkan
industrialisasi pertanian di pedesaan. Caranya: kolektifvitas pertanian.
“Pemerintah [Stalin] merasa dirinya terpaksa menjatuhkan
kolektifvitas pertanian dengan kekerasan,” tulis Jean Paul Sartre
dalam The Gost of Stalin : “usaha-usaha berskala besar
[maksudnya pertanian kolektif] lebih menguntungkan dan lebih mudah dikelola.” Para
tuan tanah tentu melawan rencana Stalin. Mereka memobilisasi para petani
penggarap yang berada dipihaknya. Perang saudara diambang pintu: tuan
tanah vs petani miskin. Dalam situasi seperti itu, tulis
Sartre: “dari tahun 1930 dan setelahnya, para pemimpin Soviet
mempratekkan, atas nama kaum proletar, suatu kediktatoran tangan besi dalam
menghadapi kaum tani yang bermusuhan.” Dan sejak saat itu tuduhan
terhadap Stalin sudah pasti: totaliter.
Trotski yang sejak kematian Lenin sibuk mencari surat wasiat
Lenin yang konon menyerahkan kempimpinan Soviet kepada dirinya, menemukan celah
menghantam Stalin. Ia menghajar program kolektifvitas pertanian Stalin sebagai
upaya membantai petani. Ia berpura-pura humanis: menangisi korban-korban
Stalin. Dan setelah itu, memeluk teorinya yang tak pernah laku itu: Revolusi
Permanen—sebuah risalah yang hanya dimamah biak sekte kiri tertentu.
Trotski dan pengikutnya selalu berangkat dari andaian tentang
kemampuan proletar memimpin revolusi. Kita tahu, semenjak Adam belum mengunyah
buah kuldi, kaum proletar memang kelas yang paling revolusioner. Tapi ada
kondisi-kondisi yang menyebabkan semuanya tak seindah yang diandaikan Trotski.
Karena fanatisme buta akan andaiannya sendiri, Trotski menolak semua usaha
Partai Kiri yang dinilainya tak murni itu. Dan, Stalin dianggap sebagai
dalang ketidakmurnian itu. Tentu saja, setelah masalah
kolektifvitas pertanian, kerjasama Stalin dengan negara-negara borjuis untuk
menghadang Hitler, menjadi serangan berikutnya kaum Trotskis.
Sedikit melenting: Pernah di Indonesia kaum Trotskis membuat
ulah yang menggelikan—untuk tidak menyebutnya bodoh. Ketika PRD mendukung
Megawati melawan Suharto yang berakhir pada peristiwa Kudatuli,
orang-orang Trotskis menuduh langkah tersebut opurtunis. Tuduhan mereka sama
persis dengan tuduhan terhadap Stalin. Dalam koran Pembebasan–koran
partai PRD kala itu—edisi Mei 1999 tertulis begini: “Sambil ongkang-ongkang
di atas kursi goyangnya di London (semisal yang dilakukan oleh Commitee for
Worker’s International/CWI)…mereka mengeluarkan dogma-dogma untuk mengkritik
bahwa PRD telah melakukan kesalahan besar. PRD telah menjadi partai opurtunis
karena telah bekerjasama dengan partai borjuis, partai musuh kaum proletar…” Kita
tahu, CWI merupakan sarang orang-orang Trotskis. Dengan pantun-patun
kemurniannya mencemooh gerak Partai Kiri yang tak sesuai dengan dogma mereka.
Tapi sejarah mencatat: langkah PRD tepat. Dan, orang-orang Trotskis tak mampu
berkicau lagi.
Sekarang pun tak berubah: orang-orang Trotskis masih
berusaha melemparkan ter hitam ke wajah Stalin. Tapi gerakan Kiri tak lagi
mudah dikibuli. Sangat mudah membedakan mana emas mana imitasi. Barang imitasi
yang dijajakan para Trotskis, walaupun terkesan revolusioner, tak memakau lagi.
Tak mengherankan kalau mereka cuma nyempil di pojok gelanggang: menggumankan
madah yang itu-itu saja.
Sikap Neruda terhadap Stalin, menarik. Ode a Stalin yang
ditulis oleh Neruda ketika kematian Stalin, memperlihatkan penghormatan pada
tokoh dari Georgia itu. Ode itu sulit ditemukan. Pernah diterjemahkan oleh
Jerman Timur ke bahasa Jerman. Namun ketika diterbitkan kembali oleh Jerman
Barat, ode itu disunat—tak masuk lagi dalam kumpulan. Untung ada orang kiri
dari Boja yang kini bermukim di Swiss bisa menemukan Oda a Stalin yang
memukai itu.
Neruda pernah mengidolakan Stalin. Dalam memornya ia
menuliskan: “Aku telah ikut menyumbangkan bagianku dalam kultus
individu itu. Pada masa-masa itu, kami melihat Stalin bagaikan sang penakluk
yang telah menghancurkan tentara Hitler.” Tak mengherankan kalau
kematian Stalin menimbulkan duka dalam dirinya:
“Menghadap laut Isla Negra, di pagi hari,
dikibarkan setengah tiang bendera Chili.
Aku di antara perak kabut kesepian dan pesisir
bercampur busa laut.
Setengah dari tiang dalam bidang biru,
bintang tunggal dari negaraku
tampak air mata antara langit dan bumi.”
Neruda memang kecewa terhadap Stalin. Namun, ketika diajak
mengutuk Stalin, dengan tegas ia menggelengkan kepala. Baginya, menghardik
Stalin sama saja dengan memberikan peluru pada lawan-lawan ideologi untuk
menembak komunisme.
Dan, Stalin masih tegak di sana, seperti penutup Oda
a Stalin: membiarkan semua bangsa, sebagai warisan, hidupnya.***
Lereng Merapi. 28.12.2012
Tulisan ini pernah dipublikasikan di The Globe Journal
dan dibacakan dalam bedah buku Young Stalin dalam acara Apresiasi Sastra di
Yogyakarta.


0 comments:
Posting Komentar