Ode untuk Stalin

by Mei 05, 2013 0 comments

 




“Kamerad Stalin, aku dikurung oleh laut di Isla Negra,

beristirahat dari perjuangan dan perjalanan,
ketika berita kematianmu datang sebagai pukulan ke laut.”
 (Pablo Neruda, Oda a Stalin)


Rabu pagi: 26 Juni 1907

Udara menyengat. Jarum jam menunjuk angka 10.30. Alun-alun Tiflis ramai. Tanpa diketahui banyak orang, beberapa pemuda buruh bersenjata revolver siaga di sudut-sudut jalan. Di lantai bawah kedai Tilipuchuri para gengster menunggu tanda. Di atap yang tersembunyi, para pengintai berusaha tak memincingkan mata. Sebuah peristiwa penting sedang berjalan. Sebuah operasi rahasia yang disusun oleh Josef Djugasvili selama berbulan-bulan. Semua dikerjakan dengan kehati-hatian tingkat tinggi. Celah kegagalan sebesar rambut pun berusaha ditutup, kalau memang ada.


Akhirnya Bachua memberikan tanda: melemparkan koran yang dibacanya ke samping. Apel—sebutan untuk granat—meledak: empat jumlahnya. Kekacauan menjalar di alun-alun. Seekor kuda terburai isi perutnya. Tubuh yang terkena ledakan terpotong kecil-kecil. Sesaat setelah itu suara tembakan pecah. Polisi tak menduga ada serangan kejutan. Dan dalam waktu kurang dari 15 menit uang milik bank yang dibawa oleh kasir dan dikawal tentara, lenyap.


Itu bukan kisah dalam film laga. Kejadian itu nyata. Dicatat oleh Simon Sebag Montefiore dalam bukunya, Young Stalin. Perompokan uang bank di alun-alun Tifilis itu telah melambungkan pelaku utamanya: Josep Djugasvili—yang kelak dikenal dengan nama Stalin.


Orang-orang Trotskis selalu membual tentang peranan Stalin yang kecil dalam Revolusi Bolshevik. Montefiore sebetulnya tipe penulis anti komunis, buku yang ditulisnya tujuannya satu: membongkar ke-Iblis-an Stalin. Tapi, bukunya itu justru membantah omong kosong orang-orang Trotskis tentang Stalin. Perampokan uang bank itu membuktikan keterlibatan Stalin sedari awal dalam Bolshevik. Lenin mengetahui rencana itu. Hasil rampokan itu digunakan untuk mendanai Bolshevik yang uangnya cekak. Sementara Trotski masih berkutat dengan teori-teorinya yang mandul itu, Stalin sudah berada di titik didih.


Pablo Neruda—penyair Kiri asal Chili—menulis dengan liris kedekatan Stalin dan Lenin sejak mula dalam Oda a Stalin. Begini terjemahan bebasnya:


“Bersama dengan Lenin
Stalin pindah,

dengan kemeja putih,
serta topi pekerja abu-abu
Stalin,
dengan santainya,
membuat sejarah berbarengan
Lenin dan angin.”


Kenyataan itu dengan licik dibelokkan oleh Trotski dan pengikutnya. “Kita sudah terlalu lama bergantung pada prasangka Trotski,” tulis Montefiore.” Kenyataannya berbeda. Pandangan Trotski [tentang Stalin] justru menunjukkan kita mengenai ketikmampuan Trotski dan kekurangan kemampuan politiknya sendiri daripada kehidupan awal Stalin.” Unik di sini: bahkan seorang anti komunis seperti Montefiore tak percaya dengan ocehan Trotski.


Soso—pangilan Stalin masa kecil—hanya anak seorang tukang sepatu. Bapaknya pemabuk. Suka memukul ibunya. Sejak kecil Soso memang petarung: suka duel di jalanan. Tapi ia cerdas, bisa masuk sekolah seminari dan termasuk siswa pandai. Ada kejadian menarik memang: di seminari yang diampu romo-roma yang konservatif, justru Stalin bertemu dengan Marxisme. Sembunyi-sembunyi ia mempelajarinya. Perkenalan itu pula yang menyebabkan Stalin ditendang dari seminari.


Mungkin yang menarik bukan kisah itu. Tapi kisah ini:


Stalin memimpin Soviet pada masa yang tak mudah. Ia menghadapi dua pertentangan ganda paska revolusi. Kita tahu, dibandingkan Jerman dan Inggris, Soviet ketinggalan dalam industrialisasi. Selama bertahun-tahun Tzar mengekang perkembangan kapitalisme. Akibatnya, Soviet terseok-seok. Meneruskann Lenin, Stalin mulai memacu industrialisasi.


Neruda memberikan kesaksian dengan apik:


“Lenin meninggalkan warisan
negara bebas dan luas.
Stalin ditemani
sekolah dan tepung
alat cetak dan apel.
Stalin dari Volga
sampai salju
Utara tak dapat dilalui
meletakkan tangannya dan seorang pria
mulai membangun.
Kota-kota lahir.”

 

Usaha ini menimbulkan perubahan demografi. Kota-kota meluas. Pabrik-pabrik berdiri. Pedesaan menyempit. Daerah pertanian terkena hantaman. Mungkin di sinilah Stalin dianggap kejam. Stalin mulai menerapkan industrialisasi pertanian di pedesaan. Caranya: kolektifvitas pertanian.


“Pemerintah [Stalin] merasa dirinya terpaksa menjatuhkan kolektifvitas pertanian dengan kekerasan,” tulis Jean Paul Sartre dalam The Gost of Stalin “usaha-usaha berskala besar [maksudnya pertanian kolektif] lebih menguntungkan dan lebih mudah dikelola.” Para tuan tanah tentu melawan rencana Stalin. Mereka memobilisasi para petani penggarap yang berada dipihaknya. Perang saudara diambang pintu: tuan tanah vs petani miskin. Dalam situasi seperti itu, tulis Sartre: “dari tahun 1930 dan setelahnya, para pemimpin Soviet mempratekkan, atas nama kaum proletar, suatu kediktatoran tangan besi dalam menghadapi kaum tani yang bermusuhan.” Dan sejak saat itu tuduhan terhadap Stalin sudah pasti: totaliter.


Trotski yang sejak kematian Lenin sibuk mencari surat wasiat Lenin yang konon menyerahkan kempimpinan Soviet kepada dirinya, menemukan celah menghantam Stalin. Ia menghajar program kolektifvitas pertanian Stalin sebagai upaya membantai petani. Ia berpura-pura humanis: menangisi korban-korban Stalin. Dan setelah itu, memeluk teorinya yang tak pernah laku itu: Revolusi Permanen—sebuah risalah yang hanya dimamah biak sekte kiri tertentu.


Trotski dan pengikutnya selalu berangkat dari andaian tentang kemampuan proletar memimpin revolusi. Kita tahu, semenjak Adam belum mengunyah buah kuldi, kaum proletar memang kelas yang paling revolusioner. Tapi ada kondisi-kondisi yang menyebabkan semuanya tak seindah yang diandaikan Trotski. Karena fanatisme buta akan andaiannya sendiri, Trotski menolak semua usaha Partai Kiri yang dinilainya tak murni itu. Dan, Stalin dianggap sebagai dalang ketidakmurnian itu. Tentu saja, setelah masalah kolektifvitas pertanian, kerjasama Stalin dengan negara-negara borjuis untuk menghadang Hitler, menjadi serangan berikutnya kaum Trotskis.


Sedikit melenting: Pernah di Indonesia kaum Trotskis membuat ulah yang menggelikan—untuk tidak menyebutnya bodoh. Ketika PRD mendukung Megawati melawan Suharto yang berakhir pada peristiwa Kudatuli, orang-orang Trotskis menuduh langkah tersebut opurtunis. Tuduhan mereka sama persis dengan tuduhan terhadap Stalin. Dalam koran Pembebasan–koran partai PRD kala itu—edisi Mei 1999 tertulis begini: “Sambil ongkang-ongkang di atas kursi goyangnya di London (semisal yang dilakukan oleh Commitee for Worker’s International/CWI)…mereka mengeluarkan dogma-dogma untuk mengkritik bahwa PRD telah melakukan kesalahan besar. PRD telah menjadi partai opurtunis karena telah bekerjasama dengan partai borjuis, partai musuh kaum proletar…” Kita tahu, CWI merupakan sarang orang-orang Trotskis. Dengan pantun-patun kemurniannya mencemooh gerak Partai Kiri yang tak sesuai dengan dogma mereka. Tapi sejarah mencatat: langkah PRD tepat. Dan, orang-orang Trotskis tak mampu berkicau lagi.


Sekarang pun tak berubah: orang-orang Trotskis masih berusaha melemparkan ter hitam ke wajah Stalin. Tapi gerakan Kiri tak lagi mudah dikibuli. Sangat mudah membedakan mana emas mana imitasi. Barang imitasi yang dijajakan para Trotskis, walaupun terkesan revolusioner, tak memakau lagi. Tak mengherankan kalau mereka cuma nyempil di pojok gelanggang: menggumankan madah yang itu-itu saja.


Sikap Neruda terhadap Stalin, menarik. Ode a Stalin yang ditulis oleh Neruda ketika kematian Stalin, memperlihatkan penghormatan pada tokoh dari Georgia itu. Ode itu sulit ditemukan. Pernah diterjemahkan oleh Jerman Timur ke bahasa Jerman. Namun ketika diterbitkan kembali oleh Jerman Barat, ode itu disunat—tak masuk lagi dalam kumpulan. Untung ada orang kiri dari Boja yang kini bermukim di Swiss bisa menemukan Oda a Stalin yang memukai itu.


Neruda pernah mengidolakan Stalin. Dalam memornya ia menuliskan: “Aku telah ikut menyumbangkan bagianku dalam kultus individu itu. Pada masa-masa itu, kami melihat Stalin bagaikan sang penakluk yang telah menghancurkan tentara Hitler.” Tak mengherankan kalau kematian Stalin menimbulkan duka dalam dirinya:


“Menghadap laut Isla Negra, di pagi hari,
dikibarkan setengah tiang bendera Chili.
Aku di antara perak kabut kesepian dan pesisir
bercampur busa laut.
Setengah dari tiang dalam bidang biru,
bintang tunggal dari negaraku
tampak air mata antara langit dan bumi.”


Neruda memang kecewa terhadap Stalin. Namun, ketika diajak mengutuk Stalin, dengan tegas ia menggelengkan kepala. Baginya, menghardik Stalin sama saja dengan memberikan peluru pada lawan-lawan ideologi untuk menembak komunisme.


Dan, Stalin masih tegak di sana, seperti penutup Oda a Stalinmembiarkan semua bangsa, sebagai warisan, hidupnya.***


 

Lereng Merapi. 28.12.2012

Tulisan ini pernah dipublikasikan di The Globe Journal dan dibacakan dalam bedah buku Young Stalin dalam acara Apresiasi Sastra di Yogyakarta.


Ragil Nugroho

Tikus Merah

Pencemooh berhati lembut. Berkebun dan bercocok tanam. Membakar sampah. Makan makanan bergizi.

0 comments:

Posting Komentar