Untuk Thukul:
mungkin puisimu telah lumer
kata Lawan tak mendidih lagi
kawan-kawanmu menuju gedung dewan
tak butuh puisi
tapi segepok dusta, topeng
dan modal kepahlawanan masa lalu
Untuk Bimpet:
tak perlu risau, sobat
biar saja Aan, Habib, dan yang lain berebahan dengan Jendral
Penculik
siapa tahu mereka bisa belikan nisan
atas pusaramu
tak perlu engkau kutuk juga
toh mereka sedang mengeja kata sakti: taktik
tentu kau paham
taktik bisa memakan apa saja: termasuk dirimu
anggap saja dirimu satu undakan
untuk kejayaan mereka
toh Yesus berkorban untuk umat manusia
masih kuatkan kau memanggul kayu salib?
Buat Herman:
Bung, kini tak ada front lagi
yang dibutuhkan bukan lipatan massa
tapi rasa tak tahu malu
bersekutu dengan massa sudah usang
bersekutu dengan tentara adalah jalan terbaik
simpan dulu koranmu
baca ketika surup di tepi ciliwung
di halaman satu akan kau lihat gambar:
kawanmu berangkulan dengan serdadu
Buat Suyat:
nun jauh di sana
akan kau lihat dari atas bukit
wajah teman-temanmu di baliho
dengan raut necis: lengkap dengan kopyah dan dasi
di dada mereka berselempang jargon-jargon penuh buaian:
kami pembela rakyat! maka coblos kami!
Mari kawan-kawan
kita berhenti sejenak
zaman apa sekarang?
Lereng Merapi. 30.04.2013


0 comments:
Posting Komentar