Kepada yang Belum Kembali

by April 30, 2013 0 comments

 

Untuk Thukul:

mungkin puisimu telah lumer

kata Lawan tak mendidih lagi

kawan-kawanmu menuju gedung dewan

tak butuh puisi

tapi segepok dusta, topeng

dan modal kepahlawanan masa lalu

 

Untuk Bimpet:

tak perlu risau, sobat

biar saja Aan, Habib, dan yang lain berebahan dengan Jendral Penculik

siapa tahu mereka bisa belikan nisan

atas pusaramu

tak perlu engkau kutuk juga

toh mereka sedang mengeja kata sakti: taktik

tentu kau paham

taktik bisa memakan apa saja: termasuk dirimu

anggap saja dirimu satu undakan

untuk kejayaan mereka

toh Yesus berkorban untuk umat manusia

masih kuatkan kau memanggul kayu salib?

 

Buat Herman:

Bung, kini tak ada front lagi

yang dibutuhkan bukan lipatan massa

tapi rasa tak tahu malu

bersekutu dengan massa sudah usang

bersekutu dengan tentara adalah jalan terbaik

simpan dulu koranmu

baca ketika surup di tepi ciliwung

di halaman satu akan kau lihat gambar:

kawanmu berangkulan dengan serdadu

 

Buat Suyat:

nun jauh di sana

akan kau lihat dari atas bukit

wajah teman-temanmu di baliho

dengan raut necis: lengkap dengan kopyah dan dasi

di dada mereka berselempang jargon-jargon penuh buaian:

kami pembela rakyat! maka coblos kami!

 

Mari kawan-kawan

kita berhenti sejenak

zaman apa sekarang?

 

Lereng Merapi. 30.04.2013



Ragil Nugroho

Tikus Merah

Pencemooh berhati lembut. Berkebun dan bercocok tanam. Membakar sampah. Makan makanan bergizi.

0 comments:

Posting Komentar