PRAM—Revolusi

by April 16, 2013 0 comments

 





Pramoedya Ananta Toer—Pram—memang bukan ideolog. Ia hanya tukang sastra yang menggumuli sejarah negerinya. Tapi dari situ sepertinya ia paham hal ikhwal revolusi. Ini semacam parade percikan pemikirannya:

Revolusi, bagi Pram, adalah Prajnya Paramita—Dewi Kebijaksanaan Tertinggi. Kita tahu, dewi itu adalah sebuah patung persembahan Arok pada Dedes. Sebagai ibu dari segala kebajikan, revolusi melahirkan. Sebagaimana kelahiran, tulis Pram dalam Nilai dan Sampahnya: ia bukan hanya kelanjutan dari evolusi manusia dan masyarakat. Bukan pula sekadar merombak pondasi yang lama dengan yang baru. Tidak sebatas juga penjungkirbalikan tatanan lama yang jenuh, momentum dan penciptaan kondisi-kondisi baru setelah yang lama tumbang semata. Tapi revolusi bagi Pram: “Dia adalah dan terutama sekali pembebasan, dia adalah matarantai baru dalam rumah kemanusian.”

Ada dua kata kunci di sana: pembebasan dan rumah kemanusian.

Sebuah revolusi—karena ia suatu pembebasan—mesti mencegah lahirnya perbudakan dan penindasan. Bangunan tua itu dirobohkan. Nilai-nilai lama diganti dengan yang baru. Sebagai alegori, ada Sa’aman—protagonis—dalam novel Pram, Keluarga Gerilya. Sang tokoh bersama dua adik laki-lakinya membunuh sang bapak. Malam hari. Di bawah jembatan yang mengalir Sungai Ciliwing, Kopral Paijan—sang bapak yang anggota pasukan NICA—ditembak kepalanya oleh Kartiman—adik Sa’aman. Jasadnya kemudian ditendang ke tengah sungai.

Tentu menarik diajukan tanya: mengapa pembunuhan itu terjadi? Bapak merupakan kiasan dari golongan tua yang mengabdi pada kolonialisme. Dalam diri kolonialisme terdapat dua watak: penindasan dan perbudakan. Oleh sebab itu, perlu dipangkas habis. Di sini jelas, revolusi tak melulu berhubungan dengan bedil, granat atau boyonet. Lebih dari itu, revolusi merupakan perjuangan mental. Orang yang mentalnya keder tak mungkin mampu membunuh bapaknya sendiri; menghabisi masa lalu. Inilah yang disebut oleh Pram sebagai revolusi jiwa.

Dalam keterangan penutup novel Di Tepi Kali Bekasi, Pram menuliskan tentang perjuangan revolusi fisik tanpa persiapan ketentaraan, strategi, dan peralatan perang yang memadai sesungguhnya merupakan: “epos tentang revolusi jiwa—dari jiwa jajahan dan hamba menjadi jiwa mereka.”

Tak berlebihan kalau Pram menyandingan Revolusi 1945 dengan Revolusi Prancis. Dibandingkan Revolusi Industri di Inggris, bagi Pram, Revolusi Indonesia lebih unggul; revolusi industri hanya merupakan revolusi perkakas manusia dengan ditandai perkembangan permesinan pabrik, sementara revolusi 1945 selain membebaskan diri dari pitingan kolonialisme juga sekaligus melakukan revolusi jiwa. Oleh sebab itu, Revolusi Indonesia seperti kembar siam dengan Revolusi Prancis yang bermuara pada rumah kemanusian: persamaan, persaudaraan, dan kebebasan.

Tapi ujung revolusi berbeda. Revolusi Prancis yang didorong oleh kelas borjuasi mampu membabat tuntas feodalisme. Borjuasi merupakan kelas yang menanggung seluruh kehidupan masyarakat Prancis, kala damai maupun perang. Penilian Pram dalam hal ini cukup jitu. Ia melihat kaum feodal hanya benalu. Tak ada dalil lain: perlu dicabut sampai akar-akarnya. Inilah yang membuat kaum borjuasi Prancis tak mau menyisakan sedikit pun benalu-benalu itu. Tapi di Indonesia lain. Yang menanggung beban adalah kaum petani dan pekerja tambang. Inilah yang memberikan kehidupan pada para priyayi yang menghisap tengkuk mereka. Dan ditengkuk priyayi bersemi kekuasaan kolonial. Ada dua yang menghisap mereka yang ditindas: priyayi dan kekuasaan kolonial.

Revolusi ’45 memang membuat kolonialisme terkapar. Tapi kaum priyayi tetap dibiarkan tumbuh kembang. “Setelah kekuasaan kolonial pergi,” tulis Pram, “kaum priyayi yang menjadi pewaris dan penerus.” Inilah sebabnya revolusi terhenti. Pram menyimpulkan: “Revolusi Indonesia itu memang melengkung pada akhirnya…” Inilah sebab kenapa revolusi melengkung: “Para ideolog, para brahmana pemimpin politik itu, ternyata tidak serevolusioner ajarannya sendiri.” Artinya, ia tak tuntas: “Kaum satria secara alamiah kembali menduduki posisinya semasa kolonial dan pra kolonial, dan Revolusi itu, dalam bentuk dan jiwanya, sampai pada titik henti.”

Di sinilah revolusi belum selesai. Ada tugas yang tak tuntas dikerjakan. Jalan itu baru ditebas setengah jalan. Lantas siapa yang bisa menuntaskan?

Tentu bukan orang-orang kiri yang sekarang berpelukan dengan Jenderal Oranye dan konglomerat Hitam Tenan. Mereka telah menjadi pembokong perjuangann rakyat. Watak mereka tak beda jauh dengan Kopral Paijan, menukar prinsip untuk kemudahan hidup: makan roti dioles keju. Atau, orang-orang kiri yang menjadi penyokong Jenderal Penculik? Bukan juga. Mereka telah dikebumikan sebelum mati. Atau, orang-orang kiri yang berlagak sebagai humanis gadungan: mengutuk segala tindak kekerasan tentara sebagai tragedi kemanusian, tapi menyebut kawan-kawan mereka yang bersekutu dengan para jenderal hanya sebagai ‘langkah politik’ taktis? Jelas bukan.

Lalu? Biar jawaban itu menemukan muaranya sendiri.

Begitulah Pram menilai Revolusi Indonesia: sari dan ampasnya. Orang-orang trotskis mungkin pening membaca penjabaran Pram karena tak sesuai dengan Kitab Suci Marxisme dan Hadist Troski. Pram justru memakai istilah-istilah pengkastaan Hindu: priyayi, satria, sudra dan brahmana. Tak memakai ungkapan yang sudah paten dikalangan kiri: borjuis kecil, borjuis dan proletar. Tapi di sinilah letak kepiawaian Pram: ia berangkat dari yang ada bukan dari yang diandaikan ada. Pun, kaum Marxis sekolahan yang sibuk dengan ayat-ayat dari Marx, tapi tangannya tak pernah berjabatangan dengan massa, akan kehilangan akal. Mereka hanya akan berputar-putar pada penjabaran Marxisme yang abstrak, tak pernah menjangkar ke bumi, atau paling banter menghasilkan sebuah buku yang hanya dibaca sektenya sendiri. Bahasa mereka hanya bisa dipahami oleh kaum kiri krah putih, yang membicarakan Marx sambil ongkang-ongkang kaki di café.

Ah. Tapi, apakah bicara Pram dan Revolusi masih diperlukan saat ini? Jangan-jangan ini hanya nostalgia.


 Lereng Merapi. 08.02.2013

 NB: Selamat ultah, Bung Pram—6 Februari [sebuah ucapan yang terlambat karena sebelum tulisan ini muncul sudah keburu kena cekal].


Ragil Nugroho

Tikus Merah

Pencemooh berhati lembut. Berkebun dan bercocok tanam. Membakar sampah. Makan makanan bergizi.

0 comments:

Posting Komentar