Oleh: Tikus Merah
Sore telah lewat ketika anggota TM (Tikus Merah) berdatangan
ke rumah sesepuh TM, Hari “Gombloh” Sutanta, di Cilebut, Bogor, Jawa Barat.
Mereka yang baru datang antara lain: Andhika “Cok Bun” Permana Putra (Lentera,
Perindo), Isti Qomah (aktivis perempuan), Niken Ismoyo (detektif swasta), dan
Yusuf “Samen” Handoko (komandan satgas TM).
Sebelumnya, dua anggota TM, Agung Nugroho (Relawan
Kesehatan) dan Ragil Nugroho (pendukung PKS), sudah ada di rumah Gombloh.
Rumah Gombloh semakin rame. Sate kambing menjadi santapan
malam itu. Cemilan terhampar di karpet. Sembari makan, anggota TM bercericit
membicarakan hal-hal ringan.
Menjelang tengah malam perbincangan menjurus serius dan
panas. Andhika “Cok Bun” Permana terlibat debat sengit dengan Asri Oktavianty
berkaitan posisi orang-orang kiri di Perindo. Gombloh dan Samen sesekali
menimpali. Sedangkan Niken leyeh-leyeh karena kekeyangan, dan Isti asyik
menonton film Korea.
Pagi harinya perbincangan dilanjutkan membahas masalah
seputar militerisme. Dalam kesempatan ini sempat terjadi dialog yang memanas
antara Isti dengan Samen seputar stratak menghadapi bangkitnya militerisme.
Samen menampilkan jurus memukul lawan dengan tenaga dari pihak lain. Isti
menimpali bahwa taktik seperti itu bisa mengarah pada opurtunisme.
Sedangkan Cok Bun, merujuk pada pengalaman entah dari mana,
beranggapan tentara Indonesia bisa diubah menjadi tentara rakyat. Gombloh
membantah hal tersebut. Baginya tidak mungkin karena sedari awal tentara
Indonesia dibentuk sebagai anjing penjaga. Pendapat Gombloh dikuatkan oleh
Asri.
Begitulah kira-kira sari pati pertemuan anggota TM untuk
pertamakalinya.


0 comments:
Posting Komentar