[Penulis anggota Partai Bukan Rakyat Pekerja dan kandidat Doktor dalam Ilmu Klenik di Maridjan University, Cangkringan]
Kiri Romatik dan Cinta Kasih [untuk tak menyebutnya pengecut
dan cengeng] dengan segala cara akan berkelit dari sebaris kata Mao ini:
kekuasaan ada di ujung bedil. Maka sindiran Cut Tari pada mereka tak
mleset: “Kamu keluarin di mana,” [desah Cut Tari dalam adegan
persetubuhan yang terekam di video dewasa berdurasi 8 menit 47 detik itu].
Begini kisahnya kenapa bedil masuk dalam tradisi Kiri:
Setelah 72 hari mendirikan pemerintahan proletariat lewat pemberontakan
bersenjata, Komune Paris mendapatkan serangan balik yang mematikan. Konon
pertempuran itu berlangsung selama 8 hari. Pasukan borjuis dipimpin langsung
oleh Louis-Adolphe Thiers, menggempur kekuasaan proletar pertama yang berdiri
pada tahun 1871 itu.
Dinding Komune di pemakaman Pere Lachaise menjadi saksi
bisu. Di tempat itu, orang-orang komunis dibantai. Senapan biasa kurang cepat
sebagai senjata pembunuh. Sebagai ganti, senapan mesin membrondongkan peluru ke
tubuh penganut ideologi Palu Arit itu. Pun, parit barikade di St. Florentin
sedalam 16 kaki penuh dengan bangkai-bangkai pejuang Komune Paris—laki-laki dan
perempuan. Setelah parit itu penuh dengan mayat, lantas diuruk dengan batu
kapur, kemudian diratakan dengan tanah. Dan, sekarang bekas pekuburan masal
orang-orang komunis itu menjadi tempat wisata.
Komune Paris rontok. Benteng mereka di puncak Belleville dan
Menilmontant dikuasai pasukan borjuis. Tapi bukan itu yang penting. Yang jelas
setelah itu Marx sadar. “Kalau Komune Paris tak dipertahankan dengan bedil,”
kata Marx, “maka tak akan mampu bertahan lebih dari 72 hari.” Dengan kata lain:
Komune itu ditegakkan dengan bedil, dipertahankan dengan bedil dan dikalahkan
pula dengan bedil kaum borjuasi. Jadi, Mao tak ngelindur atau mengigau ketika
mengatakan “kekuasaan ada di laras bedil” [sebetulnya untuk memahami
aforisme Mao ini tak perlu pergi jauh ke Negeri Kiwi yang kemudian
memamerkannya—karena hanya akan menunjukkan narsime manusia dunia ketiga yang
norak dengan gelar akademik dan luar negeri; cukup dengan kejujuran dalam
berpikir]
Pertayaan bisa diajukan: Apakah revolusi Cina bisa
bertahankan hingga sekarang kalau tak dipertahankan dengan bedil? Bisakah
revolusi Kuba tegak hingga saat ini kalau tak dilindungi dengan bedil? Mampukah
revolusi Iran bertahan kalau mereka tak memegang bedil? Kiri Romantik dan Cinta
Kasih tak perlu menjawabnya karena hanya menghasilkan sedu sedan ala Tommy J.
Pisa.
Bedil telah membuktikan kekuasaan bisa muncul dan terguling.
Dalam sejarah Revolusi Indonesia, peran bedil dicatat dengan apik oleh
Pramoedya Ananta Toer lewat karya-karyanya: Di Tepi Kali Bekasi,
Keluarga Gerilya, Perburuan, Percikan Revolusi, Subuh, dll, dsb.
Silakan dimungkiri semua itu. Tapi penggalan lagu Fatin, Aku Memilih
Setia, ini bisa dijadikan renungan:
“Seribu kali
logika untuk menolak
Tapi ku tak
bisa bohongi hati kecilku
Bila saja
diriku ini masih sendiri
Pasti ku kan memilih…kan memilih mu.” [tolong
“mu” dibaca “bedil”]
Di Mesir kediktatoran militer juga dipancang dengan
bedil lewat kudeta tahun 1952. Nasser naik ke kekuasaan. Era Nasser sering
disebut era otoriterisme kharismatik. Kekuasaan ini tak hanya membutuhkan
represi untuk bertahan [dan tentu bedil sangat berperan], tapi juga kharisma
Nasser. Pengganti Nasser, Anwar Sadat sampai Mubarak meneruskan itu—dengan
sedikit variasi dengan menguak demokrasi. Selama kurun itu, bedil berperan
sebagai benteng pelindung, persis Indonesia pada masa Suharto. Dan, Ikhwanul
Muslimin [IM] ditempa dalam kondisi seperti itu.
Ada mantan aktivis Kiri yang ongol [ini
bahasa Makassar, silakan cari sendiri artinya, kalau berminat], yang mengatakan
bahwa setelah kudeta penggulingan Mursi, pertarungan selanjutnya hanya antara
tentara vs kekuatan revolusioner. Pandangan ini tentu
mengandaikan IM akan tidur dengan pulas paska kudeta. Seolah-olah IM disamakan
dengan organisi Kiri di Indonesia dan organisasi Kiri bertendensi Trotskis—yang
begitu gagah dalam teori, kutipan dan catatan kaki, tapi tak pernah mampu
meluaskan struktur akibat kecongkakan [untuk tak menyebutnya akibat
keterbelakangan berpikir]. IM tak letoy seperti organisasi
Kiri di Indonesia. Kita lihat faktanya:
IM yang berdiri tahun 1928 itu sudah hidup dalam segala
musim politik Mesir yang bisa berubah kapan saja. Mereka terlibat melawan
penjajahan. Setelah merdeka, selama rezim diktator tentara, kader-kader IM
banyak yang di penjara dan diburu. Mesin organisasi hendak ditumpas. Mereka
memang memakai perjuangan bersenjata untuk berhadap-hadapan muka dengan muka
dengan kekuasaan. Dengan cara seperti itu mereka tak bisa menumbangkan
kekuasaan. Memasuki tahun 1980 ketika kran politik sedikit dibuka, IM ambil peranan
dalam Pemilu.
Ada dua cara yang ditempuh IM untuk memanfaatkan ruang
demokrasi di bawah rezim diktator. Pertama, IM berusaha masuk ke dalam
organisasi-oraganisi profesi. Hasilnya memuaskan. Mereka menguasai kepemimpinan
di organisasi dokter, insinyur, ahli kimia, wartawan hingga pengacara. Artinya,
mereka telah berhasil menggengam kelas menengah terdidik yang haus akan
perubahan. Kedua, mereka mempersiapkan struktur guna terlibat dalam Pemilu.
Dalam ruang elektoral, IM ikut Pemilu sejak tahun 1984. Pada
Pemilu pertama, IM berkoalisi dengan Partai Wafd, tahun 1987 dengan Partai
Buruh. Pada Pemilu 1995—dianggap Pemilu tercurang—IM hanya mendatkan 1
perwakilan, sementara Pemilu 2000—yang dinilai relatif jujur—mendapatkan 17
perwakilan. Dan, dalam Pemilu 2005, IM memenangkan 88 kursi. Sebagai puncaknya,
dalam Pemilu paling demokratis setelah kejatuhan Mubarak, IM berhasil menjadi
partai penguasa.
Aliansi culas kaum Trotskis, kekuatan lama [Mubarak] dan
tentara kemudian memenggal proses demokrasi di tengah jalan. Sepertinya kaum
Trotskis memang ditakdirkan untuk menjadi pengkhianat sepanjang zaman, titisan
Yudas dalam ujud aslinya, Brutus dalam tindakannya. Dalam kasus Mesir, tak
malu-malu—setelah kalah dalam Pemilu—bersekutu dengan tentara dan sisa-sisa
kediktatoran. Dan, tanpa malu kemudian menyebut proses ini sebagai Revolusi.
Bisa dikatakan “Revolusi” ala kaum Trotkis di Mesir memang brutal. Setelah
merebut kekuasaan, tentara menutup stasiun televisi dan koran yang dianggap
musuh [lagi-lagi persis kudeta 1965, hanya media milik dan dekat dengan
tentara yang boleh terbit], menangkapi pimpinan IM, dan menembak mati
pendukung Mursi yang sedang salat Subuh [kebengisan terakhir ini memang
hanya terdapat dalam “Revolusi” ala Trotskis].
Memang kaum Trotskis berkelit tentang peranan tentara. Ada
komentar dari petinggi salah satu organisasi Kiri di Indonesia [yang waktu
organisasinya pecah nangis bombay karena dari anggotanya sebelum pecah
berjumlah 34, setelah pecah tinggal 14; aduh, jumlah anggotanya kok cuma
segitu, kalah dengan anggota arisan pengajian ibu-ibu di kampung], yang
mengatakan tentara telah mencolong hasil perjuangan rakyat Mesir. Tapi
argumentasi ini tak perlu dibantah sebab telah menunjukkan ketaklengkapan
berpikir sejak dalam kandungan. Lebih baik kita maju setapak lagi.
Kepala berita Harian Kompas tanggal 7 Juni
sangat menggembirakan [saking gembira membacanya sampai-sampai saya memeluk
istri saya]. Tertulis anak judul begini: Kelompok Garis Keras
Bersenjata Pendukung Mursi Mulai Lancarkan Aksi. Sebelumnya sempat ada
kekhawatiran kalau-kalau IM hanya akan menggunakan kekuatan massa untuk melawan
kudeta. Tapi berita itu meredakan kekhwatiran tersebut. Pada akhirnya IM
menggabungkan aksi massa dengan perjuangan bersenjata. Dalam sejarah Indonesia
pernah terjadi masa kelam ketika PKI tak melakukan perlawanan paska kudeta 1965
sehingga menjadi korban pembantaian, pemenjaraan dan pembuangan. Dalam kasus
Mesir, rupa-rupanya IM sanggup berlawan.
Tak penting apakah kekuatan bersenjata IM akan disebut
fundamentalis, teroris atau pemberontak. Toh semua itu label. Ketika hasil
kotak suara [Pemilu] diberaki oleh tentara dan pengkhianatan kaum Trotskis
serta sisa-sisa kediktatoran Mubarak, menempuh jalan bersenjata untuk
merebutnya kembali adalah sah-sah saja. Ada komentar vulgar [untuk tak
menyebutnya dungu] dari orang Kiri senior: silakan pendukung Mursi demo
asal tidak memakai kekerasan. Sepertinya beliau menghendaki IM melawan dengan
poster saja sementara kader-kader mereka dijadikan sasaran peluru tentara dan
ditangkapi.
Kudeta militer di
Mesir tak ubahnya mempermainkan kelamin seekor Singa gurun pasir yang sedang
bobok manis di bawah pohon. Tentu Singa itu tak akan tinggal diam.
Ketika perjuangan IM berhasil mengalahkan kudeta, mereka
berhak juga menyebutnya Revolusi [misalnya, Revolusi Halaman Terakhir, atau
Revolusi Catatan Kaki atau Revolusi Jilid yang Terlepas]. Seperti sejarah,
penyebutan Revolusi tergantung pihak yang menang; seperti kaum Trotskis
membungkus kudeta Mesir dengan dusta Revolusi. Toh, bukankah seekor musang pun
bisa diberi seragam domba seperti yang dilakukan kaum Trotskis?
Nah Bung, sekarang Cut Tari tanya: “Kamu keluarin di
mana?”***
Lereng Merapi.
09.07.2013


0 comments:
Posting Komentar