Bedil & Ikhwanul Muslimin

by Juli 09, 2013 0 comments



[Penulis anggota Partai Bukan Rakyat Pekerja dan kandidat Doktor dalam Ilmu Klenik di Maridjan University, Cangkringan]


Kiri Romatik dan Cinta Kasih [untuk tak menyebutnya pengecut dan cengeng] dengan segala cara akan berkelit dari sebaris kata Mao ini: kekuasaan ada di ujung bedil. Maka sindiran Cut Tari pada mereka tak mleset: “Kamu keluarin di mana,” [desah Cut Tari dalam adegan persetubuhan yang terekam di video dewasa berdurasi 8 menit 47 detik itu].


Begini kisahnya kenapa bedil masuk dalam tradisi Kiri: Setelah 72 hari mendirikan pemerintahan proletariat lewat pemberontakan bersenjata, Komune Paris mendapatkan serangan balik yang mematikan. Konon pertempuran itu berlangsung selama 8 hari. Pasukan borjuis dipimpin langsung oleh Louis-Adolphe Thiers, menggempur kekuasaan proletar pertama yang berdiri pada tahun 1871 itu.


Dinding Komune di pemakaman Pere Lachaise menjadi saksi bisu. Di tempat itu, orang-orang komunis dibantai. Senapan biasa kurang cepat sebagai senjata pembunuh. Sebagai ganti, senapan mesin membrondongkan peluru ke tubuh penganut ideologi Palu Arit itu. Pun, parit barikade di St. Florentin sedalam 16 kaki penuh dengan bangkai-bangkai pejuang Komune Paris—laki-laki dan perempuan. Setelah parit itu penuh dengan mayat, lantas diuruk dengan batu kapur, kemudian diratakan dengan tanah. Dan, sekarang bekas pekuburan masal orang-orang komunis itu menjadi tempat wisata.


Komune Paris rontok. Benteng mereka di puncak Belleville dan Menilmontant dikuasai pasukan borjuis. Tapi bukan itu yang penting. Yang jelas setelah itu Marx sadar. “Kalau Komune Paris tak dipertahankan dengan bedil,” kata Marx, “maka tak akan mampu bertahan lebih dari 72 hari.” Dengan kata lain: Komune itu ditegakkan dengan bedil, dipertahankan dengan bedil dan dikalahkan pula dengan bedil kaum borjuasi. Jadi, Mao tak ngelindur atau mengigau ketika mengatakan “kekuasaan ada di laras bedil” [sebetulnya untuk memahami aforisme Mao ini tak perlu pergi jauh ke Negeri Kiwi yang kemudian memamerkannya—karena hanya akan menunjukkan narsime manusia dunia ketiga yang norak dengan gelar akademik dan luar negeri; cukup dengan kejujuran dalam berpikir]


Pertayaan bisa diajukan: Apakah revolusi Cina bisa bertahankan hingga sekarang kalau tak dipertahankan dengan bedil? Bisakah revolusi Kuba tegak hingga saat ini kalau tak dilindungi dengan bedil? Mampukah revolusi Iran bertahan kalau mereka tak memegang bedil? Kiri Romantik dan Cinta Kasih tak perlu menjawabnya karena hanya menghasilkan sedu sedan ala Tommy J. Pisa.


Bedil telah membuktikan kekuasaan bisa muncul dan terguling. Dalam sejarah Revolusi Indonesia, peran bedil dicatat dengan apik oleh Pramoedya Ananta Toer lewat karya-karyanya: Di Tepi Kali Bekasi, Keluarga Gerilya, Perburuan, Percikan Revolusi, Subuh, dll, dsb. Silakan dimungkiri semua itu. Tapi penggalan lagu Fatin, Aku Memilih Setia, ini bisa dijadikan renungan:


Seribu kali logika untuk menolak

Tapi ku tak bisa bohongi hati kecilku

Bila saja diriku ini masih sendiri

Pasti ku kan memilih…kan memilih mu.” [tolong “mu” dibaca “bedil”]


 Di Mesir kediktatoran militer juga dipancang dengan bedil lewat kudeta tahun 1952. Nasser naik ke kekuasaan. Era Nasser sering disebut era otoriterisme kharismatik. Kekuasaan ini tak hanya membutuhkan represi untuk bertahan [dan tentu bedil sangat berperan], tapi juga kharisma Nasser. Pengganti Nasser, Anwar Sadat sampai Mubarak meneruskan itu—dengan sedikit variasi dengan menguak demokrasi. Selama kurun itu, bedil berperan sebagai benteng pelindung, persis Indonesia pada masa Suharto. Dan, Ikhwanul Muslimin [IM] ditempa dalam kondisi seperti itu.


Ada mantan aktivis Kiri yang ongol [ini bahasa Makassar, silakan cari sendiri artinya, kalau berminat], yang mengatakan bahwa setelah kudeta penggulingan Mursi, pertarungan selanjutnya hanya antara tentara vs kekuatan revolusioner. Pandangan ini tentu mengandaikan IM akan tidur dengan pulas paska kudeta. Seolah-olah IM disamakan dengan organisi Kiri di Indonesia dan organisasi Kiri bertendensi Trotskis—yang begitu gagah dalam teori, kutipan dan catatan kaki, tapi tak pernah mampu meluaskan struktur akibat kecongkakan [untuk tak menyebutnya akibat keterbelakangan berpikir]. IM tak letoy seperti organisasi Kiri di Indonesia. Kita lihat faktanya:


IM yang berdiri tahun 1928 itu sudah hidup dalam segala musim politik Mesir yang bisa berubah kapan saja. Mereka terlibat melawan penjajahan. Setelah merdeka, selama rezim diktator tentara, kader-kader IM banyak yang di penjara dan diburu. Mesin organisasi hendak ditumpas. Mereka memang memakai perjuangan bersenjata untuk berhadap-hadapan muka dengan muka dengan kekuasaan. Dengan cara seperti itu mereka tak bisa menumbangkan kekuasaan. Memasuki tahun 1980 ketika kran politik sedikit dibuka, IM ambil peranan dalam Pemilu.


Ada dua cara yang ditempuh IM untuk memanfaatkan ruang demokrasi di bawah rezim diktator. Pertama, IM berusaha masuk ke dalam organisasi-oraganisi profesi. Hasilnya memuaskan. Mereka menguasai kepemimpinan di organisasi dokter, insinyur, ahli kimia, wartawan hingga pengacara. Artinya, mereka telah berhasil menggengam kelas menengah terdidik yang haus akan perubahan. Kedua, mereka mempersiapkan struktur guna terlibat dalam Pemilu.


Dalam ruang elektoral, IM ikut Pemilu sejak tahun 1984. Pada Pemilu pertama, IM berkoalisi dengan Partai Wafd, tahun 1987 dengan Partai Buruh. Pada Pemilu 1995—dianggap Pemilu tercurang—IM hanya mendatkan 1 perwakilan, sementara Pemilu 2000—yang dinilai relatif jujur—mendapatkan 17 perwakilan. Dan, dalam Pemilu 2005, IM memenangkan 88 kursi. Sebagai puncaknya, dalam Pemilu paling demokratis setelah kejatuhan Mubarak, IM berhasil menjadi partai penguasa.


Aliansi culas kaum Trotskis, kekuatan lama [Mubarak] dan tentara kemudian memenggal proses demokrasi di tengah jalan. Sepertinya kaum Trotskis memang ditakdirkan untuk menjadi pengkhianat sepanjang zaman, titisan Yudas dalam ujud aslinya, Brutus dalam tindakannya. Dalam kasus Mesir, tak malu-malu—setelah kalah dalam Pemilu—bersekutu dengan tentara dan sisa-sisa kediktatoran. Dan, tanpa malu kemudian menyebut proses ini sebagai Revolusi. Bisa dikatakan “Revolusi” ala kaum Trotkis di Mesir memang brutal. Setelah merebut kekuasaan, tentara menutup stasiun televisi dan koran yang dianggap musuh [lagi-lagi persis kudeta 1965, hanya media milik dan dekat dengan tentara yang boleh terbit], menangkapi pimpinan IM, dan menembak mati pendukung Mursi yang sedang salat Subuh [kebengisan terakhir ini memang hanya terdapat dalam “Revolusi” ala Trotskis].


Memang kaum Trotskis berkelit tentang peranan tentara. Ada komentar dari petinggi salah satu organisasi Kiri di Indonesia [yang waktu organisasinya pecah nangis bombay karena dari anggotanya sebelum pecah berjumlah 34, setelah pecah tinggal 14; aduh, jumlah anggotanya kok cuma segitu, kalah dengan anggota arisan pengajian ibu-ibu di kampung], yang mengatakan tentara telah mencolong hasil perjuangan rakyat Mesir. Tapi argumentasi ini tak perlu dibantah sebab telah menunjukkan ketaklengkapan berpikir sejak dalam kandungan. Lebih baik kita maju setapak lagi.


Kepala berita Harian Kompas tanggal 7 Juni sangat menggembirakan [saking gembira membacanya sampai-sampai saya memeluk istri saya]. Tertulis anak judul begini: Kelompok Garis Keras Bersenjata Pendukung Mursi Mulai Lancarkan Aksi. Sebelumnya sempat ada kekhawatiran kalau-kalau IM hanya akan menggunakan kekuatan massa untuk melawan kudeta. Tapi berita itu meredakan kekhwatiran tersebut. Pada akhirnya IM menggabungkan aksi massa dengan perjuangan bersenjata. Dalam sejarah Indonesia pernah terjadi masa kelam ketika PKI tak melakukan perlawanan paska kudeta 1965 sehingga menjadi korban pembantaian, pemenjaraan dan pembuangan. Dalam kasus Mesir, rupa-rupanya IM sanggup berlawan.


Tak penting apakah kekuatan bersenjata IM akan disebut fundamentalis, teroris atau pemberontak. Toh semua itu label. Ketika hasil kotak suara [Pemilu] diberaki oleh tentara dan pengkhianatan kaum Trotskis serta sisa-sisa kediktatoran Mubarak, menempuh jalan bersenjata untuk merebutnya kembali adalah sah-sah saja. Ada komentar vulgar [untuk tak menyebutnya dungu] dari orang Kiri senior: silakan pendukung Mursi demo asal tidak memakai kekerasan. Sepertinya beliau menghendaki IM melawan dengan poster saja sementara kader-kader mereka dijadikan sasaran peluru tentara dan ditangkapi.


Kudeta militer di Mesir tak ubahnya mempermainkan kelamin seekor Singa gurun pasir yang sedang bobok manis di bawah pohon. Tentu Singa itu tak akan tinggal diam.


Ketika perjuangan IM berhasil mengalahkan kudeta, mereka berhak juga menyebutnya Revolusi [misalnya, Revolusi Halaman Terakhir, atau Revolusi Catatan Kaki atau Revolusi Jilid yang Terlepas]. Seperti sejarah, penyebutan Revolusi tergantung pihak yang menang; seperti kaum Trotskis membungkus kudeta Mesir dengan dusta Revolusi. Toh, bukankah seekor musang pun bisa diberi seragam domba seperti yang dilakukan kaum Trotskis?


Nah Bung, sekarang Cut Tari tanya: “Kamu keluarin di mana?”***


Lereng Merapi. 09.07.2013


Ragil Nugroho

Tikus Merah

Pencemooh berhati lembut. Berkebun dan bercocok tanam. Membakar sampah. Makan makanan bergizi.

0 comments:

Posting Komentar