Kata-kata Mao sulit dibantah dan dibabat: kekuasaan ada di laras bedil.
Mursi, presiden Mesir yang terpilih secara demokratis itu,
akhirnya dikudeta tentara. Peristiwanya mirip Kudeta 1965: rakyat dimobilisasi
untuk menuntut Mursi mundur, dan dari situ tentara memperoleh stempel untuk
mengambil alih kekuasaan.
Di Indonesia waktu itu, pelajar hingga mahasiswa dikerahkan
dalam kesatuan-kesatuan aksi, membanjiri jalan-jalan dengan tuntutan PKI mesti
bubarkan dan Sukarno wajib turun. Ada pula korban yang mati guna dijadikan
martil: Arief Rahman Hakim. Situasi semakin keruh. Sukarno kikuk untuk
bertindak. Tentara maju mengambil alih. Kekuasaan dipasrahkan pada MPRS untuk
mencopot Sukarno dan menyelenggarakan Pemilu. Suharto ditunjuk sebagai Pjs
Presiden. Dan, di belakang layar: orang-orang Komunis dipenggal, dipenjara
serta dibuang. Inilah yang oleh para sejarawan disebut sebagai Kudeta
Merangkak. Sejak saat itu tentara berjaya, hingga kini.
[Mungkin] begitulah tentara melakukan kudeta secara
“modern”. Mereka tak lagi ujug-ujug menyerbu istana dengan
senjata, seperti Pinochet mengkudeta Allende. Tentara lebih memilih cara
memutar: biar saja massa bergerak dulu dan tentara cukup di belakang. Pada
titik didih, tentara akan maju ke depan, mengambil peranan dengan apologia: demi
stabilitas atau kepentingan nasional. Kekuasaan pun lingsut dalam ketiak
tentara. Dengan begitu kudeta tentara akan disambut dengan standing
applause. Dalih telah disiapkan: kami [tentara] mendukung kehendak rakyat.
Setelah episode itu, tentara pura-pura demokratis dengan
membentuk pemerintahan sementara [tentu saja dengan janji Pemilu yang
dipercepat], sembari melihat peluang: bila dukungan rakyat besar dan tak alergi
pada tentara, mereka akan langsung mengambil kekuasaan; tapi bila rakyat
setengah-setengah mendukung, mereka [tentara] akan mencari boneka sipil yang
bisa dikendalikan.
Mursi mengikuti satu-satunya prosedur yang dihalalkan oleh
demokrasi borjuis guna berkuasa: Pemilu. Sewaktu Nasser masih jaya, Ikhwanul
Muslimin [IM] mengambil jalan perjuangan bersenjata, tanpa kenal lelah.
Kader-kader mereka banyak dibui. Hampir saja IM tumpas. Organisasi berantakan.
Lalu Anwar Sadat muncul: membuka sedikit demokrasi. IM
memutar haluan dengan memilih jalan parlementer. Mereka membangun partai untuk
bertarung dalam Pemilu. “Pimpinan gerakan yang berasal dari ‘generasi
penjara’,” tulis Greg Fealy, dkk, dalam Zealous Democrats:
Islamism and Democracy in Egypt, Indonesia and Turky, “melihat
keuntungan dalam aktivisme elektoral yang memungkinkan gerakan ini mengiklankan
kehadirannya di masyarakat dan mengungkapkan pesan reformasi tanpa, di saat
yang sama, bersitegang secara langsung dengan rezim.” Taktik IM ini
jitu. IM membangun struktur partai secara luas. Memang, dalam kondisi
organisasi lemah, tak ada untungnya bertarung secara langsung dengan kekuasaan
otoriter yang menggurita. Mereka mencoba lentur mengikuti irama gendang yang
ditabuh penguasa. Adanya celah demokrasi, walaupun seiprit, perlu dimanfaatkan.
Sudah tepat. Tapi ada satu yang dilupakan oleh IM. Apa itu? Nanti akan
dimunculkan.
Yang ditanam IM berbuah. Ketika kediktatoran Mubarak
berhasil dirubuhkan oleh Revolusi, sebuah Pemilu paling demokratis pertama
digelar di negeri Firaun itu. Mungkin hasilnya mengejutkan: IM menang dalam
Pemilu parlemen dan presiden—sebelumnya kejutan terjadi di Palestina ketika
Hamas menang Pemilu. Mursi marak kekuasaan. IM menjadi partai penguasa.
Dan, demokrasi borjuis mulai memunggungi ajarannya sendiri.
Ketika yang menang yang tak dikehendaki, kekuasaan yang sah mulai dirongrong.
Mursi dan IM, seperti Iran, tak disenangi oleh bangsa-bangsa dari Utara. Mereka
mau mengatur negara menurut kehendak mereka sendiri, tak mau patuh dan tunduk
pada keinginan tuan-tuan dari Utara. Maka sebelum terlambat seperti di
Venezuela, mesti dicari jalan untuk menggulingkannya.
Kita tentu ingat Salvador Allende. Dokter bersahaja itu
berhasil memenangkan Pemilu di Chile. Ia ingin sosialisme. Tentu saja Amerika
dan tentara Chile tak suka. Ia dikudeta. Kepalanya pecah ditembak tentara di
dalam istananya. Hugo Chaves juga mengikuti prosedur borjuasi, ikut Pemilu dan
menang. Ia ingin membawa Venezuela keluar dari kemiskinan dan hisapan
kapitalis. Ia dikudeta oleh tentara karena dianggap membahayakan. Tapi, Chaves
berhasil merebut kembali kekuasaannya.
Semua itu, dengan kata lain, dalam demokrasi borjuis, siapa
saja boleh bertarung, tapi yang menang mesti “aku”. Aku = borjuis. Bila yang
menang “kalian”, maka “aku” [borjuis] akan mengulingkan “kalian” dengan seribu
cara. Dan, ini yang perlu dicatat: borjuis selalu dijaga oleh ajing bernama
serdadu, yang bila kepentingan tuannya terganggu akan menyalak dan menggigit.
Ada tempik sorak dikalangan kiri di Indonesia [terutama
dari sekte Trotskis yang radikal di teori tapi nol putul dipratek; tak
mengherankan kalau anggota mereka tak lebih besar dari sebuah tim sepak bola
plus dua-tiga tukang pijat otak] atas kudeta yang terjadi di Mesir.
Tak tahu apa yang ada di benak orang-orang Kiri yang seperti itu. Mungkin
yang penting bagi mereka, Mursi dan IM tersungkur [karena organisasi ini
menjijikan dengan ideologi Islamnya yang kental; persis ketidaksukaan kepada
PKS]. Kalau dugaan ini tak meleset, ini tentu didasarkan rasa minder, karena
Kiri di Indonesia babak belur sehingga tak mampu bertarung di luar maupun di
dalam ruang elektoral. Sehingga, yang penting “musuh” dihancurkan, tak penting
lagi siapa yang menghancurkan: tentara sekali pun. Kiri semacam itu secara
sukarela telah menggali liang kuburnya sendiri. Lupa hakikat demokrasi, yakni
menjadikan tentara sebagi si Raksasa Bisu [la Grande Muette].
Muncul pula di kalangan anak-anak muda aktivis yang bersuka
ria dengan adanya kudeta di Mesir. Katanya kudeta di Mesir beda: tentara
sebetulnya hanya mengikuti kehendak rakyat, dan tentara
sebagai bagian dari rakyat tentu berhak mengambil peranan. Ini sedikit
mengejutkan [walaupun tak membuat harus koprol] mengingat pusara korban
kebrutalan Kopassus di Cebongan belum lagi mengering. Mungkin ini semacam
tanda: gerakan anti militerisme yang bermuara pada tahun 1998 di Indonesia,
seperti tetes hujan di musim kemarau, tak ada bekasnya. Tak mengherankan kalau
kemudian mencungul anak-anak muda yang percaya tentara sebagai dewa penyelamat
demokrasi seperti di Mesir. Dengan tanda seperti itu [tak perlu memakai ramalan
Jayabaya, sepertinya], maka tak perlu heran kalau setahun lagi Indonesia akan
dipimpin oleh Jendral Penculik.
Lantas apa yang dilupakan oleh Mursi, IM [dan Allende]?
Sejak memilih jalan parlementer, IM benar-benar menanggalkan perjuangan
bersenjata. Terperangkap bahwa demokrasi borjuis akan benar-benar demokratis,
tak akan main kayu. Lupa ada anjing-anjing bernama tentara yang siap mengokang
bedil. Maka, ketika dalam situasi krisis [kudeta], Mursi, IM [dan Allende] tak
siap. Dalam hitungan jam mereka bisa digulingkan dengan kudeta. Sandaran
mereka, massa tak bersenjata, tak mampu membendung panser, tank dan senapan
otomatis. Chaves tak meninggalkan itu. Ia punya milisi bersenjata yang siap
untuk melawan tentara yang hendak kudeta. Sebab itu, Chaves berhasil bertahan.
Artinya: oke-oke saja bertarung dalam ring elektoral, tapi
jangan karungi dulu sejantamu dan taruh di tempat yang mudah diambil untuk
digunakan sewaktu-waktu.
Pada titik ini, begitu saja percaya pada demokrasi borjuis
sama saja memasrahkan pengembalaan domba pada srigala. Dan, menitipkan
demokrasi pada tentara sama pandirnya dengan menitipkan dendeng pada anjing [orang-orang
Trotskis tak memahami ini karena sudah dungu sejak dalam pikiran].
Di sinilah Mao benar: kekuasaan ada di laras bedil.***
Lereng Merapi. 04.07.2013


0 comments:
Posting Komentar