Mursi

by Juli 05, 2013 0 comments

 


 Kata-kata Mao sulit dibantah dan dibabat: kekuasaan ada di laras bedil.


Mursi, presiden Mesir yang terpilih secara demokratis itu, akhirnya dikudeta tentara. Peristiwanya mirip Kudeta 1965: rakyat dimobilisasi untuk menuntut Mursi mundur, dan dari situ tentara memperoleh stempel untuk mengambil alih kekuasaan.


Di Indonesia waktu itu, pelajar hingga mahasiswa dikerahkan dalam kesatuan-kesatuan aksi, membanjiri jalan-jalan dengan tuntutan PKI mesti bubarkan dan Sukarno wajib turun. Ada pula korban yang mati guna dijadikan martil: Arief Rahman Hakim. Situasi semakin keruh. Sukarno kikuk untuk bertindak. Tentara maju mengambil alih. Kekuasaan dipasrahkan pada MPRS untuk mencopot Sukarno dan menyelenggarakan Pemilu. Suharto ditunjuk sebagai Pjs Presiden. Dan, di belakang layar: orang-orang Komunis dipenggal, dipenjara serta dibuang. Inilah yang oleh para sejarawan disebut sebagai Kudeta Merangkak. Sejak saat itu tentara berjaya, hingga kini.


[Mungkin] begitulah tentara melakukan kudeta secara “modern”. Mereka tak lagi ujug-ujug menyerbu istana dengan senjata, seperti Pinochet mengkudeta Allende. Tentara lebih memilih cara memutar: biar saja massa bergerak dulu dan tentara cukup di belakang. Pada titik didih, tentara akan maju ke depan, mengambil peranan dengan apologia: demi stabilitas atau kepentingan nasional. Kekuasaan pun lingsut dalam ketiak tentara. Dengan begitu kudeta tentara akan disambut dengan standing applause. Dalih telah disiapkan: kami [tentara] mendukung kehendak rakyat.


Setelah episode itu, tentara pura-pura demokratis dengan membentuk pemerintahan sementara [tentu saja dengan janji Pemilu yang dipercepat], sembari melihat peluang: bila dukungan rakyat besar dan tak alergi pada tentara, mereka akan langsung mengambil kekuasaan; tapi bila rakyat setengah-setengah mendukung, mereka [tentara] akan mencari boneka sipil yang bisa dikendalikan.


Mursi mengikuti satu-satunya prosedur yang dihalalkan oleh demokrasi borjuis guna berkuasa: Pemilu. Sewaktu Nasser masih jaya, Ikhwanul Muslimin [IM] mengambil jalan perjuangan bersenjata, tanpa kenal lelah. Kader-kader mereka banyak dibui. Hampir saja IM tumpas. Organisasi berantakan.


Lalu Anwar Sadat muncul: membuka sedikit demokrasi. IM memutar haluan dengan memilih jalan parlementer. Mereka membangun partai untuk bertarung dalam Pemilu. “Pimpinan gerakan yang berasal dari ‘generasi penjara’,” tulis Greg Fealy, dkk, dalam Zealous Democrats: Islamism and Democracy in Egypt, Indonesia and Turky“melihat keuntungan dalam aktivisme elektoral yang memungkinkan gerakan ini mengiklankan kehadirannya di masyarakat dan mengungkapkan pesan reformasi tanpa, di saat yang sama, bersitegang secara langsung dengan rezim.” Taktik IM ini jitu. IM membangun struktur partai secara luas. Memang, dalam kondisi organisasi lemah, tak ada untungnya bertarung secara langsung dengan kekuasaan otoriter yang menggurita. Mereka mencoba lentur mengikuti irama gendang yang ditabuh penguasa. Adanya celah demokrasi, walaupun seiprit, perlu dimanfaatkan. Sudah tepat. Tapi ada satu yang dilupakan oleh IM. Apa itu? Nanti akan dimunculkan.


Yang ditanam IM berbuah. Ketika kediktatoran Mubarak berhasil dirubuhkan oleh Revolusi, sebuah Pemilu paling demokratis pertama digelar di negeri Firaun itu. Mungkin hasilnya mengejutkan: IM menang dalam Pemilu parlemen dan presiden—sebelumnya kejutan terjadi di Palestina ketika Hamas menang Pemilu. Mursi marak kekuasaan. IM menjadi partai penguasa.


Dan, demokrasi borjuis mulai memunggungi ajarannya sendiri. Ketika yang menang yang tak dikehendaki, kekuasaan yang sah mulai dirongrong. Mursi dan IM, seperti Iran, tak disenangi oleh bangsa-bangsa dari Utara. Mereka mau mengatur negara menurut kehendak mereka sendiri, tak mau patuh dan tunduk pada keinginan tuan-tuan dari Utara. Maka sebelum terlambat seperti di Venezuela, mesti dicari jalan untuk menggulingkannya.


Kita tentu ingat Salvador Allende. Dokter bersahaja itu berhasil memenangkan Pemilu di Chile. Ia ingin sosialisme. Tentu saja Amerika dan tentara Chile tak suka. Ia dikudeta. Kepalanya pecah ditembak tentara di dalam istananya. Hugo Chaves juga mengikuti prosedur borjuasi, ikut Pemilu dan menang. Ia ingin membawa Venezuela keluar dari kemiskinan dan hisapan kapitalis. Ia dikudeta oleh tentara karena dianggap membahayakan. Tapi, Chaves berhasil merebut kembali kekuasaannya.


Semua itu, dengan kata lain, dalam demokrasi borjuis, siapa saja boleh bertarung, tapi yang menang mesti “aku”. Aku = borjuis. Bila yang menang “kalian”, maka “aku” [borjuis] akan mengulingkan “kalian” dengan seribu cara. Dan, ini yang perlu dicatat: borjuis selalu dijaga oleh ajing bernama serdadu, yang bila kepentingan tuannya terganggu akan menyalak dan menggigit.


Ada tempik sorak dikalangan kiri di Indonesia [terutama dari sekte Trotskis yang radikal di teori tapi nol putul dipratek; tak mengherankan kalau anggota mereka tak lebih besar dari sebuah tim sepak bola plus dua-tiga tukang pijat otak] atas kudeta yang terjadi di Mesir. Tak tahu apa yang ada di benak orang-orang Kiri yang seperti itu. Mungkin yang penting bagi mereka, Mursi dan IM tersungkur [karena organisasi ini menjijikan dengan ideologi Islamnya yang kental; persis ketidaksukaan kepada PKS]. Kalau dugaan ini tak meleset, ini tentu didasarkan rasa minder, karena Kiri di Indonesia babak belur sehingga tak mampu bertarung di luar maupun di dalam ruang elektoral. Sehingga, yang penting “musuh” dihancurkan, tak penting lagi siapa yang menghancurkan: tentara sekali pun. Kiri semacam itu secara sukarela telah menggali liang kuburnya sendiri. Lupa hakikat demokrasi, yakni menjadikan tentara sebagi si Raksasa Bisu [la Grande Muette].


Muncul pula di kalangan anak-anak muda aktivis yang bersuka ria dengan adanya kudeta di Mesir. Katanya kudeta di Mesir beda: tentara sebetulnya hanya mengikuti kehendak rakyat, dan tentara sebagai bagian dari rakyat tentu berhak mengambil peranan. Ini sedikit mengejutkan [walaupun tak membuat harus koprol] mengingat pusara korban kebrutalan Kopassus di Cebongan belum lagi mengering. Mungkin ini semacam tanda: gerakan anti militerisme yang bermuara pada tahun 1998 di Indonesia, seperti tetes hujan di musim kemarau, tak ada bekasnya. Tak mengherankan kalau kemudian mencungul anak-anak muda yang percaya tentara sebagai dewa penyelamat demokrasi seperti di Mesir. Dengan tanda seperti itu [tak perlu memakai ramalan Jayabaya, sepertinya], maka tak perlu heran kalau setahun lagi Indonesia akan dipimpin oleh Jendral Penculik.


Lantas apa yang dilupakan oleh Mursi, IM [dan Allende]? Sejak memilih jalan parlementer, IM benar-benar menanggalkan perjuangan bersenjata. Terperangkap bahwa demokrasi borjuis akan benar-benar demokratis, tak akan main kayu. Lupa ada anjing-anjing bernama tentara yang siap mengokang bedil. Maka, ketika dalam situasi krisis [kudeta], Mursi, IM [dan Allende] tak siap. Dalam hitungan jam mereka bisa digulingkan dengan kudeta. Sandaran mereka, massa tak bersenjata, tak mampu membendung panser, tank dan senapan otomatis. Chaves tak meninggalkan itu. Ia punya milisi bersenjata yang siap untuk melawan tentara yang hendak kudeta. Sebab itu, Chaves berhasil bertahan. Artinya: oke-oke saja bertarung dalam ring elektoral, tapi jangan karungi dulu sejantamu dan taruh di tempat yang mudah diambil untuk digunakan sewaktu-waktu.


Pada titik ini, begitu saja percaya pada demokrasi borjuis sama saja memasrahkan pengembalaan domba pada srigala. Dan, menitipkan demokrasi pada tentara sama pandirnya dengan menitipkan dendeng pada anjing [orang-orang Trotskis tak memahami ini karena sudah dungu sejak dalam pikiran].


Di sinilah Mao benar: kekuasaan ada di laras bedil.***


Lereng Merapi. 04.07.2013

Ragil Nugroho

Tikus Merah

Pencemooh berhati lembut. Berkebun dan bercocok tanam. Membakar sampah. Makan makanan bergizi.

0 comments:

Posting Komentar