Kera, Kera, Kera

by November 03, 2014 0 comments



Menghadapi Orde Kera (maaf huruf “j” di computer rusak) dengan slogan: kera, kera, kera (maaf huruf “j” di computer rusak); pemikiran Nietzsche perlu didudah lagi. Hanya lewat pasase Nietzsche: “Aku bukan manusia, aku dinamit”, Orde Kera akan mendapatkan lawan yang tangguh.

“Dimana kaum barbar abad ke 20 berada?” ejek Friedrich Nietzsche.

Nietzsche jengah dengan kondisi Eropa yang berpuas diri pasca Pencerahan. Laki lakinya sibuk mematut diri. Perempuannya menghabiskan waktu bersolek. Mereka berputar putar dari panggung opera satu ke opera yang lain. Tak berani pergi melewati batas wilayahnya. Urat nadi kehidupan seperti mandeg.

Tak ada laki laki yang pulang dengan pedang bermandi darah kering setelah menundukkan wilayah lain. Tak ada kepala kepala yang ditenteng sebagai bukti kemenangan. Tak ada upacara penyambutan yang hingar dengan tetabuhan. Tak ada perempuan yang membersihkan baju suaminya yang bercampur debu dan amis darah. Semuanya serba tentram dan tertata. Akhir pekan berlibur ke pantai. Minggu pagi sembahyang di gereja. Senin sampai Jumat pergi ke tempat kerja. Masyarakat menjadi jinak seperti merpati.

Situasinya sama dengan di Indonesia saat ini. Demokrasi telah menghilangkan watak barbar. Masyarakat sudah puas dengan yang ada. Kebebasan bicara menjadikan orang menjadi ceriwis tapi tak mempunyai nyali sebagai penakluk. Semua serba dalam aturan dan siklus yang berulang. Lima tahun sekali berbondong bondong ke tempat pemungutan suara. Setelah itu pulang dan tak peduli lagi dengan apa yang dipilihnya. Persis anak sekolah yang bergerak karena rutinitas.

Kita kehilangan sosok seperti Ken Arok yang berani ugal ugalan. Anak desa tampa ayah yang jelas itu berani menggulingkan Tunggul Ametung dan merampas Ken Dedes. Tak ada lagi sosok Wironggaleng, anak desa yang menantang Portugis di Selat Melaka. Tak ada yang berani menjadi babar. Kini yang menjadi idola adalah gerasi K Pop yang tampil seperti boneka serba mulus dan sempurna. Tak mengherankan kalau kemudian terpukau oleh boneka presiden yang dirias oleh para cukong.

Demokrasi telah membuat masyarakat Indonesia patuh. Seperti sering kita dengar: serahkan pada mekanisme yang ada; serahkan pada proses hukum yang berjalan; taati konstitusi. Dll. Orang tak lebih menjadi seperti yang ditulis Nietzsche: kuda yang telah dijinakkan. Bukan kuda yang berani menjelajahi tanah lapang, berkeringat mengibas ngibaskan surainya menantang matahari, tapi hanya kuda yang dirias untuk menarik kereta untuk pergi ke pesta. Seperti pula kucing jinak yang betah di rumah, bukan segerombolan kucing liar yang bertarung di jalanan untuk berebut makanan. Tentu dengan mudah kita bisa membedakan suara meong kucing rumahan dan kucing jalanan.

Semua patuh pada aturan yang dibuat untuk mengekang manusia. Watak liar, buas, petarung, ganas, seperti yang diharapkan Nietzsche, telah leyap tertelan oleh hama demokrasi. Walaupun dipimpin boneka presiden, tak mengherankan kalau sebagian besar sudah puas begitu saja. Dibuat silau oleh riasan media. Terpukau oleh pentas teater kekuasaan yang digelar setiap hari.

Demokrasi telah membuat manusia menjadi lemah. Jargon jargon cengengnya selalu kita dengar tiap hari: kita mesti patuh pada aturan main, dsb. Padahal sejarah selalu digerakkan oleh manusia manusia barbar. Tanpa manusia barbar dari lingkungan pasar Senen, belum tentu kita merdeka karena saat itu elit politiknya hanya sibuk dari meja perundingan ke meja perundingan, ragu ragu. Tanpa manusia barbar yang membakar ibu kota, belum tentu kita menikmati reformasi. Sekali lagi, si buas telah dikrangkeng dalam sangkar emas demokrasi.

Maka kemudian persis yang dikatakan Nietzsche: mewabahnya moralitas budak. Manusia telah menjadikan dirinya sendiri sebagai budak. Tunduk pada kehendak penguasa. Ewuh pakewuh untuk mengatakan tidak. Patuh pada undang undang yang dibuat untuk menjinakkan watak liar. Akibatnya, kehilangan daya hidup. Bergerak mekanis seperti jarum jam. Begitu terus menerus dari detik ke detik.

Persis pula yang dikatakan Nietzsche: munculnya mentalitas gerombolan domba. Entah sadar atau tidak, dalam udara demokrasi, kita telah dijadikan sekumpulan domba. Tak berkutik digembalakan oleh kekuasaan agar selalu menurut dan bersikap manis: jangan memberontak; jangan mbalelo; terimalah boneka presiden karena itu produk demokrasi. Kita menurut saja agar kembali ke kandang setelah pesta demokrasi usai. Tak ada kegiringan dan keliaran untuk berada di jalanan, membakar boneka presiden yang menjadi sumber malapetaka.

Sekarang sulit, mungkin malah tak ada, untuk menemukan sosok seperti Vera Zassulich, seorang gadis belia, menembak roboh Jendral Trepov, Gubernur St. Patersburg. Dengan revolver yang dimilikinya, Vera tepat menembak jantung sang jenderal yang bengis dan kejam itu. Ia melakukannya setelah melihat pengadilan terhadap delapan puluh tiga anggota Populis, 24 Januari 1878. Kita juga akan kesulitan menemukan sosok seperti Sofia Perovskaia, Jaliabov dan kawan kawannya. Mereka telah membunuh Tzar Rusia yang telah bertahun tahun menindas rakyat, petani dan buruh upahan. Lewat mereka itulah, Revolusi Rusia yang dipimpin Lenin menemukan muaranya. Slogan mereka itu jelas: “Benar kami akan mati, tapi kami akan menjadikannya sebagai kematian yang indah.”  Semua itu hanya sanggup dipikul oleh orang orang barbar.

Tugas yang berat adalah menghilangkan mentanlitas budak itu. Lama dimakan hama demokrasi kita menjadi kerdil dan ciut nyali. Terlena dininabobokkan oleh ketaraturan dan ketentraman. Untuk melepaskan diri dari mentalitas budak itu, kita harus berani berkata seperti yang dikatakan Camus: “All or Nothing (Semuanya atau Tidak samasekali)”. Sanggupkah kita berkata begitu kepada boneka presiden?

Ketika boneka presiden tak mampu memenuhi tuntutan kita, maka tak ada jalan bagi kita selain memunculkan watak barbar: menggulingkannya. Persis yang dilakukan Ken Arok menggulingkan Tunggul Ametung, Vera Zassulich menembak Jenderal Trepov atau preman preman di pasar Senen angkat senjata sewaktu Revolusi Kemerdekaan.

Apakah kita akan terus menerus menjadi sekawanan domba yang dengan suka cita digembalakan boneka presiden? Diminta hidup tenang dalam krangkeng konstitusi basa basi?

Beda mentalitas gerombolan domba dengan karakter barbar, seperti yang dikatakan Nietzsche, terletak pada “attentat”, yaitu amarah/watak menyerang. Orang orang barbar selalu mengobarkan amarahnya kepada kekuasaan borjuasi yang menindas. Meraka akan mengajak rakyat jelata memukul hancur kekuasaan tiran. Membakar rumah rumah si kaya. Menyatroni kantor penguasa. Menyeret penguasa lalim ke tiang gantungan. Mereka tak segan melemparkan granat ke penguasa yang zalim. Sementara mentalitas gerombolan domba memiliki sifat kebalikannya: penurut dan jinak.

Momentum untuk marah akan muncul segera: ketika BBM dinaikkan oleh boneka presiden. Untuk menolaknya kita membutuhkan amarah yang besar dengan massa yang menggelombang. Kita bisa belajar dari peristiwa di Amerika pada bulan Mei 1886 ketika amarah itu bisa memenangkan sebuah tuntutan. Saat itu para buruh menuntut diberlakukannya 8 jam kerja. Peledak dilemparkan ke arah polisi yang merangsek maju di Haymarket, Chicago. Tak pelak lagi barisan polisi kocar kacir. Lewat amarah yang meluap luap itulah tuntutan buruh dikabulkan. Tanpa adanya amarah, aksi tak ubahnya seperti baris berbaris dengan bentangan poster. Tak lebih dari karnaval 17 Agustusan. Itu semua tak akan membuat penguasa keder. Mereka akan jalan terus menaikkan harga BBM.

Bagi para pemberani yang buas dan tak ciut nyali itu, Nietzsche menggunakan istilah dari bahasa Latin: bonus. Ia mengartikannya sebagai laki laki pejuang/pemberontak/ksatria. Mereka itulah yang telah menaklukkan wilayah yang terbentang dari Asia sampai Eropa. Pedang mereka tak pernah kering dari darah. Kuda mereka terus berlari melintasi padang, perbukitan, pegunungan. Mulut mereka tak pernah berhenti meneriakkan komando perang. Mereka ditempa oleh matahari dan rembulan. Berkeringat dan bau apek.

Menghadapi Orde Kera (maaf huruf “j” nya bermasalah), pilihan kita hanya dua: menjadi budak yang memiliki mentalitas gerombolan domba atau memilih menjadi bonus. Pilihan ada pada diri kita sendiri.

Sekali lagi: kera, kera, kera (dengan huruf “j” yang masih rusak)***


 Lereng Merapi. 02.11.2014


Ragil Nugroho

Tikus Merah

Pencemooh berhati lembut. Berkebun dan bercocok tanam. Membakar sampah. Makan makanan bergizi.

0 comments:

Posting Komentar