Tersebutlah kisah cinta segitiga antara DI, ZA, dan SR. DI pacaran dengan SR [anak di bawah umur]. Keduanya sudah pernah ngencuk. Di balik punggung SR, DI ngencuk dengan ZA, kekasih lamanya. Kebongkar. SR naik pitam. Ia menuntut digelar pengadilan internal di organisasi mereka. Keputusan diambil, tapi tak memuaskan pihak yang berseturu. Akibat selanjutnya ternyata gawat: organisasi retak. Bagaimana Marxisme menyelesaikan problem ngencuk segitiga ini? Karena ketiganya aktivis Kiri, mau tidak mau Marxisme harus ambil bagian.
Contoh ngencuk yang lain. BW pengin ngencuk, tapi tidak tahu
harus dengan siapa. Karena sudah tidak tahan, ketika melihat S tidur telentang,
BW langsung menindihnya. Untung- untungan pikir BW, siapa tahu S mau juga. Tapi
ternyata S tak mau. BW kena tampar. Kasus ini dimajukan ke makamah partai.
Bagaimana Marxisme menyelesaikan problem ngencuk yang bertepuk sebelah tangan
ini? Karena keduanya aktivis Kiri, mau tidak mau Marxisme harus ambil bagian.
Contoh lagi. TB merasa dikhianati oleh R. Selama ini TB
sangat hormat terhadap R. Bahkah R sudah dianggap sebagai suhengnya. Tapi tak
diduga oleh TB, R ngencuk dengan N, kekasih TB. Tentu saja TB puyeng berat,
mendekati gila. Tak kuat menanggung beban luka di kalbunya, TB sering membentur
benturkan kepalanya di dinding. Untung batok kepalanya tak retak karena ada KP
yang mencegahnya. Bagaimana Marxisme menyelesaikan problem ngencuk hasil
pengkhianatan ini? Karena keduanya aktivis Kiri, mau tidak mau Marxisme harus
ambil bagian. Atau kisah ngencuk S dari Solo dengan pasangannya. Karena S
rajin ngencuk, pasangannya mlenduk. Akhirnya S bingung bagaimana menggugurkan
orok yang ada dalam perut kekasihnya. Akhirnya organisasi Kiri tempatnya
bernaung mesti turun tangan. Marxisme pun mesti turun tangan menghadapi problem
ngencuk yang oroknya tak diharapkan ini.
Ternyata ngencuk dalam organisasi Kiri tak sesederhana yang
dikira. Tak terbatas blas bles, oh yes, oh no. Marixisme pun mesti turun
tangan. Bagaimana menjawabnya? Tentu akar persoalannya mesti ditemukan dulu.
Akar tersebut bisa kita cari dalam novel Jorge Amando: Gabriel, Cengkeh
dan Kayu Manis. Penulis Brasil yang berkali kali diajukan sebagai nominator
Nobel ini memang ahli pengencukan. Dalam novel tersebut banyak terdapat adegan
ngencuk. Uniknya, setiap aktivitas ngencuk ada konsekuensi masing-masing.
Ngencuk antara Dona Sinhazina Guedes Mendonca dengan dr.
Osmundo Pimentel berujung pada kematian keduanya. Penyebab kematian mereka
bukan karena penis tidak bisa lepas dari cengkraman vagina, atau keduanya bunuh
diri setelah ngencuk, tapi akibat dua butir peluru. Kejadiannya siang hari.
Waktu Dona dan Osmundo lagi asyik-asyiknya ngencuk, mereka tak mendengarkan ada
langkah kaki mendekat. Yang terdengar di telinga keduanya hanya desah dan erang
saja. Tak sadar malaikat maut sedang mengayukan kapak. Malaikat maut itu adalah
Kolonel Jusuino Mendonca, suami Dona. Dua butir peluru muntah dari laras
senapan kolonel, tanpa memberikan peringatan. Satu untuk Dona, satu untuk
Osmundo. Dor! Dor! Keduanya menjadi mayat, padahal sekian detik sebelumnya
masih ah uh ah uh. Ngeri. Digambarkan, darah berceceran di kamar tempat ngencuk
itu sampai ruang tamu.
Ngencuk yang lain dilakukan oleh Gabriela dan Tonico.
Kejadianya siang hari. Gabriela sudah telenjang, tidur telentang. Celah sempit
di antara kedua pahanya sudah siap di tembus. Digambarkan sudah membara.
Sementara Tonico telanjang di pinggir ranjang. Penisnya sudah siap masuk dalam
gua milik Gabriela. Nafsu sudah di puncak, siap meledak dan memuntahkan lahar.
Tapi bukan kenikmatan yang mereka terima, melainkan bogem mentah. Najib, suami
Gabriela, tiba-tiba sudah muncul di dalam kamar. Pukulan mendarat di tubuh
Tonico. Ia panik. Spontan lari tunggang langgang keluar dari rumah Najib,
telanjang dengan menenteng jelana dan baju. Burungnya gondal-gandul. Gabriela
mendapat giliran bogem mentah selanjutnya. Akhir dari ngencuk ini, Najib
membatalkan pernikahannya dengan Gabriela di pengadilan. Tidak sampai terjadi
pembunuhan, tapi menggemparkan seluruh kota.
Tak kalah serunnya ngencuk antara Gloria—Amando
menggambarkan payudara Gloria seperti mau tumpah dari sarangnya—dan Josue.
Kejadiannya pada suatu malam. Sekitar jam 10. Bioskop baru saja tutup. Bar
Vesuvius penuh sesak. “Josue telah melintasi ambang pintu Gloria lebih
dari satu jam yang lalu,” tulis Jorge Amando. Sementara itu Kolonel
Coriolano melintasi lapangan. Pakaiannya lusuh. Ia menuju rumahnya yang
sekarang di tempati oleh gundiknya, Gloria. Orang orang di sekitar situ
menunggu dengan dag dig dug. Mereka tahu kolonel itu lelaki yang keras, bahkan
bisa disebut kejam. Sementara di dalam rumahnya Gloria sedang ngencuk dengan
Josue. Kolonel masuk ke dalam rumahnya. Orang orang makin tegang. Mereka
menunggu suara letusan senjata atau minimal suara lecutan cambukan. Namun tak
terdengar apapun. Yang terjadi kemudian, Gloria menggandeng tangan Josue,
keluar rumah. Setelah itu, barang barang Gloria menyusul keluar dari rumah
besar itu. Semuanya lega. Tak terjadi pembantaian malam itu.
Masih banyak ngencuk lain di novel Jorge Amando. Dalam novel
tersebut seolah-olah manusia dilahirkan untuk ngencuk. Dengan bahasa
lain: Hidup hanya untuk mampir ngencuk. Dengan kata lain: Aku
ngencuk maka aku ada. Apakah ngencuk di lakukan seorang pastor dengan
pembantunya, ngencuk di pelacuran, ngencuk hakim dengan gundiknya, notaris
dengan istri temannya sendiri, dan masih banyak lagi. Pada akhirnya hidup
dirayakan dengan ngencuk.
Novel Jorge Amando memang sebuah satir. Ngencuk dijadikan
sarana kritik yang tajam terhadap kondisi masyarakat yang terjadi pada saat
itu. Tulis Jorge Amando: “…Ilheus berubah. Namun, cara pikir dan cara
pandang penduduknya berevolusi lebih lambat.” Kota tersebut telah
tumbuh dengan corak produksi kapitalisme. Kakao telah melambungkan kota Ilheus
dari perkampungan tak dikenal berkembang menjadi kota modern. Simbol-simbol
modernitas seperti bioskop, tempat pertunjukan kabaret, rumah rumah dengan
arsitektur teranyar, jalan yang luas, sampai bar. Zaman baru telah datang.
Tapi, ketika corak produksinya sudah berubah, basisnya sudah berubah, supra
strukturnya tak berubah. Persis kata Amando: “Namun, cara pikir dan
cara pandang penduduknya berevolusi lebih lambat.” Ini memang terjadi
di mana saja, perubahan corak produksi tidak sertamerta mengubah supra
strukturnya, bangunan atasnya, cara berpikir masyarakatnya. Termasuk dalam hal
pengencukan.
Laki-laki di kota itu bebas ngencuk dengan siapa saja,
persis sama dengan zaman berbudakan dan feodal. Bahkan, para kolonel pemilik
perkebunan kakao selain mempunyai istri juga memiliki gundik. Sementara lelaki
yang tak punya gundik bisa ngencuk dengan pelacur-pelacur yang didatangkan dari
kota lain. Singkatnya, Lelaki bisa ngencuk dengan siapa saja. Hal itu bukan
dianggap aib atau cela. Sudah lumrah dan dianggap sebagai sebentuk
maskulinitas. Dengan bangga mereka bercerita telah ngencuk dengan si Puan, si Mekar,
si Mawar, dan lain lainnya. Semakin banyak ngencuk dengan perempuan akan
dianggap sebagai lelaki sejati. Tapi kebebasan ngencuk ini tak berlaku untuk
perempuan bersuami dan para gundik. Hanya pelacurlah yang mempunyai kebebasan
ngencuk dengan siapa saja.
Perempuan yang telah menjadi istri menjadi hak eksklusif
suami. Pun, gundik, menjadi milik terbatas sang tuan. Bila istri atau gundik
ngencuk dengan lelaki yang bukan suaminya, maka kedua pasangan harus dihabisi
oleh suaminya. Inilah yang disebut hukum kuno oleh Jorge Amando. Lelaki yang
membunuh istri dan pasangan selingkuhnya akan dianggap sebagai lelaki sejati.
Tak mengherankan ketika Kolonel Jusuino Mendonca menembak mati Dona dan
Osmundo, dipuji oleh seantero kota. Walaupun telah membunuh, tindakan itu
dianggap sebagai kebenaran. Hukum akan membebaskan si pembunuh dengan dalih
untuk mempertahankan martabat laki-laki.
Sindiran Jorge Amando memang cukup telak. Kapitalisme
ternyata tak bisa menghapus budaya patriarkhi. Istri hanya boleh ngencuk dengan
suaminya. Sedangan si suami bebas ngencuk dengan siapa saja dan di mana saja.
Tidak ada kebebasan ngencuk bagi perempuan. Dalam masyarakat seperti itu,
silakan seorang istri ngencuk dengan lelaki lain, tapi harus siap dengan segala
konsekuensi: dibunuh seperti Dona, dapat bogem mentah seperti Gabriela, atau
diusir seperti Gloria. Pilih yang mana?
Problem yang dibabarkan oleh Jorge Amando dalam novelnya
tersebut masih terjadi hingga kini. Tak mengherankan kalau dikalangan Kiri pun,
ngencuk masih menjadi problem. Seorang mantan Kiri di Jogja, sebut saja namanya
U, pemilik reparasi pengolah kata, suka ngencuk dengan pelacur, tapi ia
memproteksi istrinya agar tidak ngencuk dengan orang lain. Sikap ini tentu saja
sama dengan yang dilakukan oleh para kolonel dalam novel Jorge Amando. Tinggal
kita memindahkan tahun dan lokasinya, maka kondisinya masih sama.
Lebih pelik kalau problem ngencuk terjadi dalam organisasi
Kiri sebagaimana contoh-contoh di atas. Seringkali perpecahan dalam organisasi
disebabkan oleh persoalan ngencuk ini. Intrik-intrik ngencuk berkembang yang
kemudian berujung pada pembelahan. Dan, seringkali yang problem awalnya
ngencuk, tapi kemudian dibungkus dengan problem ideologis biar seolah-olah kuat
legitimasinya. Sering muncul selorah bahwa organisasi Kiri tak bisa besar dan
sering pecah karena persoalan ngencuk ini. Akibat rebutan ngencuk, akhirnya
jadi masalah. Silakan diadakan penelitian yang mendalam kenapa organisasi Kiri
tak bisa membesar dan pecah. Kalau penelitian itu dilakukan dengan teliti, maka
akan didapatkan faktor X (utama) bukan faktor perbedaan ideologi, program
politik atau masalah masalah organisasi yang lain, tapi tak mampu mengatasi
problem ngencuk.
Lantas
bagaimana mengatasinya? Tunggu kelanjutannya. Saya mau ngencuk dulu.
Lereng
Merapi. 26.02.2015


0 comments:
Posting Komentar