Mao dan Sebulir Beras

by Maret 08, 2015 0 comments

 


Saat bersembunyi di tepi kolam yang dirimbuni belukar, ia teringat masa bocah. Waktu itu, dalam sebuah pesta keluarga, ia bertengkar dengan ayahnya. Sebabnya: ia menampik untuk melakukan kow tow [memberikan sikap hormat dalam tradisi China]. Sang ayah naik pitam. Mengejar. Si bocah lari ke tepi kolam, tak jauh dari rumah. Ia beteriak pada sang ayah yang berdiri di tepi yang lain: “Aku lebih suka melompat ke kolam dan tenggelam. Mendekat selangkah lagi, aku akan melompat.” Ancaman itu membuat sang ayah menyurutkan amarahnya.


Bagi si bocah, peristiwa itu seperti goresan yang ditatah pada batu karang; tak pernah hilang. Persis seperti kilatan petir, keberanian datang mengejutkan.


Itulah pertama kali ia mengerek bendera pemberontakan—pada sang ayah, simbol patriak dalam masyarakat feodal. Berpuluh-puluh tahun kemudian, dari pengalaman itu, ia berkata kepada ribuan orang: “Aku kemudian belajar, jika kau mempertahankan hak dengan melakukan pemberontakan terbuka, penguasa yang lalim akan kalah. Sebaliknya, jika kau tetap menurut dan merunduk, penguasa akan memaki dan menyiksamu.”


Siapa bocah itu? Terkadang ia menyebut dirinya: Mr.Twenty-eight Storke. Dibutuhkan dua puluh depalan goresan dalam huruf China untuk menulis namanya: Mao, yang artinya “Rambut”, dan Zedong, artinya “Melumuri Timur.”


Kisah di tepi kolam itu diceritakan oleh David E. R. George dalam bukunya: How Mao Died. Tapi tulisan ini tak akan membahas kolam maupun nama, melainkan pertentangan Mao dengan Soviet.


Chingkangshan dikenal daerah yang rawan. Serigala, harimau, dan babi bersarang nyaman di daerah itu; seperti surga bagi orang-orang yang beriman. Puncak gunung apinya berselimut kabut sepanjang tahun. Jalan menuju ke puncak amat terjal. Bila engkau lengah sedikit, jurang dengan riang siap melumatmu. Tapi tempat ini ideal bagi Mao. Setelah pasukannya diporakporandakan Chiang Kai Shek, di tempat itulah Mao membangun sarang untuk menyusun kekuatan. Pasukannya tak banyak. Hanya dua ribu personel. Separuhnya terdiri dari bandit, pelacur, gelandangan, dan pengemis. Sebagian besar hanya bersenjatakan pedang tua dan garpu rumput—seperti Patkei. Bagaimana revolusi harus dilanjutkan dengan situasi compang camping seperti itu? Mao merupakan taktikus. Ia selalu menyimpan jalan keluar. Mao bukan teknokrat Kiri yang hanya berada di belakang meja sambil ngebir. Mao sadar, tugasnya adalah mengubah China, bukan menafsirkan China dari kuil kuil suci.


Chu The, seorang jenderal, diutus oleh Soviet menemui Mao di Chingkangshan. Tugasnya satu: mengevaluasi kegagalan Mao ketika berhadapan dengan Kuomintang. Ada banyak dosa yang dilakukan Mao. Tentunya versi Soviet. Bisa dideretkan di sini: terlalu lunak terhadap petani, gerakannya bersifat lokal, menyimpang, revisionis, dsb. Bahkan bendera PKC dikritik oleh Soviet. Mao didesak untuk segera menyerang kota.


Atas semua itu Mao menjawab: “Mereka ingin merebut kota—karena itulah yang dikatakan buku—tapi revolusi ini tak akan dimulai dari kota, karena revolusi akan berakhir di sana.” Dikatan buku—tulis Mao. Inilah yang selalu dipegang para kaum dogmatis dan Marxis Pelipur Rakyat Pekerja. Menyembah yang dikatakan buku. Puas dengan melabeli diri sebagai teknokrat Kiri guna menutupi kemalasan berada di tengah tengah massa.


Tapi Mao tak melulu tunduk pada yang “dikatan buku”; sekali lagi, ia bukan teknokrat Kiri. Dalam Reform Our Sunday ia bersandar pada satu kata kunci: fakta.


Kata “fakta” bisa diganti dengan aktualitas, kebenaran, kenyataan, atau realitas. Semua akan bermuara pada satu hal: yang obyektif. Maka tak salah ketika Mao mengatakan:” kita tak boleh bersandar pada imajinasi subyektif, tidak juga pada semangat temporer, atau buku buku tak berisi, tapi pada fakta.” Oleh sebab itu, dari analisa yang berlandaskan fakta, Mao menyimpulkan sembilan puluh persen penduduk China merupakan petani. Artinya, mereka lebih banyak berada di desa. Tak salah ketika ia menjawab tuntutan Soviet untuk segera menyerang kota: bahwa kota merupakan tujuan akhir dari revolusi, tapi revolusi sendiri tak dimulai dari sana, melainkan dari desa. Dari situ lahir istilah: desa mengepung kota.


Chu The yang diutus Soviet untuk mengoreksi Mao, akhirnya ikut dengan taktik Mr.Twenty-eight Storke. Koran koran kemudian menyebut duet mereka dengan julukan Mr. Red Hair. Duo itu memang bisa dibilang sukses. Setahun kemudian, pasukan Tentara Merah telah membengkak. David Menuliskannya: “sampai mereka dengan bangga memiliki 200.000 pasukan dan 150.000 senjata dan memerintah kawasan berpenduduk satu setengah juta orang.” Perkembangan itu membuat Kuomintang gemetar. Chiang Kai Shek perlu memanggil penasihat asal Jerman dan bangkir asal Amerikanya untuk menumpas pasukan Mao. Catat David tentang seruan Chiang Kai Shek: ”Sudah waktunya melenyapkan bandit itu semua sekaligus.”


Tapi rupanya bukan hanya masalah taktik saja Mao dan Soviet berselisih jalan. Setelah memenangkan revolusi, Mao pernah berkunjung ke Soviet. Dalam kunjungan itu Mao dihina. Seorang petinggi Soviet menyatakan dengan pahit: “Seandainya rakyat China memakai satu celana untuk dua orang, tak akan bisa membayar hutangnya pada Soviet.”— kisah ini terdapat dalam pengantar buku The Little Red Book edisi Indonesia. Memang tak bisa ditampik, hutang China pada Soviet memang menggunung.


Perkataan petinggi Soviet itu telah menusuk Mao. Sepulang dari Soviet, selama dua hari ia berbicara pada rakyat China tentang hinaan itu melalui radio. Dan, ia berseru agar setiap hari rakyat China menyisihkan sebulir beras dari jatah makannya. Seruan Mao bisa jadi kita anggap remeh. Bagaimana membayar hutang yang menumpuk dengan sebulir beras? Tapi tunggu dulu. Marilah kita hitung. Penduduk China saat itu hampir 800 juta. Bila setiap penduduk mengumpulkan satu bulir beras dari jatah makannya, dengan gampang setiap hari akan terkumpul 800 juta bulir beras. Satu tahun berapa bulir beras yang terkumpul? Dan, dengan cara itu China terbukti bisa melunasi hutangnya pada Soviet.


Cara Mao memecahkan persoalan tak selalu rumit. Solusi seperti itu memang tak akan ditemukan dalam Das Kapital, misalnya. Silakan buka halaman berapa saja, tak akan ada. Pun, tak membutuhkan logika Marxis yang sulit [sampai sampai harus melacak hingga Yunani, misalnya]. Sementara para teknokrat Kiri akan kelimpungan memecahkan persoalan semacam itu sehingga memilih sibuk memuja gadis yang memakai kaos bergambar palu-arit. Semunya dipecahkan Mao dengan bersandar pada fakta yang ada di depannya: jumlah penduduk dan bulir beras.


Bulir beras memang bisa bermakna beras yang kita makan setiap hari. Tapi, ia juga bisa menjadi alegori, semacam kias tentang massa rakyat. Sebulir beras tentu tak akan ada maknanya, tapi 800 juta bulir beras bisa digunakan untuk apa saja. Pun, dengan massa. Mao memang percaya massa. Dalam On Coalition Goverment, Mao bersaksi: “Kekuatan paling utama dalam menggerakan sejarah adalah massa rakyat, hanya massa rakyat.” Ia ulangi dua kali kata “massa rakyat” dalam kalimat itu.


Dari situ kita bisa mencerap: jangan meremehkan sebulir beras [massa rakyat]. Tapi memang ini sepertinya ironi. Ada pertanyaan yang bisa diajukan: kapan terakhir kali kita bicara tentang bulir beras, massa rakyat? Bukankahh sekarang massa itu berbentuk @aku, @saya, @kami, @kau, @kita, dst? Yang hanya bersarang di dunia khayalan. Yang kadang muncul dalam bentuk #petisi, #save, #relawan, dll.


Tentu saja massa @ berbeda dengan massa yang dimaksudkan Mao.


Tapi sekali lagi: kapan kita terakhir kali menanam padi untuk menghasilkan bulir bulir beras? Kalau kita menanam padi tentu kita bisa berucap seperti Multatuli: “Kita bersuka cita bukan karena padi yang kita potong, kita bersuka ria karena padi yang kita tanam.”***


Lereng Merapi. 06.02.2015


Ragil Nugroho

Tikus Merah

Pencemooh berhati lembut. Berkebun dan bercocok tanam. Membakar sampah. Makan makanan bergizi.

0 comments:

Posting Komentar