Marxisme dan Ngencuk [Bagian II]

by Maret 13, 2015 0 comments

 



Dalam sebuah kongkow-kongkow tidak resmi, ZA pernah bercerita, kalau “burung” milik DI bengkok. Karena itulah DI bangga. Menurutnya, dengan “burung” yang bengkok itu bisa mematuk dengan cara yang berbeda. Dampaknya, setiap ngencuk bisa memuaskan lawan mainnya. Masih menurut pengakuan DI kepada ZA, burung yang bengkok inilah yang membuat aktivis-aktivis perempuan Kiri kesengsem pengin ngencuk dengannya. Guna membahkan efek revolusioner, sebab musab “burung” milik DI bengkok, katanya karena pernah disetrum tentara. Entah cerita ini benar atau cuma bualan, hanya ZA yang pernah merasakan yang tahu.


Seperti yang telah diuraikan secara panjang dan sempit pada bagian pertama, ngencuk masih menjadi problem bagi organisasi Kiri. Agar ada pengayaan lagi tentang tema ini, beberapa contoh perlu disampaikan. Sebagai contoh lain, ketika awal-awal DI masih rajin ngencuk dengan ZA disela-sela pembuatan film revolusioner [yang banyak dipuji di lingkungannya, tetapi dicuekin oleh komunitas film yang lebih luas], DI pernah puyeng pala berbie karena dicueikin istrinya. Pasalnya ketika ZA mengatakan kepada [mantan] istri DI sudah ngencuk suaminya itu, [mantan] istri DI dengan enteng bilang ke ZA: “Ambil saja barang rongsokan milik DI itu. Mau lu elus-elus, emut-emut, kocok-kocok. Gue gak peduli.” Dikasih kebebasan oleh istrinya, DI malah puyeng. Karena puyeng, DI minta cuti dari organisasi Kiri. Anggota yang lain pun ikut-ikutan puyeng.


Contoh yang lain terjadi pada GeJe. Ia mumet karena YeeL, kekasihnya, waktu acara pendidikan Kiri di Manila, ngencuk dengan seorang tentor Trotkis dari negara Ratu Victoria. Suatu malam YeeL mengendap-ngendap keluar dari kamarnya, kemudian ngencuk di kamar lelaki itu. Mungkin saja YeeL ingin variasi lain sehingga kepengin ngencuk dengan bule. Tentu saja GeJe tidak terima. Sebetulnya ini urusan mereka berdua, tetapi GeJe menuntut pada organisasi agar YeeL dijatuhi sanksi karena ngencuk dengan lelaki lain alias dianggap selingkuh. Gelar perkara kasus ini kemudian dilakukan dengan hakim Manik. Setelah debat sana sini dengan mengutip berbagai buku dan teori, keputusan diambil. Namun GeJe tak puas dengan hasil keputusannya. Ia menganggap kawan-kawannya tidak solider; tidak mau ikut merasakan betapa perih hatinya karena kekasihnya ngencuk dengan lelaki lain. Persoalan ini kemudian merembet pada perpecahan organisasi. Puncaknya terjadi saat kongres organisasi itu. Saat itu dihadiri 30 orang, kemudian pecah menjadi menjadi dua: masing-masing dapat 15 anggota. BW pun nangis-nangis menyesali kejadian tersebut. Sampai sekarang kedua organisasi ini masih saling serang. Masalah ngencuk kemudian dibungkus dengan problem ideologi agar seolah-olah menjadi problem serius yang tak dapat didamaikan lagi.


Begitulah ngencuk di kalangan Kiri yang ternyata sering membawa dampak pada organisasi: seringkali berujung pada perpecahan. Bagaimana mengatasinya? Tentu saja sebagai jawaban perlu dikembalikan pada ajaran Marxisme. Tapi jawaban ini sepertinya tidak akan mampu ditanggung oleh gerakan Kiri. Mengapa? Kita nyanyi dulu saja:


aduh pusing ‘pala berbie ‘pala berbie

oh ow ow

pusing ‘pala berbie ‘pala berbie

oh ow ow

pusing ‘pala berbie ‘pala berbie

oh ow ow”


Lagu Pusing Pala Berbie ini termasuk berbau postmodernisme. Bagaimana tidak, lagu dangdut yang dianggap musik para pembantu rumah tangga disandingan dengan berbie. Kita tahu, Berbie merupakan salah satu ikon postmodernisme. Dan, generasi muda sekarang banyak diracuni oleh hama postmodernisme ini. Pun, digerakan Kiri. Akibatnya, orang-orang Kiri meninggalkan Marxisme dan beralih ke postmodernisme. Dampaknya lagi, dalam mengatasi problem ngencuk, mereka memilih menyelesaikan dengan solusi postmodernisme. Untungnya, kaum Kiri diselamatkan oleh munculnya sebuah buku anti postmodernisme yang dihasilkan oleh Marxis Sekolahan Jesuit. Dialah dewa penyelamat yang bisa membimbing gerakan Kiri terbebas dari wabah postmodernisme; menghancurkan bid’ah bernama postmo. Sebagai anugerah yang begitu besar ini, sebaiknya kaum Kiri berdoa dulu: “Haleluya. Semoga Tuhan Bapak, Anak dan Roh Kudus menyelamatkan kita dari pengaruh jahat postmodernisme. Amin.”


Ikhyar Velayati—sering dipanggil Ketua Cesper—pernah memberikan jawaban guna mengatasi problem ngencuk dikalangan gerakan Kiri. Ia menyampaikan gagasannya tersebut pada saya di rumah bertingkat kawasan Tebet, suatu senja yang agak mendung. Tentu saja jawaban tersebut berdasarkan teori Marxisme, bukan postmodernisme.


Ikhyar memperkenalkan istilah “perkawinan kelompok”. Mungkin ia meminjam istilah ini dari Engels, sahabat Marx. Ketika hendak saya konfirmasi, telepon genggam Ikhyar tidak aktif. Sekarang akan saya paparkan konsep “perkawinan kelompok” sebagaimana yang pernah ditausiahkan Ikhyar.


“Perkawinan kelompok” terjadi pada masyarakat bercorak produksi komune primitif, ketika manusia masih hidup dalam kelompok nomaden. Pada masyarakat ini “perkawinan Kelompok” terjadi di antara mereka. Ikhyar menyamakan organisasi Kiri dengan masyarakat komune primitif, sehingga menurutnya, konsep perkawinan tersebut bisa diterapkan sebagai solusi untuk mengatasi problem ngencuk.


Ikhyar memberikan contoh “perkawinan kelompok” yang terjadi di pulau Sakhalin. Di pulau tersebut, lelaki bisa ngencuk dengan saudara perempuan istrinya. Sebaliknya, istrinya bisa ngencuk dengan saudara laki-laki suaminya. Perkawinan semacam ini juga terjadi di suku Dravisian yang terdapat di India. Dengan konsep semacam itu, ngencuk tak menjadi problem lagi. Ketika problem ngencuk sudah diatasi, artinya tidak ada yang puyeng lagi karena kebutuhan ngencuk telah terpenuhi, masyarakat bisa memikirkan problem yang lain. Pun, dikalangan gerakan Kiri, kalau semua anggotanya telah terpenuhi kebutuhan ngencuknya, mereka bisa fokus memikirkan revolusi sosialis yang tertunda-tunda.


Dalam sistem “perkawinan kelompok” semacam itu, yang dipakai adalah garis Ibu bukan garis Ayah. Mengapa? Ketika seseorang perempuan mengandung dan kemudian melahirkan, yang sudah pasti adalah ibunya, sedangkan bapaknya tidak bisa dipastikan karena perempuan tersebut bisa jadi telah ngencuk lebih dengan satu lelaki [kalau sekarang sih bisa dipastikan dengan tes DNA]. Oleh sebab itu, dalam sistem “perkawinan kelompok” tadi, semua saudara laki-laki dari suami si perempuan, juga dipanggil Bapak. Anak yang dilahirkan pun kemudian dirawat bersama-sama oleh kelompok tersebut. Anak menjadi anak kelompok. Semua bertangungjawab untuk menjaga, merawat, mendidik dan membesarkannya. Sedap, kan? Itulah keunggulan Marxisme dibandingkan postmodernisme. Sayang tak ada yang mau menerapakan Marxisme secara konsekuen dalam hal “perkawinan kelompok”.


Sekarang marilah konsep “perkawinan kelompok” kita bumikan untuk mengatasi problem ngencuk. Nah, dalam kasus ngencuk segitiga DI, ZA dan SR sebagaimana yang telah diutarakan pada bagian pertama, sebetulnya tidak akan menjadi masalah kalau memakai konsep “perkawinan kelompok” seperti yang disampaikan oleh Ikhyar Velayati di muka. DI bisa ngencuk dengan saudara perempuan SR [dalam organisasi Kiri semua kader adalah saudara, sehingga ZA adalah sudara perempuan SR], sementara SR bisa ngencuk dengan BW yang menjadi saudara laki-laki DI, misalnya. Yang menjadi masalah bahwa DI masih memakai konsep borjuis. Ketika dia ngencuk dengan ZA, dilakukan sembunyi-sembunyi alias tanpa sepengetahuan SR. Tentu saja SR yang masih menganut cinta platonis sebagaimana ABG seusianya, merasa dikhianati. Maka maralah SR karena DI dianggap berselingkuh dengan ZA.


Pun, dalam kasus GeJe sebetulnya gampang diselesaikan kalau memakai konsep “perkawinan kelompok” tadi. GeJe tak perlu marah karena YeeL ngencuk dengan saudara GeJe dari manca negara. GeJe pun bisa ngencuk dengan saudara YeeL semisal VeVe atau DeeN, misalnya. Yang menjadi masalah karena YeeL ngencuk dengan lelaki berambut merah secara sembunyi-sembunyi. Akhirnya, GeJe yang perasaannya sedang melo sebagaimana Betharia Sonata, merasa dikhianati. Kalau semuanya dilakukan secara terbuka sebagaimana konsep “perkawinan kelompok”, tentu tidak akan membawa masalah yang berujung pada perpecahan organisasi.


Sebetulnya konsep yang mirip “perkawinan kelompok” pernah terjadi. GeKa ngencuk dengan OeS yang merupakan kekasih ACe. Sementara ACe ngencuk dengan eM yang merupakan pasangan GeKa. Jadi GeKa ngencuk dengan saudara perempuan eM (si OeS), dan OeS ngencuk dengan saudara laki-laki ACe (si GeKa). Sayang, ngencuk ini ternyata landasannya dendam. OeS dendam karena ACe ngencuk dengan eM secara sembunyi-sembunyi. Sebagai bentuk balas dendam, maka OeS ngencuk dengan pasangan eM. Karena dasarnya balas dendam maka menjadi masalah dikemudian hari, bukan sebagai berkah.


Ikhyar sendiri pernah mengajukan pertanyaan retoris: sanggupkah organisasi Kiri menerapkan “perkawinan kelompok?” Pertanyaan itu memang perlu diajukan. Walaupun aktivis-aktivis Kiri telah mempelajari Marxisme, tapi pola pikir borjuis masih mengendap di kepala mereka; bahwa pasangan adalah properti/hak milik. Ikhyar berpandangan, seorang feminis Kiri sejati sekalipun tak akan sanggup menjalankan konsep “perkawinan kelompok” yang diperkenal komune primitif. Baginya, ini konsep yang berat, lebih berat daripada revolusi sosialis itu sendiri. Ngencuk, tentu saja dalam lanskap borjuis, selain melibatkan kelamin juga perasaan. Naluri alamiah kelamin bisa ngencuk dengan siapa saja, tetapi perasaan karena abstrak, tak bisa diduga. Dalam perasaan manusia yang masih dipengaruhi konsep borjuis, tentu akan tak senang bila pasangannya ngencuk dengan orang lain. Tidak dapat dielakkan, seperti kata Marx: lingkungan sosial menentukan perasaan, bukan sebaliknya, perasaan menentukan lingkungan sosial. Dengan kata lain yang terjadi di organisasi Kiri di Indonesia: kelaminnya sudah ngebet jadi sosialis, perasaannya masih borjuis atau bahkan masih feodal.


Masyarakat borjuis sendiri tentu tak menghendaki “perkawinan kelompok” diterapkan. Dalam kapitalisme, ngencuk adalah industri, makanya pelacuran ada di mana-mana. Oleh sebab itu, para tuan-tuan borjuis, kata Engels, berlaku seperti kaum felistin yang berpikiran bordil, yang menganggap “perkawinan kelompok” serupa seks bebas yang dilandasi hawa nafsu belaka sebagaimana terjadi pada masyarakat kapitalis. Dalam Marxisme, “perkawinan kelompok” mempunyai tujuan yang mulia: mewujudkan “keluarga suci” (holy family). Sebetulnya, bila konsep ini diterapkan, aktivis Kiri semacam WA kalau lagi puyeng karena Jokowi mendapatkan serangan bertubi-tubi, tidak perlu pergi ke Mabes setiap malamnya hanya untuk ngencuk. Ia bisa ngencuk dengan pasangan TB yang merupakan saudara lelakinya; atau ia bisa ngencuk dengan istri TS yang juga saudara lelakinya.


Dari urain Ikhyar Velayati sebagaimana disampaikan kepada saya, sebetulnya Marxisme telah memberikan jalan keluar untuk problem ngencuk lewat konsep “perkawinan kelompok” tadi. Namun, jalan keluar tersebut tidak kuat ditanggung oleh kalangan Kiri sendiri, sehingga mereka memilih memakai konsep borjuis dan cara berpikir borjuis. Kalangan aktivis laki-laki kirinya memilih ngencuk sembunyi-sembunyi, sementara aktivis perempuannya lebih suka mengkampanyekan konsep liberal tentang kemerdekaan tubuh. Sementara itu, untuk secara konsisten mengikuti konsep borjuasi tentang perkawinan monogami, mereka juga tak sanggup. Tak mengherankan walaupun sudah diikat dengan perkawinan monogami, masih ngencuk secara sembunyi-sembunyi dengan orang lain. Tak aneh kalau ngencuk sampai saat ini masih menjadi problem dikalangan Kiri.


Baiklah. Daripada puyeng memikirkan masalah itu, sebaiknya kita ngencuk saja. Biar Karl Marx saja yang puyeng. Sekian.***


Lereng Merapi. 10.02.2015 


Ragil Nugroho

Tikus Merah

Pencemooh berhati lembut. Berkebun dan bercocok tanam. Membakar sampah. Makan makanan bergizi.

0 comments:

Posting Komentar