Dalam
sebuah kongkow-kongkow tidak resmi, ZA pernah bercerita, kalau “burung” milik
DI bengkok. Karena itulah DI bangga. Menurutnya, dengan “burung” yang bengkok
itu bisa mematuk dengan cara yang berbeda. Dampaknya, setiap ngencuk bisa
memuaskan lawan mainnya. Masih menurut pengakuan DI kepada ZA, burung yang
bengkok inilah yang membuat aktivis-aktivis perempuan Kiri kesengsem pengin
ngencuk dengannya. Guna membahkan efek revolusioner, sebab musab “burung” milik
DI bengkok, katanya karena pernah disetrum tentara. Entah cerita ini benar atau
cuma bualan, hanya ZA yang pernah merasakan yang tahu.
Seperti yang telah diuraikan secara panjang dan sempit pada
bagian pertama, ngencuk masih menjadi problem bagi organisasi Kiri. Agar ada
pengayaan lagi tentang tema ini, beberapa contoh perlu disampaikan. Sebagai
contoh lain, ketika awal-awal DI masih rajin ngencuk dengan ZA disela-sela
pembuatan film revolusioner [yang banyak dipuji di lingkungannya, tetapi
dicuekin oleh komunitas film yang lebih luas], DI pernah puyeng pala berbie
karena dicueikin istrinya. Pasalnya ketika ZA mengatakan kepada [mantan] istri
DI sudah ngencuk suaminya itu, [mantan] istri DI dengan enteng bilang ke
ZA: “Ambil saja barang rongsokan milik DI itu. Mau lu elus-elus,
emut-emut, kocok-kocok. Gue gak peduli.” Dikasih kebebasan oleh
istrinya, DI malah puyeng. Karena puyeng, DI minta cuti dari organisasi Kiri.
Anggota yang lain pun ikut-ikutan puyeng.
Contoh yang lain terjadi pada GeJe. Ia mumet karena YeeL,
kekasihnya, waktu acara pendidikan Kiri di Manila, ngencuk dengan seorang
tentor Trotkis dari negara Ratu Victoria. Suatu malam YeeL mengendap-ngendap
keluar dari kamarnya, kemudian ngencuk di kamar lelaki itu. Mungkin saja YeeL
ingin variasi lain sehingga kepengin ngencuk dengan bule. Tentu saja GeJe tidak
terima. Sebetulnya ini urusan mereka berdua, tetapi GeJe menuntut pada
organisasi agar YeeL dijatuhi sanksi karena ngencuk dengan lelaki lain alias
dianggap selingkuh. Gelar perkara kasus ini kemudian dilakukan dengan hakim
Manik. Setelah debat sana sini dengan mengutip berbagai buku dan teori,
keputusan diambil. Namun GeJe tak puas dengan hasil keputusannya. Ia menganggap
kawan-kawannya tidak solider; tidak mau ikut merasakan betapa perih hatinya
karena kekasihnya ngencuk dengan lelaki lain. Persoalan ini kemudian merembet
pada perpecahan organisasi. Puncaknya terjadi saat kongres organisasi itu. Saat
itu dihadiri 30 orang, kemudian pecah menjadi menjadi dua: masing-masing dapat
15 anggota. BW pun nangis-nangis menyesali kejadian tersebut. Sampai sekarang
kedua organisasi ini masih saling serang. Masalah ngencuk kemudian dibungkus
dengan problem ideologi agar seolah-olah menjadi problem serius yang tak dapat
didamaikan lagi.
Begitulah ngencuk di kalangan Kiri yang ternyata sering
membawa dampak pada organisasi: seringkali berujung pada perpecahan. Bagaimana
mengatasinya? Tentu saja sebagai jawaban perlu dikembalikan pada ajaran
Marxisme. Tapi jawaban ini sepertinya tidak akan mampu ditanggung oleh gerakan
Kiri. Mengapa? Kita nyanyi dulu saja:
“aduh pusing
‘pala berbie ‘pala berbie
oh ow ow
pusing ‘pala
berbie ‘pala berbie
oh ow ow
pusing ‘pala
berbie ‘pala berbie
oh ow ow”
Lagu Pusing Pala Berbie ini termasuk berbau
postmodernisme. Bagaimana tidak, lagu dangdut yang dianggap musik para pembantu
rumah tangga disandingan dengan berbie. Kita tahu, Berbie merupakan salah satu
ikon postmodernisme. Dan, generasi muda sekarang banyak diracuni oleh hama
postmodernisme ini. Pun, digerakan Kiri. Akibatnya, orang-orang Kiri
meninggalkan Marxisme dan beralih ke postmodernisme. Dampaknya lagi, dalam
mengatasi problem ngencuk, mereka memilih menyelesaikan dengan solusi
postmodernisme. Untungnya, kaum Kiri diselamatkan oleh munculnya sebuah buku
anti postmodernisme yang dihasilkan oleh Marxis Sekolahan Jesuit. Dialah dewa
penyelamat yang bisa membimbing gerakan Kiri terbebas dari wabah
postmodernisme; menghancurkan bid’ah bernama postmo. Sebagai anugerah yang begitu
besar ini, sebaiknya kaum Kiri berdoa dulu: “Haleluya. Semoga Tuhan Bapak,
Anak dan Roh Kudus menyelamatkan kita dari pengaruh jahat postmodernisme.
Amin.”
Ikhyar Velayati—sering dipanggil Ketua Cesper—pernah
memberikan jawaban guna mengatasi problem ngencuk dikalangan gerakan Kiri. Ia
menyampaikan gagasannya tersebut pada saya di rumah bertingkat kawasan Tebet,
suatu senja yang agak mendung. Tentu saja jawaban tersebut berdasarkan teori
Marxisme, bukan postmodernisme.
Ikhyar memperkenalkan istilah “perkawinan kelompok”. Mungkin
ia meminjam istilah ini dari Engels, sahabat Marx. Ketika hendak saya
konfirmasi, telepon genggam Ikhyar tidak aktif. Sekarang akan saya paparkan
konsep “perkawinan kelompok” sebagaimana yang pernah ditausiahkan Ikhyar.
“Perkawinan kelompok” terjadi pada masyarakat bercorak
produksi komune primitif, ketika manusia masih hidup dalam kelompok nomaden.
Pada masyarakat ini “perkawinan Kelompok” terjadi di antara mereka. Ikhyar
menyamakan organisasi Kiri dengan masyarakat komune primitif, sehingga
menurutnya, konsep perkawinan tersebut bisa diterapkan sebagai solusi untuk
mengatasi problem ngencuk.
Ikhyar memberikan contoh “perkawinan kelompok” yang terjadi
di pulau Sakhalin. Di pulau tersebut, lelaki bisa ngencuk dengan saudara
perempuan istrinya. Sebaliknya, istrinya bisa ngencuk dengan saudara laki-laki
suaminya. Perkawinan semacam ini juga terjadi di suku Dravisian yang terdapat
di India. Dengan konsep semacam itu, ngencuk tak menjadi problem lagi. Ketika
problem ngencuk sudah diatasi, artinya tidak ada yang puyeng lagi karena
kebutuhan ngencuk telah terpenuhi, masyarakat bisa memikirkan problem yang
lain. Pun, dikalangan gerakan Kiri, kalau semua anggotanya telah terpenuhi
kebutuhan ngencuknya, mereka bisa fokus memikirkan revolusi sosialis yang
tertunda-tunda.
Dalam sistem “perkawinan kelompok” semacam itu, yang dipakai
adalah garis Ibu bukan garis Ayah. Mengapa? Ketika seseorang perempuan
mengandung dan kemudian melahirkan, yang sudah pasti adalah ibunya, sedangkan
bapaknya tidak bisa dipastikan karena perempuan tersebut bisa jadi telah
ngencuk lebih dengan satu lelaki [kalau sekarang sih bisa dipastikan dengan tes
DNA]. Oleh sebab itu, dalam sistem “perkawinan kelompok” tadi, semua saudara
laki-laki dari suami si perempuan, juga dipanggil Bapak. Anak yang dilahirkan
pun kemudian dirawat bersama-sama oleh kelompok tersebut. Anak menjadi anak
kelompok. Semua bertangungjawab untuk menjaga, merawat, mendidik dan
membesarkannya. Sedap, kan? Itulah keunggulan Marxisme
dibandingkan postmodernisme. Sayang tak ada yang mau menerapakan Marxisme
secara konsekuen dalam hal “perkawinan kelompok”.
Sekarang marilah konsep “perkawinan kelompok” kita bumikan
untuk mengatasi problem ngencuk. Nah, dalam kasus ngencuk segitiga DI, ZA dan
SR sebagaimana yang telah diutarakan pada bagian pertama, sebetulnya tidak akan
menjadi masalah kalau memakai konsep “perkawinan kelompok” seperti yang
disampaikan oleh Ikhyar Velayati di muka. DI bisa ngencuk dengan saudara
perempuan SR [dalam organisasi Kiri semua kader adalah saudara, sehingga ZA
adalah sudara perempuan SR], sementara SR bisa ngencuk dengan BW yang menjadi
saudara laki-laki DI, misalnya. Yang menjadi masalah bahwa DI masih memakai
konsep borjuis. Ketika dia ngencuk dengan ZA, dilakukan sembunyi-sembunyi alias
tanpa sepengetahuan SR. Tentu saja SR yang masih menganut cinta platonis
sebagaimana ABG seusianya, merasa dikhianati. Maka maralah SR karena DI
dianggap berselingkuh dengan ZA.
Pun, dalam kasus GeJe sebetulnya gampang diselesaikan kalau
memakai konsep “perkawinan kelompok” tadi. GeJe tak perlu marah karena YeeL
ngencuk dengan saudara GeJe dari manca negara. GeJe pun bisa ngencuk dengan
saudara YeeL semisal VeVe atau DeeN, misalnya. Yang menjadi masalah karena YeeL
ngencuk dengan lelaki berambut merah secara sembunyi-sembunyi. Akhirnya, GeJe
yang perasaannya sedang melo sebagaimana Betharia Sonata, merasa dikhianati.
Kalau semuanya dilakukan secara terbuka sebagaimana konsep “perkawinan
kelompok”, tentu tidak akan membawa masalah yang berujung pada perpecahan
organisasi.
Sebetulnya konsep yang mirip “perkawinan kelompok” pernah
terjadi. GeKa ngencuk dengan OeS yang merupakan kekasih ACe. Sementara ACe
ngencuk dengan eM yang merupakan pasangan GeKa. Jadi GeKa ngencuk dengan
saudara perempuan eM (si OeS), dan OeS ngencuk dengan saudara laki-laki ACe (si
GeKa). Sayang, ngencuk ini ternyata landasannya dendam. OeS dendam karena ACe
ngencuk dengan eM secara sembunyi-sembunyi. Sebagai bentuk balas dendam, maka
OeS ngencuk dengan pasangan eM. Karena dasarnya balas dendam maka menjadi
masalah dikemudian hari, bukan sebagai berkah.
Ikhyar sendiri pernah mengajukan pertanyaan retoris:
sanggupkah organisasi Kiri menerapkan “perkawinan kelompok?” Pertanyaan itu
memang perlu diajukan. Walaupun aktivis-aktivis Kiri telah mempelajari
Marxisme, tapi pola pikir borjuis masih mengendap di kepala mereka; bahwa
pasangan adalah properti/hak milik. Ikhyar berpandangan, seorang feminis Kiri
sejati sekalipun tak akan sanggup menjalankan konsep “perkawinan kelompok” yang
diperkenal komune primitif. Baginya, ini konsep yang berat, lebih berat daripada
revolusi sosialis itu sendiri. Ngencuk, tentu saja dalam lanskap borjuis,
selain melibatkan kelamin juga perasaan. Naluri alamiah kelamin bisa ngencuk
dengan siapa saja, tetapi perasaan karena abstrak, tak bisa diduga. Dalam
perasaan manusia yang masih dipengaruhi konsep borjuis, tentu akan tak senang
bila pasangannya ngencuk dengan orang lain. Tidak dapat dielakkan, seperti kata
Marx: lingkungan sosial menentukan perasaan, bukan sebaliknya, perasaan
menentukan lingkungan sosial. Dengan kata lain yang terjadi di organisasi
Kiri di Indonesia: kelaminnya sudah ngebet jadi sosialis, perasaannya
masih borjuis atau bahkan masih feodal.
Masyarakat borjuis sendiri tentu tak menghendaki “perkawinan
kelompok” diterapkan. Dalam kapitalisme, ngencuk adalah industri, makanya
pelacuran ada di mana-mana. Oleh sebab itu, para tuan-tuan borjuis, kata
Engels, berlaku seperti kaum felistin yang berpikiran bordil, yang menganggap
“perkawinan kelompok” serupa seks bebas yang dilandasi hawa nafsu belaka
sebagaimana terjadi pada masyarakat kapitalis. Dalam Marxisme, “perkawinan
kelompok” mempunyai tujuan yang mulia: mewujudkan “keluarga suci” (holy family).
Sebetulnya, bila konsep ini diterapkan, aktivis Kiri semacam WA kalau lagi
puyeng karena Jokowi mendapatkan serangan bertubi-tubi, tidak perlu pergi ke
Mabes setiap malamnya hanya untuk ngencuk. Ia bisa ngencuk dengan pasangan TB
yang merupakan saudara lelakinya; atau ia bisa ngencuk dengan istri TS yang
juga saudara lelakinya.
Dari urain Ikhyar Velayati sebagaimana disampaikan kepada
saya, sebetulnya Marxisme telah memberikan jalan keluar untuk problem ngencuk
lewat konsep “perkawinan kelompok” tadi. Namun, jalan keluar tersebut tidak
kuat ditanggung oleh kalangan Kiri sendiri, sehingga mereka memilih memakai
konsep borjuis dan cara berpikir borjuis. Kalangan aktivis laki-laki kirinya
memilih ngencuk sembunyi-sembunyi, sementara aktivis perempuannya lebih suka
mengkampanyekan konsep liberal tentang kemerdekaan tubuh. Sementara itu, untuk
secara konsisten mengikuti konsep borjuasi tentang perkawinan monogami, mereka
juga tak sanggup. Tak mengherankan walaupun sudah diikat dengan perkawinan
monogami, masih ngencuk secara sembunyi-sembunyi dengan orang lain. Tak aneh
kalau ngencuk sampai saat ini masih menjadi problem dikalangan Kiri.
Baiklah. Daripada puyeng memikirkan masalah itu, sebaiknya
kita ngencuk saja. Biar Karl Marx saja yang puyeng. Sekian.***
Lereng Merapi. 10.02.2015


0 comments:
Posting Komentar