Agus Jabo, ketua PRD, merupakan pemabuk yang tangguh. Ia bisa menghabiskan bir berbotol botol dalam sekali perjamuan minum. Segala jenis minuman yang memabukkan, mulai dari cap tikus sampai congyang, pernah ia tenggak. Paskah kalau dia mimimpin PRD sebagai partai elektoral untuk bertarung dengan partai lain pada tahun 2014?
Dalam tradisi kiri, banyak pimpinan partai yang gemar menenggak minuman keras. Mao dan Stalin bisa dijadikan contoh. Toh, walaupun pemabuk, mereka berhasil memimpin revolusi. Tapi itu di Tiongkok dan Soviet. Indonesia tentu beda. Setiap tanah punya karakter masing masing. Tiongkok cocok ditananami shorgum-sejinis gandum– tapi tidak di Indonesia Pun, masyarakat, setiap tempat punya karakter masing-masing.
Dalam segi kenyakinan, sebagian besar masyarakat Indonesia beragama Islam aliran sunni. Secara geografi, mereka menyebar di seluruh wilayah Indonesia. Sisanya menganut agama Nasrani, Hindu, Budha dan Konghucu. Mungkin ada beberapa yang atheis, selain jumlahnya kecil, mereka juga tak berani tampil secara terbuka untuk menunjukkan kenyakinannya, sehingga bukan faktor penting dalam politik elektoral. Kenyataan ini tentu berbeda dengan kondisi di Venezuela, Kuba, Bolivia, dan negara-negara yang sekarang mengerek bendera sosialisme.
Tentu saja Pemilu adalah masalah bilik suara. Partai yang dicoblos paling banyak di bilik suara yang akan memenangkan Pemilu. Rumus yang sederhana. Guna mendapatkan dukungan yang besar, tentu harus saja didukung banyak faktor. Salah satunya adalah figur pimpinan parpolnya.
Kita telah menyaksikan fenomena gegar SBY. Pada masa itu, figur SBY bisa melejit pamornya. Ia bisa melibas tokoh tokoh politik yang lebih senior seperti Megawati, Amin Rais, Gus Dur dan Akbar Tanjung. Penampilan SBY yang santun dengan cara berbahasa yang rapi, sosok tentara yang religius dan nasionalis, telah menjadi magnet dalam perpolitikan, kala itu. Tak mengherankan dalam Pemilu 2004 ia bisa menang telak, menyedot suara 60 juta lebih. Dan, sukses tersebut bisa diulang dalam Pemilu 2009.
Belum lama ada 7 purnama, kita juga menyaksikan munculnya Jokowi. Lelaki dari Solo yang cara berpakaian sampai gaya bicaranya dianggap seperti rakyat kebanyakan, mampu melejit seperti meteor. Dari seorang walikota, ia menjadi orang nomor satu di negeri ini. Terlepas kita suka atau tidak, ia mampu menjadi lubang hitam yang menyodot suara rakyat.
Semua itu tak lepas dari figur. Ketika rakyat merasa klik dengan seorang figur, maka mereka berbondong-bondong akan memberikan suaranya. Di situlah figur sangat diperlukan.
Sebagai negara yang sebagian besar beragama Islam, figur yang muncul harsulah sesuai dengan karakter Islam. Jelas selain memeluk agama Islam, figur tersebut harus dinilai menjalankan ajaran pokok Islam dengan baik: shalat lima waktu, puasa ramadhan, dan pernah menunaikan ibadah haji.
Kita ambil contoh Jokowi. Ketika mendekati hari pencoblosan, Jokowi rajin untuk shalat Jumat di masjid. Paling tidak seminggu sekali ia tampil di muka publik untuk menunjukkan dirinya seorang muslim yang taat. Selain itu, dalam kunjungan ke rumah tokoh, Jokowi selalu menyempatkan untuk mengajak tuan rumah untuk shalat berjamaah. Semisal waktu bertemu dengan Din Syamsudin dan Mbah Mun. Tidak ketinggalan, foto Jokowi waktu menunaikan ibadah haji diunggah ke media. Bahkan menjelang detik-detik pencoblosan, Jokowi menuikan ibadah umroh. Semua kegiatan itu direkam dan disebarkan oleh media sehingga semua orang mengetahui. Dengan begitu rakyat dibuat yakin bahwa Jokowi seorang muslim yang taat menjalankan amalan pokok pokok ajaran Islam. Dalam hal ini ibadah bukan semata-mata hubungan manusia dengan Tuhan, melainkan juga bermakna politis. Dan itu wajar dilakukan dalam arena demokrasi elektoral untuk mendulang suara.
Selain menjalankan ibadah-ibadah pokok, seorang figur yang ingin mendapatkan dukungan suara rakyat, sudah semestinanya tidak melanggar larangan pokok dalam agama Islam. Setiknya ada empat larangan pokok: tidak berzina, tidak mencuri, tidak makan makanan yang haram, tidak minum minuman yang haram. Larangan-larangan tersebut benar-benar harus dipatuhi. Kalau dilanggar, figur tersebut sudah dianggap cacat.
Yang kedua, selain masalah kenyakinan yang mayoritas beragama Islam, masyarakat Indonesia juga masih percaya mistik. Demam batu akik merupakan contoh yang masih hangat. Kenyataan ini tak dapat disepelekan. Figur-figur yang berhasil dalam politik adalah mereka yang mampu menangkap fenomena ini dengan tepat. Suharto dianggap sebagai guru mistik. Gus Dur semasa hidupnya rajin mengunjungi makam yang dianggap keramat. SBY percaya dengan kekuatan angka 9. Jokowi penganut mistik tulen.
Para pemilih pun (khususnya di pedesaan) mengamati kenyakinan mistik para figur. Ketika mereka yakin seseorang kuat pemahaman mistiknya, maka suara akan dialirkan kepadaya. Mungkin politikus yang belajar dari buku akan meremehkan fenomena mistik ini sebagai sesuatu yang berada di luar nalar alias tak rasional, padahal mistik masih menjadi faktor bagi seseorang yang ingin menjadi pemimpin di Indonesia.
Dari urain di atas, Agus Jabo tak akan cocok bila mimimpin PRD yang akan dijadikan sebagai partai elektoral. Kebiasan minum kerasnya jelas bertentangan dengan ajaran Islam, sementara sebagai mantan aktivis PII (Pelajar Islam Indonesia, ia jelas beragama Islam. Segala bentuk minuman keras diharamkan dalam Islam. Tidak ada kompromi. Sehingga perbuatan Agus Jabo dianggap menyimpang dengan ajaran Islam.
Ini belum lagi sikap politik Agus Jabo sebagai ketua PRD yang tidak peka terhadap isu-isu umat Islam. Sebagai contoh, ketika masyarakat menuntut agar minuman keras tidak dijual belikan di minimarket, Agus Jabo tidak pernah mengeluarkan stetmen mendukung tuntutan tersebut. Ia malah sibuk onani dengan istilah-istilah omong kosong seperti tri sakti, nekolim, anti imperialisme, dll. Dengan begitu, sikapnya terhadap tuntutan umat Islam tak ada. Kalau begitu, siapa yang akan memilih PRD yang hidup di tengah manyoritas umat Islam, kalau tak pernah memihak mereka?
Selanjutnya masyarakat juga tidak pernah melihat Agus Jabo pergi shalat Jumat. Foto yang gemar ia pajang lebih bayak foto narsis yang tak perlu: merokok dengan pipa sembari mengenakan topi yang ada gambar bintangnya, misalnya. Bukan foto ketika ia berangkat shalat Jumaat, menghadiri acara keagamaan, berpakaian muslim, atau foto buka bersama dengan istri yang berpakian muslimah, misalnya.
Tak mengherankan kalau kemudian PRD selalu dicap komunis dan atheis. Ini terjadi karena penampilan pempinannya semakin menguatkan ia seorang komunis yang atheis, bukan seorang muslim yang taat. Kalu tujuan PRD memang sebatas agar dinilai sebagai partai revolusioner, tak masalah. Tapi ketika PRD mau dijadikan alat bertarung dalam arena elektoral, tak akan laku, dan bisa-bisa menjadi sasaran lempar batu.
Secara mistik okelah sekarang Agus Jabo memakai batu bacan, tapi itu tak memadai. Orang banyak tak pernah tahu ia pernah berziarah kemakam-makam keramat, semadi di tempat wingit, melakukan tirakat dan olah kebatinan lainnya. Yang sering dilihat oleh orang, Agus Jabo justru sering mengunjungi cafe, tempat karaoke, maupun hotel-hotel. Tentu dengan begitu tak akan diterima oleh masyarakat yang masih percaya mistik.
Kalau tetap dipaksakan Agus Jabo tetap sebagai Ketua PRD, bukan suara yang akan didapatkan dalam Pemilu, tapi kenistaan. Tapi baiklah kalau dia ingin tetap sebagai Ketua PRD karena ia hendak menjadi ketua seumur hidup, sebagaimana Sukarno tokoh idolanya, menjadi presiden seumur hidup. Maka, tidak ada jalan bagi Agus Jabo untuk merevolusi dirinya sendiri.
Langkah pertama, Agus Jabo dan istrinya harus naik haji. Sebelum naik haji bisa melakukan umroh terlebih dahulu. Sekarang paket umroh sudah banyak. Dengan kedudukannya sebagai salah satu direktur TPI milik Mbak Tutut (sebagaimana ramai dibicarakan), secara finansial Agus Jabo tak akan kesulitan untuk umroh dan berhaji. Akan lebih baik kalau setelah umroh dan haji, istri Agus Jabo memaki hijab (Iriana, istri Jokowi, juga sempat berhijab).
Setelah menjadi haji, tentu saja Agus Jabo mesti meninggalkan kebiasaan meminum minuman keras, makan babi, dan segala sesuatu yang diharamkan oleh Islam. Dan, tentu saja setiap Jumat wajib untuk shalat Jum’at, serta sesering mungkin shalat berjamaah di masjid (terutama shalat Subuh dan Magrib). Sebagai ganti mendatangi cafe dan karaoke, Agus Jabo bisa pergi ke majelis taklim, pengajian, peringatan keagamaan, mendatangi para ulama dan kyai di pesantren-pesantren.
Yang kedua, guna meningkatkan kekuatan mistiknya, Agus Jabo perlu berziarah ke tempat-tempat keramat, masjid luar batang, misalnya. Kegiatan kungkum/berendam di tempuran Opok-Oyo, misalnya, sesering mungkin dilakukan. Bentuk bentuk tirakat seperti puasa ngrowot, pati geni, sampai puasa mutih, sudah sepatutnya dijadikan kebiasaan. Mendatangi guru-guru mistik juga penting untuk memperkuat ketajaman batin sehingga bisa tepat merumuskan strategi taktik elektoral.
Kalau Agus Jabo tidak mau merevolusi dirinya, lebih baik ia menjadi pimpinanan Republik Congyang, di mana ia bebas mabuk-mabukan, makan babi dan berzina. Sekian.***
Lereng Merapi. 14.03.2015


0 comments:
Posting Komentar