[Episode II: Kisah Asmara Panjul dan Teresia]
Kamera sementara di pindahkan ke Yogyakarta. Sebelum
menempati bangunan yang sekarang, Fakultas Filsafat UGM berada disalah satu
ruangan di Gedung Pusat UGM. Kalau sodara saudari pernah nonton film “Cintaku
di Kampus Biru”, ada ruangan perkuliahan yang ditampilkan, itulah Gedung Pusat
UGM. Konon, gedung ini diarsiteki oleh Sukarno. Dulu di halamannya ada pohon
cemara berjumlah tujuh, entah sekarang.
Di ruang Fakultus Filsafat itulah bersarang
mahasiswa-mahasiswa generasi Arjuna. Mereka rata-rata berasal dari kelas
menengah. Awalnya berpakaian perlente, tapi karena sumpek dengan kondisi sosial
kampus, mereka berubah hidup bohemian. Mungkin terinspirasi gerakan hippies di
Amrik, mereka memilih hidup menggelandang. Pakaian mereka yang awalnya
bagus-bagus, dibiarkan jadi lusuh dan kucel, tak pernah diganti selama
berbulan-bulan. Celana jean dibiarkan robek-robek. Mereka tak pernah mandi.
Tubuh dibiarkan penuh panu. Rambut gondrong, mata merah kurang tidur. Siang
malam dihabiskan untuk mabuk-mabukan. Jarang masuk kuliah. Kalaupun masuk
kuliah memakai pakaian yang aneh-aneh: pakai sarung, wajah lusuh belum terbilas
air, kaos oblong, dan rambut gimbal. Sesekali mereka memanjat gunung, mencari
kebebasan di alam raya.
Ada tiga sosok yang populer dari generasi ini: Raja Kong,
Beggy Subagio dan Andi Munajat [tentang Andi Munajat sudah saya tulis dalam
tulisan tersendiri]. Kalau pembaca bertemu mereka di tahun-tahun itu,
pertengahan 80-an, akan mengira mereka bukan mahasiswa, melainkan gelandangan.
Sampai mereka bertemu gagasan kiri. Raja Kong dan Beggy
Subagio bertemu dengan Mao sesudah semalaman teler. Dalam suasa itu mereka
berikar akan pergi ke desa. Sementara Andi Munajat sebetulnya tak fanatik pada
teori tertentu, malah mungkin dia tak pernah baca buku teori. Ia lebih tertarik
pers kampus dan papan catur. Ketika Raja Kong dan Beggy mulai pergi ke desa,
Andi Munajat membangun “Pijar” (nama pers mahasiswa filsafat) sebagai sarag
baru bagi mahasiswa yang sedang mencari jadi diri. Disitulah jabang bayi SMID
secara nasional bermula.
Guna mengetahui suasana kebatin Filsafat UGM tahun-tahun
itu, silakan simak lagu lagu John Tobing. Akan terdengar suara gugatan yang
romantis, jauh dari nuansa garang. Lagu “Darah Juang” misalnya, kata “bunda”
yang disebut, bukan kata “palu arit”, kata “tempat padi terhampar” sebuah
penggambaran suasana pedesaan yang tenang, kata “samuderanya kaya raya” sebuah
renungan tentang kebebasan suasana laut. Suasana ini memang suasana khas
generasi Arjuna. Sama dengan kemunculan lagu-lagu John Lenon di Eropa sana, beberapa
tahun sebelumnya. Lagu “Imagine” menandai lahirnya generasi bunga.
Generasi-generasi yang merindukan cinta dan perdamaian: “love and peace”.
Dalam melakukan pengorganisiran mahasiswa, Andi Munajat tak
pernah memakai doktrin-doktrin teori Kiri sebagaimana kaum Trotskis yang
genit-genit itu, tapi melalui bidak catur. Orang-orang yang mau dia rekrut
diajak main catur. Bisa sampai berhari-hari. Setelah permainan catur selesai,
orang itu mau bergabung. Begitulah ia mengorganisir mahasiswa. Maka tak
mengherankan kalau yang direkrut Andi Munajat macam-macam: ada mahasiswa yang
berprofesi sebagai pawang hujan, vokalis band sampai pemain teater. Dari Pijar,
Andi Munajat kemudian merentangkan sayapnya dengan semboyannya: satu hari satu
kota. Ia berkeliling dari satu kota ke kota lain. Tak mengherankan kalau dia
dikenal dibanyak kota. Di Semarang, misalnya, ia bertemu dengan Mat Gombloh. Di
Solo ia menjadikan Agus Jabo dari aktivis Islam garis keras menjadi nasionalis
kiri, dan lain-lain.
Saya ambil satu contoh. Mat Gombloh datang dari Brosot ke
Semarang bukan bercita-cita menjadi aktivis. Ia berasal dari keluarga kelas
menengah, datang ke Semarang untuk mendapatkan gelar “drs” dari Undip. Seperti
mahasiswa yang lain waktu itu, selain kuliah ia memilih main gitar dan
mabuk-mabukan. Cara hidupnya jelas kayak hippies, maka ia dapat gelar Gombloh:
suatu julukan untuk menunjukkan karakter gelandangannya.
Nah, waktu Mat Gombloh duduk di depan ruang kuliah sambil
gitarin dan menenggak congyang, kebetulan ada demo mahasiswa di halaman kampus.
Demo golput. Tentu saja demo itu dibubarkan. Gombloh yang sedang genjrang
genjreng main gitar ikut diciduk polisi. Dikiranya ia aktivis mahasiswa karena
penampilannya yang acak-acakan tadi.
Dari korban salah tangkap itulah Mat Gombloh menjadi
aktivis. Terus menerus digosok oleh Andi Munajat. Mat Gombloh tak pernah
didoktrin teori-teori Marx dan Lenin oleh Andi Munajat. Tapi ia bisa tumbuh
menjadi aktivis yang militan. Pernah ia ditangkap dalam demonstrasi di
Belangguan. Disiksa habis-habisan oleh tentara. Kumisnya dicabuti. Waktu itu,
kaum Trotski yang sekarang mengaku sok revolusioner itu, masih nenen di tetek
emaknya.
Semarang tentu bukan hanya Mat Gombloh. SMID Semarang
dikenal gudangnya para Srikandi Srikandi. Seperti hukum alam, di mana bunga
mawar yang mekar, kumbang-kumbang akan hilir mudik di sekitarnya. Oleh sebab
itu, tak mengherankan kalau Arjuna Arjuna dari Jakarta banyak pergi ke
Semarang. Terutama yang datang adalah aktivis SMID dari UI dan ISTN seperti
Wakyo, Pilut, Randru, Rosu, Timbo, dll. Alasannya tentu macam macam biar
terkesan revolusioner. Tentu tujuan pokoknya adalah selangkangan. Kata lainnya
tukar menukar selangkangan. Ini adalag generasi yang sebetulnya ingin menikmati
kebebasan hidup, kebetulan kiri menjadi sarana. Kalaupun ada cita-cita
sosialisme, itu lebih pada impian, bukan suatu niat yang betul-betul
diwujudkan. Mungkin semacam tren, ketika kiri dianggap seksi, maka masuk di
dalamnya. Di manapun, anak muda memang ingin mengaktualkan dirinya agar bisa
dilihat berbeda dengan yang lain. Saat itu, kiri memberikan jawaban itu sebagai
ruang untuk ekspresi diri. Kiri semakin keren karena dilarang oleh Orba.
Sehingga menjadi kiri merupakan kebanggan sendiri. Sebatas itu.
Sosok Arjuna memang pas untuk menggambarkannya. Kita tahu,
Arjuna merupakan tokoh Pandawa dalam Mahabarata. Ia pahlawan yang paling tampan
di antara saudara-saudaranya. Nah, aktivis SMID ini memposisikan diri sebagai
Arjuna. Mereka menempatkan
diri sebagai pahlawan liberalisme. Sebagaimana Arjuna, biar sempurna, sosok
Srikandi perlu berada di sisinya. Tentu tidak cukup satu Srikandi. Kalau bisa
di masing-masing kota memiliki Srikandi, apalagi kalau posisinya pengurus
pusat, pasti akan menambah prestise. Agar daya tawar naik, bila ada aksi massa
usahakan bentrok. Ditangkap waktu bentrok akan menaikan derajat dan kepopuleran
sehingga bisa menarik Srikandi-Srikandi mendekat. Begitulah asmara itu tumbuh
dan berkembang. Mereka selalu bermimpi tentang pengantin revolusioner yang
penuh romantika perjuangan. Berjuang sambil memadu kasih di medan juang. Ya,
anak-anak muda yang masih banyak dipenuhi mimpi romantisme.
Kembali ke Andi Munajat. Seperti yang lain, ia punya kisah
asmara. Pernah dia jatuh cinta pada seorang perempuan, tapi tak berani
mengungkapkan. Nah, pada saat menjelang kongres SMID yang terakhir, dia sedang
terpuruk: kisah asmaranya dengan seorang perempuan sedang berada di titik
nadir. Ia memutuskan untuk tak hadir. Setelah itu ia memang tersingkir dari
panggung, selain karena kisah asmara itu, ia diintrik sebagai intel. Ia sempat
memutuskan pulang ke kampung halamannya, sampai kemudian berita kematiannya
datang dari Kalimantan. Sosoknya memang jarang terdengar, padahal ia Sang
Pemula dalam arti sebenarnya.
Di Filsafat UGM zaman itu, Marxisme memang tidak disampaikan
seperti pelajaran “ini budi” layaknya yang sering dilakukan kaum Trotskis.
Tidak ada penyampaian tentang Rusia 1905, Rusia 1917, Plekanov, Martov, Molotov
dan tov tov lainnya. Tak ada kutipan kutipan kata-kata Marx atau Lenin. Yang
tertempel di lemari ruang Pijar justru potongan puisi WS Rendra: “Perjuangan
adalah pelaksanaan kata kata.” Kalau ditilik majalah PIJar yang terbit tahun
itu, tidak sama dengan web militan yang penuh kutib sana sini omongan Lenin
atau Trostki, seolah Indonesia ini Rusia. Paling yang ada kutipan dari Arief
Budiman atau mungkin Mangunwijaya.
Memang gerakan yang berpusar di Filsafat UGM lebih kelihatan
sebagai gerakan liberal. Pernah muncul aksi menolak pelarangan pemakaian sandal
jepit dan kaos oblong. Ini jelas tipikal tuntutan liberal, menuntut kebebasan
dalam berpakaian dan berekspresi. Tak ada tuntutan soviet sekarang juga.
Gerakan paling radikal yang pernah ada adalah menurunkan Pembantu Dekan III
karena memberlakukan jam malam. Lagi-lagi ini tuntutan liberal.
Nah, saat di Filsafat UGM muncul gerakan sandal jepit dan
kaos oblong, Panjul Ridowi bertemu dengan Teresia Ningrum. Ini merupakan masa
bawah tanah bagi PRD dan keluarganya. Belum genap seminggu dideklarasikan, PRD
diburu oleh Orde Baru, 27 Juli 1996. Bagaimana kisah asmara Panjul dan Teresia?
Simak lanjutannya.***[Episode III: Bara Asmara Panjul dan Teresia di Klender]
Lereng Merapi. 22.03.2015


0 comments:
Posting Komentar