Noktah Merah PRD [Bagian 3]

by Maret 23, 2015 0 comments

 



[Episode Bara Asmara Panjul dan Teresia di Klender]


 Sebelum melanjutkan perjalanan pada kisah asmara Panjul Ridowi dengan Teresia Ningrum, ada baiknya saya tuliskan dulu tentang dua heboh di tahun 90-an.


Heboh pertama adalah perkara jilbab. Sekitar 10 siswi dikeluarkan dari sebuah SMA di Jakarta. Pasalnya mereka mengenakan jilbab disekolah. Sesuatu yang dianggap melanggar aturan tentang seragam. Tentu kejadian itu mendapatkan protes dari masyarakat muslim. Heboh kedua menyangkut polling di tabloid Monitor. Hasil polling majalah tersebut menempatkan Nabi Muhammad di urutan 11, berada di bawah tokoh-tokoh seperti Suharto, BJ Habibie, Tri Sutrisno. Bahkan di bawah Iwan Fals dan Rhoma Irama. Tentu saja hal ini menimbulkan reaksi keras. Akhirnya, tabloid itu dibredel dan pimpinan redaksinya, Arswendo Atmowiloto dikrangkeng selama 5 tahun.


Dua heboh tersebut menandai bangkitnya Islam politk, salah satunya mulai menguatnya cikal bakal PKS. Kalau SMID diisi oleh generasi Arjuna dengan ideologi liberal [selain programnya liberal, selangkannya juga liberal], maka PKS diisi oleh kader-kader yang dilandasi ideologi Masyumi dan Ikhwanul Muslimin. Jelas di sini Islam sebagai pegangan.


Patut dicatat, periode 80-an banyak di antara orang-orang muslim yang menjadi makmur sebagai dampak berkah minyak bumi. Mereka mampu menyekolahkan anaknya sampai ke perguruan tinggi. Dari merekalah lahirlah kelas menengah Islam yang kemudian sadar politik. Sementara di sini lain, rezim justru tidak ramah terhadap umat Islam. Peristiwa Tanjung Priok pada tahun 1984 jadi salah satu contohnya. Belum lagi diskriminasi terhadap umat Islam yang berada di birokrasi dan tentara. Perlakuan ini memicu sentimen anti rezim di kalangan umat Islam.


PKS perlu diungkit di sini karena kelahirannya sejajar dengan SMID/ PRD. Dua lumbung pengkaderan PKS berasal dari LDK [Lembaga Dakwah Kampus] yang berada di universitas-universitas, dan ROIS [Rohani Islam] yang berada di sekolah-sekolah. Pada awalnya, mereka melakukan gerakan secara sembunyi-sembunyi mengingat Orde Baru tak menghendaki kemunculan Islam politik.


Baik LDK maupun Rois berpusar di masjid [kampus dan sekolahan]. Di tempat itulah kader-kader muda digembleng. Khusus LDK, awalnya berpusat pada 4 perguruan tinggi ternama: UGM, ITB, UI, dan IPB [SMID awalnya juga dari UGM dan UI]. Dari kampus-kampus itu kemudian meluas ke UNAIR [basis awal SMID Surabaya], UNDIP [basis awal SMID Semarang], USU dan UNHAS. Di situ terlihat persinggungan antara basis awal PKS dengan SMID/PRD.


Tentu saja ideologi PKS menolak ideologi liberal. Mereka berpegang teguh pada ajaran Islam. Mereka menerima poligami, tapi tak ada liberalisasi seks sebagaimana di SMID. Para kader-kader yang digembleng untuk menjadi Islam yang kaffah [total], artinya menjalankan hukum-hukum Islam secara total.


Saya sebutkan dua saja keunggulan pengkaderan embiro PKS dibandingkan  SMID/PRD. Pertama adalah soalan bangun pagi. Dari shalat wajib mereka dididik untuk berdisiplin bangun pagi: pagi sudah bangun untuk shalat Subuh, kemudian menjalankan shalat lainnya tepat waktu dan dilakukan di masjid secara berjamaah. Sementara itu, kader-kader liberal di SMID/PRD kesulitan untuk bangun bagi karena malamnya begadang sambil menenggak ciu, bir, congyang sampai cap tikus, atau bersetubuh. Silakan saudara saudari menengok sekretariat SMID kala itu. Bila datang jam 5 pagi, bisa ditemukan satu dua orang yang baru tidur dengan muka awut-awutan karena teler. Bila datang jam 6 pagi, semua penghuninya masih berserakan seperti gelandangan yang bermimpi memeluk rembulan. Jam 9 pagi mulai ada yang bangun, ngopi dan udut. Bila saudara saudari datang jam 12, baru semuanya bangun, itupun masih kumal dan belum mandi. Mungkin sepele masalah bangun pagi, tapi inil masalah ritme pengorganisasian. Generasi awal PKS bekerja pada ritme yang pasti [mengikuti waktu shalat], sementara SMID mengikuti ritme liberal [semaunya]. Mungkin tak sengaja, dengan ritme seperti itu, para pembangun PKS mengikuti ritme kerja buruh dan tani. Sementara SMID mengikuti ritme liberal kaum hippies.


Keunggulan kedua adalah rajin kuliah. Generasi SMID memandang masuk kuliah tak penting. Kurang revolusioner. Ruang kuliah adalah neraka, coletah mereka. Tempat doktrin doktrin Orba dicekokkan, kata mereka. Mereka lebih suka menggombrol di sekretariat. Status mereka memang mahasiswa, tapi menjadi DO adalah cita-cita tertinggi. Ini berkebalikan dari generasi awal PKS. Mereka rajin kuliah. Akademik sangat penting bagi mereka. Bahkan sebagian dari mereka kuliah keluar negeri. Ini berbeda dengan kader SMID, kalau ada kesempatan ke luar negeri target utamanya bisa bersetubuh dengan bule. Hasilnya juga berkebalikan. Setelah mereka tampil di politik nasional, kader kader PKS minimal sarja dan tak sedikit bergelar doktor. Mereka inilah yang kemudian mengisi kepengurusan dan menjadi baling-baling yang memutar organisasi.


Bangun pagi dan rajin kuliah sebetulnya merangkum satu hal: kedisiplinan. Inilah yang membedakan dan sekaligus menjawab pertanyaan: kenapa PKS terus eksis di panggung politik, sementara SMID/PRD nyungsep. Dua kelas menengah dari ideologi yang berbeda menghasilkan pencapaian yang berbeda.


Baiklah. Kembali ke Panjul dan Teresia. Seperti yang disunggung pada bagian sebelumnya, pasca Peristiwa 27 Juli 1996, PRD bergerak di bawah tanah. Dari sinilah bisa kita lihat begitu rapuhnya ideologi liberal yang digendong kader-kader PRD. Ini mudah dilihat. Generasi Arjuna ini walaupun memberontak tapi tujuan mendasar mereka adalah bersenang-senang: seks bebas, mabuk-mabukan, ngelek, hidup seenaknya, dll. Maka tak mengherankan ketika mendapatkan kejutan berbentuk represif dari kekuasaan, langsung kalang kabut, tak siap.


Setelah Peristiwa 27 Juli, PRD dan keluarganya (SMID, PPBI, dll) hancur. Kader-kadernya menghilang tak jelas rimbanya, bukan karena diculik, tapi karena demoralisasi. Di setiap kota generasi yang sebelumnya petentang pententeng ini tiba-tiba hilang ke garangnya, demoralisasi akut. Salah satunya tentu saja Panjul Ridowi. Jakarta salah satu yang paling parah yang demoralisasi. Ini wajar karena Jakarta merupakan sarang kader kader SMID/PRD yang paling liberal. Bisa dikatan hancur total SMID/PRD Jakarta. Generasi yang sebelumnya anak mama yang tumbuh menjadi liberal, tak sanggup menghadapi tekanan rezim. Arjuna pada balik pada pelukan sang mama.


Sikap liberal ini ternyata masih diterapkan oleh kader-kader yang masih terkoordinasi, terutama pimpinan pusat. Dalam persembunyian mereka masih berlaku liberal. Salah satu pimpinan, Tikus Botak, karena tak kuat menahan kangen, telpon kekasihnya yang ada di Batam. Tentu saja ini sasaran empuk karena telpon sudah disadap. Tak mengherankan kalau dengan mudah digebrek oleh tentara. Maka satu persatu dijebloskan ke penjara.


Sikap liberal masih berlaku juga ketika di dalam dipenjara. Bejadmiko minta ruangan khusus di penjara untuk bisa indehoi dengan pacarnya. Yang lain, yang tak mampu membeli ruangan khusus, akhirnya cukup main tangan saja waktu jam besuk. Agar tak kelihatan di pangkuannya di tutupi koran, agar muncratan tak kemana-mana. Itu beberapa contoh kecil.


Kembali ke Panjul. Karena demoralisasi, sekitar 1 tahun Panjul demoralisasi. Sampai akhirnya salah satu kader paling revolusioner di Jakarta, Sukas Poldoski, menemukan Panjul kembali. Di sinilah awal bertemunya Panjul dan Teresia. Begini ceritanya.


Karena PRD dan keluarganya berantakan, maka dibentuk struktur komando. Jakarta dijadikan titik pusat. Karena kader kader di Jakarta paling parah demoralisasinya, yang tersisa bisa dihitung dengan jari, maka kader kader dari lain daerah didatangkan. Mereka ditempat sesuai pada teritorinya masing-masing: timur, selatan, barat, utara dan pusat. Nah, Panjul di tempatkan di Jakarta Timur. Dia satu tempat dengan tokoh yang sekarang lagi naik daun di gerakan buruh: Boing Wanandi.


Di komando Jakarta Timur, Panjul dipersatukan juga dengan Teriesia. Awalnya, Teresia ini adalah simpatisan PDIP Pro Mega. Ia baru lulus SMA. Tubuhnya montok dan sintal, sesuai selera Panjul. Kurang tahu persis kenapa Panjul menyasar anak-anak SMA atau yang baru lulus, mungkin supaya gampang dikibuli. Cintapun membara di komando Jakarta Timur yang letaknya tak jauh dari stasiun kereta api Klender. Seperti permen karet, mereka lengket. Seperti pusaran mata air, saling menyedot. Lenguh kereta api, lenguh Panjul dan Teresia. Desah angin, desah kepuasan keduanya.


Begitulah cinta itu ditulis. Kisah ini menandai periode PRD bawah tanah. Bagaimana kelanjutannya? Simak episode berikutnya.*** [episode IV: Kisah Asmara Panjul dan Caturwangi]


 Lereng Merapi.23.03.2015


Ragil Nugroho

Tikus Merah

Pencemooh berhati lembut. Berkebun dan bercocok tanam. Membakar sampah. Makan makanan bergizi.

0 comments:

Posting Komentar