[Episode Bara
Asmara Panjul dan Teresia di Klender]
Sebelum
melanjutkan perjalanan pada kisah asmara Panjul Ridowi dengan Teresia Ningrum,
ada baiknya saya tuliskan dulu tentang dua heboh di tahun 90-an.
Heboh pertama
adalah perkara jilbab. Sekitar 10 siswi dikeluarkan dari sebuah SMA di Jakarta.
Pasalnya mereka mengenakan jilbab disekolah. Sesuatu yang dianggap melanggar
aturan tentang seragam. Tentu kejadian itu mendapatkan protes dari masyarakat
muslim. Heboh kedua menyangkut polling di tabloid Monitor. Hasil polling
majalah tersebut menempatkan Nabi Muhammad di urutan 11, berada di bawah
tokoh-tokoh seperti Suharto, BJ Habibie, Tri Sutrisno. Bahkan di bawah Iwan
Fals dan Rhoma Irama. Tentu saja hal ini menimbulkan reaksi keras. Akhirnya,
tabloid itu dibredel dan pimpinan redaksinya, Arswendo Atmowiloto dikrangkeng
selama 5 tahun.
Dua heboh
tersebut menandai bangkitnya Islam politk, salah satunya mulai menguatnya cikal
bakal PKS. Kalau SMID diisi oleh generasi Arjuna dengan ideologi liberal
[selain programnya liberal, selangkannya juga liberal], maka PKS diisi oleh
kader-kader yang dilandasi ideologi Masyumi dan Ikhwanul Muslimin. Jelas di
sini Islam sebagai pegangan.
Patut dicatat,
periode 80-an banyak di antara orang-orang muslim yang menjadi makmur sebagai
dampak berkah minyak bumi. Mereka mampu menyekolahkan anaknya sampai ke
perguruan tinggi. Dari merekalah lahirlah kelas menengah Islam yang kemudian
sadar politik. Sementara di sini lain, rezim justru tidak ramah terhadap umat
Islam. Peristiwa Tanjung Priok pada tahun 1984 jadi salah satu contohnya. Belum
lagi diskriminasi terhadap umat Islam yang berada di birokrasi dan tentara.
Perlakuan ini memicu sentimen anti rezim di kalangan umat Islam.
PKS perlu
diungkit di sini karena kelahirannya sejajar dengan SMID/ PRD. Dua lumbung
pengkaderan PKS berasal dari LDK [Lembaga Dakwah Kampus] yang berada di
universitas-universitas, dan ROIS [Rohani Islam] yang berada di
sekolah-sekolah. Pada awalnya, mereka melakukan gerakan secara
sembunyi-sembunyi mengingat Orde Baru tak menghendaki kemunculan Islam politik.
Baik LDK maupun
Rois berpusar di masjid [kampus dan sekolahan]. Di tempat itulah kader-kader
muda digembleng. Khusus LDK, awalnya berpusat pada 4 perguruan tinggi ternama:
UGM, ITB, UI, dan IPB [SMID awalnya juga dari UGM dan UI]. Dari kampus-kampus
itu kemudian meluas ke UNAIR [basis awal SMID Surabaya], UNDIP [basis awal SMID
Semarang], USU dan UNHAS. Di situ terlihat persinggungan antara basis awal PKS
dengan SMID/PRD.
Tentu saja
ideologi PKS menolak ideologi liberal. Mereka berpegang teguh pada ajaran
Islam. Mereka menerima poligami, tapi tak ada liberalisasi seks sebagaimana di
SMID. Para kader-kader yang digembleng untuk menjadi Islam yang kaffah [total],
artinya menjalankan hukum-hukum Islam secara total.
Saya sebutkan dua
saja keunggulan pengkaderan embiro PKS dibandingkan SMID/PRD. Pertama adalah
soalan bangun pagi. Dari shalat wajib mereka dididik untuk berdisiplin bangun
pagi: pagi sudah bangun untuk shalat Subuh, kemudian menjalankan shalat lainnya
tepat waktu dan dilakukan di masjid secara berjamaah. Sementara itu,
kader-kader liberal di SMID/PRD kesulitan untuk bangun bagi karena malamnya
begadang sambil menenggak ciu, bir, congyang sampai cap tikus, atau bersetubuh.
Silakan saudara saudari menengok sekretariat SMID kala itu. Bila datang jam 5
pagi, bisa ditemukan satu dua orang yang baru tidur dengan muka awut-awutan
karena teler. Bila datang jam 6 pagi, semua penghuninya masih berserakan
seperti gelandangan yang bermimpi memeluk rembulan. Jam 9 pagi mulai ada yang
bangun, ngopi dan udut. Bila saudara saudari datang jam 12, baru semuanya
bangun, itupun masih kumal dan belum mandi. Mungkin sepele masalah bangun pagi,
tapi inil masalah ritme pengorganisasian. Generasi awal PKS bekerja pada ritme
yang pasti [mengikuti waktu shalat], sementara SMID mengikuti ritme liberal
[semaunya]. Mungkin tak sengaja, dengan ritme seperti itu, para pembangun PKS
mengikuti ritme kerja buruh dan tani. Sementara SMID mengikuti ritme liberal
kaum hippies.
Keunggulan kedua adalah
rajin kuliah. Generasi SMID memandang masuk kuliah tak penting. Kurang
revolusioner. Ruang kuliah adalah neraka, coletah mereka. Tempat
doktrin doktrin Orba dicekokkan, kata mereka. Mereka lebih suka menggombrol
di sekretariat. Status mereka memang mahasiswa, tapi menjadi DO adalah
cita-cita tertinggi. Ini berkebalikan dari generasi awal PKS. Mereka rajin
kuliah. Akademik sangat penting bagi mereka. Bahkan sebagian dari mereka kuliah
keluar negeri. Ini berbeda dengan kader SMID, kalau ada kesempatan ke luar
negeri target utamanya bisa bersetubuh dengan bule. Hasilnya juga berkebalikan.
Setelah mereka tampil di politik nasional, kader kader PKS minimal sarja dan
tak sedikit bergelar doktor. Mereka inilah yang kemudian mengisi kepengurusan
dan menjadi baling-baling yang memutar organisasi.
Bangun pagi dan
rajin kuliah sebetulnya merangkum satu hal: kedisiplinan.
Inilah yang membedakan dan sekaligus menjawab pertanyaan: kenapa PKS terus
eksis di panggung politik, sementara SMID/PRD nyungsep. Dua kelas
menengah dari ideologi yang berbeda menghasilkan pencapaian yang berbeda.
Baiklah. Kembali
ke Panjul dan Teresia. Seperti yang disunggung pada bagian sebelumnya, pasca
Peristiwa 27 Juli 1996, PRD bergerak di bawah tanah. Dari sinilah bisa kita
lihat begitu rapuhnya ideologi liberal yang digendong kader-kader PRD. Ini
mudah dilihat. Generasi Arjuna ini walaupun memberontak tapi tujuan mendasar
mereka adalah bersenang-senang: seks bebas, mabuk-mabukan, ngelek, hidup
seenaknya, dll. Maka tak mengherankan ketika mendapatkan kejutan berbentuk
represif dari kekuasaan, langsung kalang kabut, tak siap.
Setelah Peristiwa
27 Juli, PRD dan keluarganya (SMID, PPBI, dll) hancur. Kader-kadernya
menghilang tak jelas rimbanya, bukan karena diculik, tapi karena demoralisasi.
Di setiap kota generasi yang sebelumnya petentang pententeng ini tiba-tiba
hilang ke garangnya, demoralisasi akut. Salah satunya tentu saja Panjul Ridowi.
Jakarta salah satu yang paling parah yang demoralisasi. Ini wajar karena
Jakarta merupakan sarang kader kader SMID/PRD yang paling liberal. Bisa dikatan
hancur total SMID/PRD Jakarta. Generasi yang sebelumnya anak mama yang tumbuh
menjadi liberal, tak sanggup menghadapi tekanan rezim. Arjuna pada balik pada
pelukan sang mama.
Sikap liberal ini
ternyata masih diterapkan oleh kader-kader yang masih terkoordinasi, terutama
pimpinan pusat. Dalam persembunyian mereka masih berlaku liberal. Salah satu
pimpinan, Tikus Botak, karena tak kuat menahan kangen, telpon kekasihnya yang
ada di Batam. Tentu saja ini sasaran empuk karena telpon sudah disadap. Tak
mengherankan kalau dengan mudah digebrek oleh tentara. Maka satu persatu
dijebloskan ke penjara.
Sikap liberal
masih berlaku juga ketika di dalam dipenjara. Bejadmiko minta ruangan khusus di
penjara untuk bisa indehoi dengan pacarnya. Yang lain, yang tak mampu membeli
ruangan khusus, akhirnya cukup main tangan saja waktu jam besuk. Agar tak
kelihatan di pangkuannya di tutupi koran, agar muncratan tak kemana-mana. Itu
beberapa contoh kecil.
Kembali ke
Panjul. Karena demoralisasi, sekitar 1 tahun Panjul demoralisasi. Sampai
akhirnya salah satu kader paling revolusioner di Jakarta, Sukas Poldoski,
menemukan Panjul kembali. Di sinilah awal bertemunya Panjul dan Teresia. Begini
ceritanya.
Karena PRD dan
keluarganya berantakan, maka dibentuk struktur komando. Jakarta dijadikan titik
pusat. Karena kader kader di Jakarta paling parah demoralisasinya, yang tersisa
bisa dihitung dengan jari, maka kader kader dari lain daerah didatangkan. Mereka
ditempat sesuai pada teritorinya masing-masing: timur, selatan, barat, utara
dan pusat. Nah, Panjul di tempatkan di Jakarta Timur. Dia satu tempat dengan
tokoh yang sekarang lagi naik daun di gerakan buruh: Boing Wanandi.
Di komando
Jakarta Timur, Panjul dipersatukan juga dengan Teriesia. Awalnya, Teresia ini
adalah simpatisan PDIP Pro Mega. Ia baru lulus SMA. Tubuhnya montok dan sintal,
sesuai selera Panjul. Kurang tahu persis kenapa Panjul menyasar anak-anak SMA
atau yang baru lulus, mungkin supaya gampang dikibuli. Cintapun membara di
komando Jakarta Timur yang letaknya tak jauh dari stasiun kereta api Klender.
Seperti permen karet, mereka lengket. Seperti pusaran mata air, saling
menyedot. Lenguh kereta api, lenguh Panjul dan Teresia. Desah angin, desah
kepuasan keduanya.
Begitulah cinta
itu ditulis. Kisah ini menandai periode PRD bawah tanah. Bagaimana
kelanjutannya? Simak episode berikutnya.*** [episode IV: Kisah Asmara Panjul
dan Caturwangi]
Lereng
Merapi.23.03.2015


0 comments:
Posting Komentar