[Episode IV: Kisah Asmara Panjul dan Caturwangi]
Caturwangi mulai ngartis ketika di Filsafat UGM ada mogok
makan, sekitar akhir 1997. Mogok makan ini merupakan ide dari Sahanudin Hamzah
atau populer dengan panggilan Hamcrut, aktivis Jaker, yang setelah 27 Juli 1996
porak poranda juga organisasinya, dan Manik Wijil Sadmoko atau sering dipanggil
Ngademo, mantan aktivis SMID. Mogok makan dilakukan untuk memprotes rezim yang
semakin represif. Awalnya diikuti dua orang, lama kelamaan bertambah 8-10
orang. Kampus Filsafat pun kembali bergeliat. Ramai seperti pasar malam.
Para desertir-desertir SMID/PRD mulai muncul satu persatu.
Mereka yang sebagian besar pulang ke rumah mamanya karena takut dikejar-kejar
tentara, mulai muncul satu persatu. Salah satu di antarnya adalah Caturwangi.
Sebagaimana yang lain, ia penganut ideologi liberal.
Hasil mogok makan ini kemudian mengkristal menjadi KPRP
[Komite Perjuangan Rakyat Untuk Perubahan]. Tentu saja isinya
mahasiswa-mahasiswi liberal. Hamcrut sebagai sesepuh di organisasi itu pernah
murka. Pasalnya anggota KPRP ngencuk sembarangan [ada yang ngencuk di selasar
Fakultas Filsafat, di lantai dua ruang dosen, kamar mandi dosen, taman belakang
ruang perkuliahan]. Dia pernah berujar: “Daripada ngencuk di sini, sana pergi
ke Kaliurang, aku bayarin. Kayak anjing saja ngencuk sembarang tempat” Tentu
dia puyeng mendapatkan komplain dari pihak fakultas. Setiap pagi bekas kondom
berserakan di mana-mana. Belum lagi anggota KPRP yang telar tidur seenaknya di
depan ruang kuliah, halaman kampus, parkiran, dll. Maka memang lebih tepat KPRP
disebut organisasi bordil yang cabulnya sudah tingkat dewa, daripada organisasi
perjuangan.
Kecabulan anggota KPRP juga dilakukan ketika menyelenggaraan
pendidikan yang dikenal dengan kurpol [kursus politik]. Setiap malam, selesai
pendidikan, laki dan perempuan bergumul di atas ranjang. Pihak asrama yang
meminjamkan tempat protes karena sprei tempat tidur banyak ceceran sperma, WC
mampet, setelah dibongkar ditemukan kondom. Masih banyak kisah kecabulan yang
lain.
Tentu saja di luaran anggota KPRP mengaku revolusioner.
Bahkan masih menjadi kebanggaan sampai saat ini. Kebanggan ini kemudian dijual
untuk mendukung cukong rokok, mendirikan LSM, atau mencari proyek lain.
Caturwangi bagian dari generasi KPRP. Tiap malam teler di Pakjesan, sebuah
tempat tak jauh dari lokalisasi Pasar Kembang. Pulang teler balik ke Filsafat.
Seringkali di antara mereka muntah-muntah di kamar mandi dosen, tak
dibersihkan.
Ketika Caturwangi mulai aktif di KPRP, Panjul dan Sukas
Poldoski serta yang lain mendirikan Komrad, organisasi mahasiswa yang berpusat
di IISIP, sama dengan KPRP di Yogya. Komrad terus eksis sampai kejatuhan
Suharto di bulan Mei. Periode ini memang periode ormas mahasiswa. Zaman komite
aksi.
Ketika di Komrad, hubungan Panjul dan Teresia mulai
renggang. Panjul memilih di antara mahasiswa, sementara Teresia di kaum miskin
kota, khususnya simpatisan PDI Mega. Memang program komando PRD membawa
masalah. Fokus komando adalah mengorganisir kaum miskin perkotaan, sektor buruh
dan mahasiswa ditelantarkan. Ini memunculkan perdebatan di internal.
Yang awalnya ikut bergabung di komando, seperti Sukas, mulai
melirik mahasiswa. Maka oleh Pak Kenthu, sesepuh PRD, Sukas dibilang ngentuti
partai. Sementara Boing Wanandi pilih kembali ke buruh. Tak mengherankan
orang-orang macam Boing dicap Trotkis alias buruhisme. Sementara Mat Gombloh
protes, kader-kader daerah banyak yang ditarik ke Jakarta untuk menjadi bagian
dari komando. Efeknya, menurut Mat Gombloh, daerah menjadi pincang. Begitulah
yang terjadi.
Sampai akhirnya Suharto jatuh. PRD yang sebelumnya berada di
bawah tanah, tampil legal lagi. Dibentuklah Kepal [Komite Persiapan Legalisasi]
PRD. Munculnya Kepal PRD ini ditandai dengan putusnya hubungan asmara antara
Panjul dan Teresia. Perpisahan memang menyanyat. Sebelum berpisah mereka
menyanyikan lagu Stinky, “Mungkinkah”:
“Tetes air mata basahi pipiku
Di saat kita kan berpisah
Terucapkan janji padamu kasihku
Takkan kulupakan dirimu
Begitu beratnya kau lepas diriku
Sebut namaku jika kau rindukan aku.”
Begitulah. Cinta akhirnya berakhir. Bergulung-gulung tisu
dipakai untuk menghapus air mata. Hati mereka diperban karena terluka, tergores
duri cinta. Kisah indah zaman komando telah menjadi masa lalu.
PRD kemudian memutuskan ikut Pemilu 1999, dan lolos
verifikasi sehingga ikut berlaga. Pada periode ini, Panjul menjadi pimpinan
teras KPW PRD DKI. Pada periode ini pula Caturwangi ditarik menjadi pengurus
pusat PRD. Karena Panjul sering ke kantor pusat PRD di Basuki Rahmat,
bertemulah dengan Caturwangi. Dari situlah dua hati saling bertaut. Sebagai
wujud cinta yang sedang mekar, Caturwangi sering digendong di punggung Panjul.
Lantas mereka duduk berdua di pinggir sungai yang sekarang menjadi Banjir Kanal
Timur. Keduanya duduk menikmati senja sembari pegang-pegangan tangan sampai
pegang yang lain. Begitulah cinta itu dipupuk.
PRD pada periode Pemilu seperti mengembalikan ke periode
SMID sebelum 27 Juli: periode liberal. Liberalisasi seks kembali terjadi. Entah
itu di sekretariat maupun di kost-kost. Euforia reformasi juga membawa euforia
perkelaminan, tak hanya di pusat, tapi juga di daerah-daerah. Tentu Panjul dan
Caturwangi menikmati suasa ini. Sudah biasa selangkangan beradu. Berpacu dalam
lenguh dan gairah. Semuanya dituntaskan dalam api yang tak pernah padam.
Tentu saja yang berkesan di antara Panjul dan Caturwangi
adalah demo di depan KPU. Demo dilakukan PRD untuk menolak hasil Pemilu yang
katanya curang. Biasa, pihak yang kalah akan menuduh wasit curang, seperti di
bola. Aksi itu dihajar habis-habisan oleh polisi. Caturwangi terluka parah.
Tentu saja Panjul tertekan. Tiap hari dia menunggui Caturwangi, memandikan
sampai menggantikan baju. Inilah yang membuat cinta keduanya semakin lengket.
Seolah tak terpisahkan seperti Laila Majnun, Saijah Adinda atau Romeo Juliet.
Bahkan sudah memilih nama untuk anak-anak mereka kalau kelak menikah. Tentu
nama yang revolusioner seperti Leninista, Pletokrevo, Martinovputra,
Iskranegra, Martovisa, dll.
Pasca Pemilu, PRD mulai terpuruk. Anggota yang direkrut
dalam Pemilu mulai pergi. Ini wajar karena mereka memang sebagian besar
penganut ideologi liberal. Gabung dengan PRD semata-mata ingin eksis dan ingin
mendapat label revolusioner. Di samping tentunya, di PRD bebas tak ada larangan
untuk mabuk dan ngeseks. Rata-rata yang gabung memang mahasiswa baru. Mereka
yang baru lepas dari netek emaknya, mendapati situasi yang terbuka. Mereka
tentu ingin ikut-ikutan tampil kritis sebagaimana teman-temannya. Ikut demo.
Sebagian masih memakai jaket almater dan payung karena tak ingin kulitnya hitam
tersengat matahari.
Setelah anggota-anggota pada pergi, PRD mengecil lagi.
Sekretariat mulai sepi, sebagian yang lain tutup. Mulailah terjadi pengetatan.
Sebelumnya PRD liberal, mulai diketatkan, terutama pengurus pusat. Pengurus
harus sudah siap di kantor jam 8 pagi. Siap di ruang masing-masing. Pulang jam
5 sore. Dapat jatah makan dua kali, persis di penjara. Guna menjaga disiplin
dipasang anjing penjaga bernama Kolonel Hanafi. Tentu saja ini bikin puyeng.
Bayangkan kader-kader yang baru mencecap demokrasi liberal dipaksa hidup di era
Stalin. Inilah yang kemudian memicu perpecahan.
Sekelompok kader liberal yang merasa tak bebas lagi membuat
dalih. Gus Dur dijadikan kambing hitam. PRD ala Stalin ini dianggap telah
berkolaborasi dengan Gus Dur. Perdebatan terjadi. Paling terakhir di
Megamendung.
Sebetulnya semuanya cuma kedok saja. Agar keinginan mereka
untuk liberal terkesan revolusioner, dicarilah dalih ideologis. Mereka inilah
yang kemudian mendirikan PDS [Perhimpunan Demokrasi Sosialis]. Sebagai wujud
deklarasi keliberalan mereka, pendirian PDS diumumkan di Kelamin Utan Kayu
[KUK]. Tentu kita tahu, dari KUK kemudian lahir JIL.
Panjul dan Caturwangi bergabung dengan PDS. Wujud
keliberalan PDS kembali diperlihatkan. Salah satu pimpinannya kemudian terlibat
afair dengan istri orang. Kemudian mereka melarikan diri ke Amerika Serikat,
sampai sekarang. Tak mengherankan kalau organisasi ini tak seumur jengkol,
pecah lagi. Munculnya PDS-O[rganiser]. Panjul bergabung dengan PDS-O. Disinilah
hubungan Panjul dan Caturwangi mulai retak.
Panjul pun puyeng pala berbie. Periode keretakan Panjul dan
Caturwangi merupakan periode dikuburkannya PDS, organisasi Kiri yang umurnya
paling pendek. Bagaimana kelanjutan kisah Panjul. Tunggu di episode
selanjutnya.*** [Episode V: Ketika Panjul CLBK]
Lereng Merapi.24.03.2015


0 comments:
Posting Komentar