Noktah Merah PRD [Bagian 4]

by Maret 25, 2015 0 comments

 




[Episode IV: Kisah Asmara Panjul dan Caturwangi]



Caturwangi mulai ngartis ketika di Filsafat UGM ada mogok makan, sekitar akhir 1997. Mogok makan ini merupakan ide dari Sahanudin Hamzah atau populer dengan panggilan Hamcrut, aktivis Jaker, yang setelah 27 Juli 1996 porak poranda juga organisasinya, dan Manik Wijil Sadmoko atau sering dipanggil Ngademo, mantan aktivis SMID. Mogok makan dilakukan untuk memprotes rezim yang semakin represif. Awalnya diikuti dua orang, lama kelamaan bertambah 8-10 orang. Kampus Filsafat pun kembali bergeliat. Ramai seperti pasar malam.


Para desertir-desertir SMID/PRD mulai muncul satu persatu. Mereka yang sebagian besar pulang ke rumah mamanya karena takut dikejar-kejar tentara, mulai muncul satu persatu. Salah satu di antarnya adalah Caturwangi. Sebagaimana yang lain, ia penganut ideologi liberal.


Hasil mogok makan ini kemudian mengkristal menjadi KPRP [Komite Perjuangan Rakyat Untuk Perubahan]. Tentu saja isinya mahasiswa-mahasiswi liberal. Hamcrut sebagai sesepuh di organisasi itu pernah murka. Pasalnya anggota KPRP ngencuk sembarangan [ada yang ngencuk di selasar Fakultas Filsafat, di lantai dua ruang dosen, kamar mandi dosen, taman belakang ruang perkuliahan]. Dia pernah berujar: “Daripada ngencuk di sini, sana pergi ke Kaliurang, aku bayarin. Kayak anjing saja ngencuk sembarang tempat” Tentu dia puyeng mendapatkan komplain dari pihak fakultas. Setiap pagi bekas kondom berserakan di mana-mana. Belum lagi anggota KPRP yang telar tidur seenaknya di depan ruang kuliah, halaman kampus, parkiran, dll. Maka memang lebih tepat KPRP disebut organisasi bordil yang cabulnya sudah tingkat dewa, daripada organisasi perjuangan.


Kecabulan anggota KPRP juga dilakukan ketika menyelenggaraan pendidikan yang dikenal dengan kurpol [kursus politik]. Setiap malam, selesai pendidikan, laki dan perempuan bergumul di atas ranjang. Pihak asrama yang meminjamkan tempat protes karena sprei tempat tidur banyak ceceran sperma, WC mampet, setelah dibongkar ditemukan kondom. Masih banyak kisah kecabulan yang lain.


Tentu saja di luaran anggota KPRP mengaku revolusioner. Bahkan masih menjadi kebanggaan sampai saat ini. Kebanggan ini kemudian dijual untuk mendukung cukong rokok, mendirikan LSM, atau mencari proyek lain. Caturwangi bagian dari generasi KPRP. Tiap malam teler di Pakjesan, sebuah tempat tak jauh dari lokalisasi Pasar Kembang. Pulang teler balik ke Filsafat. Seringkali di antara mereka muntah-muntah di kamar mandi dosen, tak dibersihkan.


Ketika Caturwangi mulai aktif di KPRP, Panjul dan Sukas Poldoski serta yang lain mendirikan Komrad, organisasi mahasiswa yang berpusat di IISIP, sama dengan KPRP di Yogya. Komrad terus eksis sampai kejatuhan Suharto di bulan Mei. Periode ini memang periode ormas mahasiswa. Zaman komite aksi.


Ketika di Komrad, hubungan Panjul dan Teresia mulai renggang. Panjul memilih di antara mahasiswa, sementara Teresia di kaum miskin kota, khususnya simpatisan PDI Mega. Memang program komando PRD membawa masalah. Fokus komando adalah mengorganisir kaum miskin perkotaan, sektor buruh dan mahasiswa ditelantarkan. Ini memunculkan perdebatan di internal.


Yang awalnya ikut bergabung di komando, seperti Sukas, mulai melirik mahasiswa. Maka oleh Pak Kenthu, sesepuh PRD, Sukas dibilang ngentuti partai. Sementara Boing Wanandi pilih kembali ke buruh. Tak mengherankan orang-orang macam Boing dicap Trotkis alias buruhisme. Sementara Mat Gombloh protes, kader-kader daerah banyak yang ditarik ke Jakarta untuk menjadi bagian dari komando. Efeknya, menurut Mat Gombloh, daerah menjadi pincang. Begitulah yang terjadi.


Sampai akhirnya Suharto jatuh. PRD yang sebelumnya berada di bawah tanah, tampil legal lagi. Dibentuklah Kepal [Komite Persiapan Legalisasi] PRD. Munculnya Kepal PRD ini ditandai dengan putusnya hubungan asmara antara Panjul dan Teresia. Perpisahan memang menyanyat. Sebelum berpisah mereka menyanyikan lagu Stinky, “Mungkinkah”:


“Tetes air mata basahi pipiku
Di saat kita kan berpisah
Terucapkan janji padamu kasihku
Takkan kulupakan dirimu
Begitu beratnya kau lepas diriku
Sebut namaku jika kau rindukan aku.”


Begitulah. Cinta akhirnya berakhir. Bergulung-gulung tisu dipakai untuk menghapus air mata. Hati mereka diperban karena terluka, tergores duri cinta. Kisah indah zaman komando telah menjadi masa lalu.


PRD kemudian memutuskan ikut Pemilu 1999, dan lolos verifikasi sehingga ikut berlaga. Pada periode ini, Panjul menjadi pimpinan teras KPW PRD DKI. Pada periode ini pula Caturwangi ditarik menjadi pengurus pusat PRD. Karena Panjul sering ke kantor pusat PRD di Basuki Rahmat, bertemulah dengan Caturwangi. Dari situlah dua hati saling bertaut. Sebagai wujud cinta yang sedang mekar, Caturwangi sering digendong di punggung Panjul. Lantas mereka duduk berdua di pinggir sungai yang sekarang menjadi Banjir Kanal Timur. Keduanya duduk menikmati senja sembari pegang-pegangan tangan sampai pegang yang lain. Begitulah cinta itu dipupuk.


PRD pada periode Pemilu seperti mengembalikan ke periode SMID sebelum 27 Juli: periode liberal. Liberalisasi seks kembali terjadi. Entah itu di sekretariat maupun di kost-kost. Euforia reformasi juga membawa euforia perkelaminan, tak hanya di pusat, tapi juga di daerah-daerah. Tentu Panjul dan Caturwangi menikmati suasa ini. Sudah biasa selangkangan beradu. Berpacu dalam lenguh dan gairah. Semuanya dituntaskan dalam api yang tak pernah padam.


Tentu saja yang berkesan di antara Panjul dan Caturwangi adalah demo di depan KPU. Demo dilakukan PRD untuk menolak hasil Pemilu yang katanya curang. Biasa, pihak yang kalah akan menuduh wasit curang, seperti di bola. Aksi itu dihajar habis-habisan oleh polisi. Caturwangi terluka parah. Tentu saja Panjul tertekan. Tiap hari dia menunggui Caturwangi, memandikan sampai menggantikan baju. Inilah yang membuat cinta keduanya semakin lengket. Seolah tak terpisahkan seperti Laila Majnun, Saijah Adinda atau Romeo Juliet. Bahkan sudah memilih nama untuk anak-anak mereka kalau kelak menikah. Tentu nama yang revolusioner seperti Leninista, Pletokrevo, Martinovputra, Iskranegra, Martovisa, dll.


Pasca Pemilu, PRD mulai terpuruk. Anggota yang direkrut dalam Pemilu mulai pergi. Ini wajar karena mereka memang sebagian besar penganut ideologi liberal. Gabung dengan PRD semata-mata ingin eksis dan ingin mendapat label revolusioner. Di samping tentunya, di PRD bebas tak ada larangan untuk mabuk dan ngeseks. Rata-rata yang gabung memang mahasiswa baru. Mereka yang baru lepas dari netek emaknya, mendapati situasi yang terbuka. Mereka tentu ingin ikut-ikutan tampil kritis sebagaimana teman-temannya. Ikut demo. Sebagian masih memakai jaket almater dan payung karena tak ingin kulitnya hitam tersengat matahari.


Setelah anggota-anggota pada pergi, PRD mengecil lagi. Sekretariat mulai sepi, sebagian yang lain tutup. Mulailah terjadi pengetatan. Sebelumnya PRD liberal, mulai diketatkan, terutama pengurus pusat. Pengurus harus sudah siap di kantor jam 8 pagi. Siap di ruang masing-masing. Pulang jam 5 sore. Dapat jatah makan dua kali, persis di penjara. Guna menjaga disiplin dipasang anjing penjaga bernama Kolonel Hanafi. Tentu saja ini bikin puyeng. Bayangkan kader-kader yang baru mencecap demokrasi liberal dipaksa hidup di era Stalin. Inilah yang kemudian memicu perpecahan.


Sekelompok kader liberal yang merasa tak bebas lagi membuat dalih. Gus Dur dijadikan kambing hitam. PRD ala Stalin ini dianggap telah berkolaborasi dengan Gus Dur. Perdebatan terjadi. Paling terakhir di Megamendung.


Sebetulnya semuanya cuma kedok saja. Agar keinginan mereka untuk liberal terkesan revolusioner, dicarilah dalih ideologis. Mereka inilah yang kemudian mendirikan PDS [Perhimpunan Demokrasi Sosialis]. Sebagai wujud deklarasi keliberalan mereka, pendirian PDS diumumkan di Kelamin Utan Kayu [KUK]. Tentu kita tahu, dari KUK kemudian lahir JIL.


Panjul dan Caturwangi bergabung dengan PDS. Wujud keliberalan PDS kembali diperlihatkan. Salah satu pimpinannya kemudian terlibat afair dengan istri orang. Kemudian mereka melarikan diri ke Amerika Serikat, sampai sekarang. Tak mengherankan kalau organisasi ini tak seumur jengkol, pecah lagi. Munculnya PDS-O[rganiser]. Panjul bergabung dengan PDS-O. Disinilah hubungan Panjul dan Caturwangi mulai retak.


Panjul pun puyeng pala berbie. Periode keretakan Panjul dan Caturwangi merupakan periode dikuburkannya PDS, organisasi Kiri yang umurnya paling pendek. Bagaimana kelanjutan kisah Panjul. Tunggu di episode selanjutnya.*** [Episode V: Ketika Panjul CLBK]


Lereng Merapi.24.03.2015


Ragil Nugroho

Tikus Merah

Pencemooh berhati lembut. Berkebun dan bercocok tanam. Membakar sampah. Makan makanan bergizi.

0 comments:

Posting Komentar